Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Sebi Daily

Media Sosial: Ruang Ekspresi atau Ruang Erosi Etika

Eduaksi | 2026-02-12 11:23:26
Ilustrasi Sosial Media. Foto: Bastian/Pexels.

Oleh: Tiara Adawiah_Mahasiswa Institut SEBI.

Media sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan pelajar dan mahasiswa. Melalui berbagai platform digital, setiap individu dapat mengekspresikan pandangan, membagikan pengalaman, serta membangun relasi sosial tanpa batas ruang dan waktu. Kebebasan berbicara di ruang digital membuka peluang besar bagi berkembangnya kreativitas, literasi informasi, dan partisipasi generasi muda dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, di balik peluang tersebut, tersimpan tantangan serius yang berkaitan dengan etika komunikasi.

Fenomena ujaran kebencian, perundungan siber, penyebaran berita palsu, hingga budaya saling menjatuhkan menunjukkan bahwa ruang berekspresi kerap kehilangan batas etisnya. Arus informasi yang bergerak begitu cepat sering membuat pengguna bereaksi tanpa pertimbangan matang. Akibatnya, nilai kesopanan, empati, dan tanggung jawab sosial perlahan memudar di ruang digital.

Media Sosial sebagai Ruang Ekspresi

Sebagai ruang ekspresi, media sosial memberi kesempatan luas bagi generasi muda untuk menyampaikan ide, kritik, dan aspirasi. Mahasiswa dapat berdiskusi mengenai isu sosial, pendidikan, maupun kemanusiaan. Pelajar dapat menyalurkan kreativitas melalui tulisan, gambar, atau video edukatif. Dalam konteks ini, media sosial menjadi sarana partisipasi publik yang memperluas suara generasi muda.

Selain itu, media sosial juga berperan sebagai ruang belajar alternatif. Beragam konten edukatif, kelas daring singkat, dan komunitas belajar tumbuh pesat. Jika dimanfaatkan secara bijak, media sosial mampu memperluas wawasan, meningkatkan kepedulian sosial, serta mendorong kolaborasi antarpelajar dari berbagai latar belakang.

Erosi Etika di Ruang Digital

Di balik manfaat tersebut, media sosial juga menyimpan risiko penurunan etika komunikasi. Anonimitas dan jarak sosial kerap membuat sebagian pengguna merasa bebas melontarkan pernyataan yang tidak pantas. Komentar kasar, penyebaran informasi tanpa verifikasi, serta perilaku mengejar viralitas tanpa mempertimbangkan dampak menjadi persoalan yang semakin nyata. Kebiasaan ini dapat membentuk pola komunikasi yang agresif dan minim empati.

Tekanan untuk tampil populer dan diakui juga mendorong sebagian individu mengorbankan etika demi perhatian. Konten sensasional sering kali lebih cepat menarik respons, meskipun tidak selalu membawa nilai positif. Jika kondisi ini dibiarkan, media sosial berisiko kehilangan fungsinya sebagai ruang edukasi dan dialog, serta justru memperlebar polarisasi sosial.

Literasi Digital sebagai Solusi

Menghadapi tantangan tersebut, literasi digital menjadi kunci penting dalam menyeimbangkan kebebasan berekspresi dengan tanggung jawab etis. Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis menggunakan platform, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis, memverifikasi informasi, serta memahami dampak sosial dari setiap unggahan.

Dengan literasi yang baik, pengguna mampu memilah informasi, menghindari provokasi, dan berpartisipasi secara sehat dalam diskusi daring. Peran keluarga dan institusi pendidikan sangat penting dalam menanamkan etika bermedia sosial. Keteladanan, dialog terbuka, dan pembiasaan komunikasi yang santun perlu dibangun agar generasi muda memiliki kompas moral saat berinteraksi di dunia maya. Dengan demikian, media sosial dapat kembali berfungsi sebagai ruang dialog yang konstruktif.

Pada dasarnya, media sosial adalah ruang ekspresi yang netral; dampaknya sangat bergantung pada cara penggunanya berinteraksi. Ketika kebebasan berbicara tidak diimbangi dengan tanggung jawab etis, ruang digital berisiko menjadi tempat merosotnya nilai-nilai sosial. Oleh karena itu, pelajar dan mahasiswa perlu membangun kesadaran kolektif untuk menggunakan media sosial secara bijak, santun, dan bertanggung jawab.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image