Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Diva Aisah Maharani

100 ke 0: Bagaimana Cinta Laki-laki Berubah

Khazanah | 2026-02-12 13:08:47

Dalam khazanah kehidupan, tidak ada yang benar-benar tetap—termasuk cinta. Apa yang hari ini terasa penuh, esok bisa terasa kosong. “100 ke 0” bukan sekadar angka, melainkan gambaran tentang bagaimana perasaan manusia bisa berubah, bahkan tanpa aba-aba yang jelas.

Sering kali kita bertanya, mengapa cinta laki-laki terlihat cepat berubah: awalnya 100, penuh perhatian, penuh usaha, penuh kata-kata manis. Lalu perlahan, atau bahkan tiba-tiba, menjadi 0—dingin, jauh, dan tak lagi menunjukkan antusiasme yang sama. Namun jika ditarik lebih dalam, perubahan itu bukan sekadar tentang laki-laki. Ia adalah bagian dari khazanah pengalaman emosional manusia.

Dalam fase 100, biasanya cinta masih dipenuhi idealisasi. Segalanya terasa baru. Kekurangan masih bisa ditoleransi, perbedaan masih dianggap lucu, dan effort terasa ringan karena dorongan emosi masih tinggi. Pada tahap ini, rasa menggebu sering disamakan dengan ketulusan yang abadi.

Namun kehidupan tidak hanya berisi fase awal yang indah. Seiring waktu, laki laki makin sadar dan banyak dihadapkan oleh realita kehidupan. Ego muncul. Ekspektasi yang tidak terpenuhi perlahan menumpuk. Komunikasi yang tidak tuntas berubah menjadi jarak. Di sinilah angka mulai menurun. Bukan karena cinta selalu palsu sejak awal, tetapi karena cinta tanpa kedewasaan mudah terkikis oleh keadaan. Yang pada dasar nya ini hanya soal waktu. Perlahan semua berbeda.

Khazanah kehidupan mengajarkan bahwa manusia tidak hanya digerakkan oleh rasa, tetapi juga oleh luka, gengsi, tekanan, dan pengalaman masa lalu. Ada laki-laki yang ketika kecewa memilih diam. Ada yang ketika merasa tidak dihargai memilih menarik diri. Ada pula yang tidak tahu cara mempertahankan rasa selain dengan menjauh saat lelah.

Perubahan dari 100 ke 0 sering terlihat tiba-tiba, padahal sebenarnya ia adalah akumulasi dari hal-hal kecil yang tidak diselesaikan. Ia memudar sedikit demi sedikit, tersisih oleh ego yang tak mau mengalah, atau oleh kelelahan yang tak pernah dibicarakan.

Namun dari sini, kehidupan juga menyimpan pelajaran. Bahwa cinta bukan hanya soal intensitas di awal, tetapi tentang konsistensi setelah euforia reda. Bahwa mempertahankan jauh lebih sulit daripada mendapatkan. Dan bahwa tidak semua 0 berarti benar-benar tidak ada rasa—kadang itu hanya bentuk pertahanan diri.

Pada akhirnya, “100 ke 0” bukan sekadar cerita tentang laki-laki yang berubah. Ia adalah refleksi tentang dinamika manusia dalam menjalani hubungan. Dalam khazanah kehidupan, setiap rasa yang datang dan pergi tetap memiliki makna. Ada yang menguatkan, ada yang mendewasakan, dan ada yang mengajarkan bahwa cinta membutuhkan lebih dari sekadar perasaan—ia membutuhkan kesadaran, komunikasi, dan keberanian untuk tetap tinggal.

Karena dalam hidup, yang membuat cinta bertahan bukanlah seberapa tinggi ia pernah berada, tetapi seberapa siap dua orang menjaganya ketika angka mulai turun.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image