Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Wahyuddin Luthfi Abdullah

Marhaban: Melapangkan Hati atau Sekadar Polusi?

Khazanah | 2026-02-11 18:19:33

Menjelang Ramadan, ruang publik kita biasanya akan mendadak riuh oleh kata ”Marhaban” atau ucapan penyambutan dan selamat berpuasa lainnya. Ia muncul di spanduk-spanduk, berkedip di baliho digital, hingga memenuhi notifikasi grup WhatsApp dengan stiker permohonan maaf yang seringkali dikirim secara massal tanpa rasa. Namun, di tengah kepungan kata tersebut, kita justru menyaksikan sebuah paradoks: batin yang tetap terasa sempit, emosi kemarahan yang mudah tersulut, dan kegembiraan yang terasa artifisial bagaikan polusi di tengah hampa spiritual.

Banyak dari kita yang masuk ke gerbang Ramadan dengan "kegembiraan palsu". Kita merayakan suasananya, bukan substansinya. Kita sibuk dengan persiapan fisik dari stok pangan hingga baju baru namun membiarkan lahan hati tetap penuh dengan kuman, gulma ego, dan dendam. Kita berteriak "Selamat Datang", padahal dalam diam, batin kita merasa terancam oleh ritual yang dianggap membatasi hasrat dan kenyamanan duniawi.

Gugatan Semantik: Marhaban itu Kata Kerja

Mari kita menepi dari keriuhan visual ini dan membuka kembali salah satu lembaran otoritatif dalam Al-Munjid fil Lughah. Secara semantik, kata Marhaban berakar dari Ra-Ha-Ba (ر ح ب). Penelusuran secara harfiah menunjukkan makna yang dalam: Ittasa’a (menjadi luas) dan Wassa’ahu (meluaskannya).

Di sini letak masalahnya. "Marhaban" bagi kebanyakan kita telah bergeser menjadi sekadar kata benda sebuah hiasan bibir atau sekadar gerak di ujung jari. Padahal, ia seharusnya menjadi kata kerja: sebuah upaya aktif untuk Wassa’ahu, yakni meluaskan ruang di dalam dada. Bagaimana mungkin Ramadan yang agung bisa "bertamu" jika rumah batin kita sudah penuh sesak oleh candu screen time, ambisi yang meledak-ledak, dan kesempitan berpikir?

Menyambut Ramadan tanpa persiapan batin adalah sebuah kenaifan. Jika kita merujuk pada Mu’jam, penyambutan yang benar adalah Ahsanul Istiqbal (penyambutan terbaik). Standar terbaik ini menuntut karakter Kariimun (mulia) dan Thowiilus Shobr (kesabaran yang panjang). Tanpa itu, Ramadan hanya akan menjadi rutinitas yang melelahkan.

Ironi At-Taubah 118: Bumi yang Luas Terasa Sempit

Kritik paling menohok tentang fenomena ini sebenarnya telah diabadikan dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 118. Allah ﷻ menggambarkan sebuah kondisi:

حَتّٰٓى اِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْاَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ اَنْفُسُهُمْ

“...hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun (terasa) sempit bagi mereka.”

Secara bahasa, kata Rahubat dalam ayat tersebut berakar sama dengan Marhaban. Ayat ini memberikan peringatan keras bahwa seberapa luas pun rahmat yang Allah ﷻ bentangkan di bulan Ramadan (sebagai Al ardu al wasi’ah), ia tidak akan pernah bisa dirasakan jika jiwa kita sedang Dhaaqat (sempit).

Inilah salah satu alasan mengapa banyak orang yang berpuasa namun tetap pemarah, beribadah namun tetap kikir, dan ber-Marhaban namun tetap merasa terbebani. Mereka memiliki akses ke "bumi yang luas" bernama Ramadan, namun jiwa mereka terkurung dalam labirin kesempitan karena enggan bertaubat dan membersihkan hati sebelum masuk ke dalamnya. Mereka tertinggal dari rombongan kemuliaan, persis seperti analogi sejarah yang melatari turunnya ayat tersebut.

Menagih "Nafas Panjang" Spiritual

Dalam Al-Munjid, salah satu makna turunan dari Rahb adalah Rahbu Shadr yang berarti Thowiilul Inaah: memiliki nafas yang panjang atau kesabaran yang luas. Di era disrupsi digital seperti sekarang, "nafas panjang" inilah yang hilang. Kita menjadi generasi yang impulsif, yang "kapasitas memorinya" habis hanya untuk mengunyah informasi receh (jika tidak ingin menyebutnya sampah) di layar gawai.

Akibatnya, kita tidak punya lagi sisa ruang untuk ber-At-Tarhaab (berdoa memohon keluasan batin). Kita masuk ke Ramadan dengan nafas yang tersengal-sengal. Tanpa persiapan (Tarhib) yang matang, kita seperti peserta lari maraton yang mencoba berlari tanpa pernah melatih otot kaki.

Sudah saatnya kita berhenti memperlakukan Ramadan sebagai beban tahunan atau sekadar formalitas komunikasi. Sebetulnya, Ramadan tidak membutuhkan sambutan meriah kita, namun justru kitalah yang butuh kelapangan Ramadan untuk membasuh kekerdilan dan kesempitan jiwa kita.

Jadikan hari-hari menjelang Ramadan ini sebagai momentum untuk melakukan penyucian batin. Buang sampah-sampah emosi agar dada kita kembali Rahbu Shadr. Sebab, hanya hati yang lapanglah yang mampu menangkap cahaya, sementara hati yang sempit hanya akan menghasilkan keluhan.

Selamat melapangkan hati. Jangan biarkan lisanmu berkata Marhaban, sementara batinmu justru bertanya: "Kapan ia akan berlalu?"

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image