Tradisi, Spirit, dan Harapan dalam Bingkai Tarhib Ramadhan
Agama | 2026-02-08 22:06:55Bantul --
Ilustrasi gambar : Tarhib Ramadhan bukan sekadar seremonial, tetapi langkah awal menyiapkan hati menyambut bulan penuh ampunan dan keberkahan.
Ramadhan merupakan bulan istimewa dalam Islam. Kedatangannya selalu disambut dengan penuh kegembiraan oleh kaum muslimin dunia karena Ramadhan sebagai bulan yang penuh cahaya, didalamnya terdapat limpahan rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Tradisi menyambut Ramadhan dikenal dengan istilah Tarhib Ramadhan.
Secara etimologis, kata tarhib berasal dari kata bahasa Arab: rahhaba–yurahhibu (رَحَّبَ – يُرَحِّبُ) yang berarti menyambut dengan senang hati, lapang dada dan penuh kegembiraan. Secara terminologis, Tarhib Ramadhan adalah upaya mempersiapkan diri secara spiritual, moral, dan sosial untuk memasuki bulan suci Ramadhan.
Dalam konteks keislaman, Tarhib Ramadhan dimaknai sebagai upaya kolektif umat Islam dalam menyiapkan diri secara spiritual, moral, dan sosial untuk memasuki bulan Ramadhan. Meskipun istilah kata “Tarhib” tersebut tidak ditemukan secara eksplisit dalam Al-Qur’an, praktik menyambut Ramadhan memiliki dasar normatif yang kuat dalam nash Al-Qur’an dan hadis Nabi SAW.
Secara teologis, Ramadhan adalah bulan yang memiliki keistimewaan karena didalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia (QS. Al-Baqarah: 185). Ayat ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukan sekadar momentum ritual, tetapi juga fase transformatif bagi individu dan masyarakat. Oleh karena itu, Tarhib Ramadhan dapat dipahami sebagai tahap pra-kondisi spiritual (spiritual preparation) agar seorang muslim mampu menjalankan ibadah puasa dan amal saleh secara optimal. Dalam perspektif psikologi agama, kesiapan mental dan niat yang benar akan berpengaruh signifikan terhadap kualitas praktik ibadah.
Dari sisi hadis, Rasulullah SAW. biasa memberi kabar gembira kepada para sahabat ketika Ramadhan akan datang. Dalam hadis riwayat An-Nasa’i dan Ahmad disebutkan:
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Allah SWT. mewajibkan atas kalian berpuasa didalamnya ”
Hadis ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tentang datangnya Ramadhan memiliki dimensi edukatif dan motivatif. Dengan demikian, Tarhib Ramadhan berfungsi sebagai media dakwah untuk membangun kesadaran kolektif tentang nilai dan tujuan ibadah puasa.
Secara sosiologis, Tarhib Ramadhan berkembang sebagai tradisi religius yang memadukan aspek ibadah dan budaya. Kegiatan seperti pengajian, pawai, spanduk, dan tausiyah menjelang Ramadhan merupakan bentuk internalisasi nilai-nilai agama dalam ruang sosial. Tradisi ini berfungsi memperkuat identitas keislaman sekaligus mempererat ukhuwah di tengah masyarakat. Dalam kajian antropologi agama, tradisi semacam ini berperan sebagai simbol transisi (rite of passage) dari fase kehidupan biasa menuju fase spiritual yang lebih intensif.
Spirit Tarhib Ramadhan terletak pada upaya penyucian diri melalui taubat, muhasabah, dan peningkatan amal saleh. Hal ini sejalan dengan tujuan utama puasa, yaitu membentuk pribadi bertakwa (QS. Al-Baqarah: 183). Tarhib Ramadhan menjadi sarana pedagogis untuk menanamkan nilai disiplin, pengendalian diri, serta kepedulian sosial. Dengan kata lain, ia bukan hanya persiapan ibadah individual, tetapi juga instrumen pembinaan karakter umat.
Sebuah harapan dari Tarhib Ramadhan adalah terwujudnya masyarakat yang lebih religius, etis, dan harmonis selama dan setelah Ramadhan. Idealnya, nilai-nilai yang ditanamkan dalam fase tarhib tidak berhenti pada bulan Ramadhan saja, tetapi berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Dari sudut pandang pendidikan Islam, Tarhib Ramadhan dapat dipandang sebagai proses awal pembelajaran ruhani (spiritual learning process) yang berorientasi pada perubahan perilaku.
Dengan demikian, Tarhib Ramadhan merupakan fenomena religius yang memiliki dimensi normatif, psikologis, sosiologis, dan pedagogis. Ia bukan sekadar tradisi seremonial, tetapi mekanisme ilmiah-religius untuk membangun kesiapan spiritual dan sosial umat Islam dalam menyambut bulan suci, yang penuh cahaya. Melalui Tarhib Ramadhan, diharapkan Ramadhan tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi menjadi titik balik perbaikan diri dan masyarakat secara berkelanjutan.
اللهم بلغنا رمضان -“Ya Allah, sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.” Aamiin. (Muthmainnah-MAN 3 Bantul)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
