Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Syarifatul Azaliyah, M.Mat

Saat Nilai Menggeser Makna Belajar

Eduaksi | 2026-02-08 08:48:15

Angka sering dipahami sebagai sesuatu yang objektif. Ia tidak berpihak, tidak berprasangka, dan tidak memiliki emosi. Namun di ruang pendidikan, angka kerap memikul makna yang jauh melampaui fungsinya sebagai alat ukur. Ia berubah menjadi simbol pencapaian, pembanding, bahkan penentu nilai diri seorang murid.

Sebagai guru matematika, saya melihat bagaimana angka dari nilai ujian, rata-rata rapor, dan peringkat yang perlahan mengambil alih percakapan tentang belajar. Pertanyaan “sudah paham atau belum?” sering kalah penting dibanding “nilainya berapa?”. Dalam situasi seperti ini, belajar tidak lagi dimaknai sebagai proses memahami, melainkan sebagai upaya memenuhi standar.

Tekanan ini tidak selalu muncul dalam bentuk keluhan. Justru sering hadir dalam bentuk ketenangan yang rapi. Murid tetap mengerjakan tugas, mengikuti instruksi, dan mencapai target yang ditetapkan. Namun di balik keteraturan itu, ada kelelahan mental yang jarang terlihat. Murid belajar dengan kewaspadaan tinggi, menjaga performa, dan terus membandingkan diri dengan capaian orang lain.

Di sekolah dengan ekspektasi akademik yang tinggi, angka menjadi bahasa utama keberhasilan. Tanpa disadari, murid mulai mengidentifikasi dirinya melalui capaian numerik. Ketika hasil menurun, kepercayaan diri ikut goyah. Ketika hasil tinggi, muncul kecemasan untuk mempertahankannya. Dalam dua kondisi ini, angka tetap bekerja sebagai tekanan.

Matematika, sebagai disiplin yang menuntut ketepatan dan konsistensi, sering kali berada di garis depan tekanan tersebut. Padahal, di balik kepastian hasil, proses berpikir matematika justru penuh dengan pencarian, percobaan, dan ketekunan. Ketika proses ini tereduksi oleh tuntutan hasil, murid kehilangan kesempatan untuk menikmati makna belajar itu sendiri.

Dalam perspektif Islam, ilmu seharusnya membawa ketenangan, bukan kegelisahan. Menuntut ilmu adalah ibadah yang bertujuan mendekatkan manusia pada hikmah dan keseimbangan jiwa. Ketika proses belajar justru menumbuhkan kecemasan berlebih, ada yang perlu ditinjau ulang, tidak hanya pada muridnya semata, tetapi juga pada cara kita memaknai keberhasilan.

Guru memiliki peran penting dalam membingkai ulang makna angka. Nilai dapat tetap diberikan, evaluasi tetap dijalankan, namun angka tidak harus menjadi pusat identitas murid. Ketika guru membuka ruang dialog, menghargai usaha, dan menempatkan capaian sebagai bagian dari proses, tekanan dapat bertransformasi menjadi motivasi yang sehat.

Kesehatan mental murid tidak selalu berkaitan dengan kegagalan. Ia sering kali justru tergerus oleh tuntutan untuk selalu memenuhi ekspektasi. Murid yang terus berada dalam tekanan performa berisiko kehilangan kegembiraan belajar dan hubungan yang sehat dengan ilmu.

Angka tidak pernah salah. Namun cara kita menempatkannya bisa melukai atau menguatkan. Ketika angka dijadikan pusat dari seluruh pengalaman belajar, murid perlahan kehilangan ruang untuk bernapas. Belajar berubah menjadi rutinitas performa, bukan perjalanan makna.

Tugas pendidikan bukan meniadakan standar, melainkan menjaga agar standar tidak menggerus kemanusiaan. Di ruang kelas, keseimbangan itu hadir melalui cara guru memandang murid, bukan sebagai angka berjalan, tetapi sebagai manusia yang sedang bertumbuh. Dari sanalah pendidikan menemukan kembali wajahnya, yaitu menumbuhkan, bukan menekan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image