Sindrom Metabolik: Mekanisme, Dampak Kesehatan, dan Peran Gaya Hidup dalam Pencegahan
Eduaksi | 2026-02-07 10:32:46
Sindrom metabolik adalah kondisi klinis yang melibatkan berbagai gangguan metabolik seperti hiperglikemia, dislipidemia, hipertensi, dan kegemukan di area perut. Sindrom ini tergolong kedalam kelompok faktor risiko kardiometabolik yang ditandai oleh obesitas di bagian tengah tubuh, peningkatan tekanan darah, kadar gula darah yang tinggi, kenaikan trigliserida, serta rendahnya kolesterol lipoprotein densitas tinggi (HDL-C) (Engin, 2017; Grundy, 2016). Di Indonesia, terdapat dua provinsi yang menunjukan prevalensi sindrom metabolik lebih dari 30%, yaitu Jakarta dan Kalimantan Timur (Manaf et al., 2021). Prevalensi sindrom metabolik pada remaja berdasarkan kriteria NCEP ATP-III sebesar 50,4% dan prevalensinya lebih tinggi pada remaja laki-laki daripada remaja perempuan (Christijani., 2019).
Sindrom metabolik adalah isu kesehatan masyarakat yang cukup serius karena kondisi ini tidak hanya meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2, tetapi juga berpengaruh terhadap produktivitas serta kualitas hidup seseorang. Peningkatan insidennya di berbagai kelompok umur, termasuk di kalangan anak muda, menunjukkan adanya perubahan dalam gaya hidup modern seperti pola makan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik, yang pada gilirannya memperburuk beban penyakit tidak menular di Indonesia. Penting untuk melakukan penanganan awal melalui deteksi serta intervensi gaya hidup untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas yang disebabkan oleh komplikasi sindrom metabolik (Khairani et al., 2019).
Pada kondisi normal, insulin berfungsi seperti kunci yang membantu glukosa masuk ke dalam sel agar bisa digunakan sebagai energi. Namun pada penderita resistensi insulin, kunci ini tidak lagi bekerja dengan baik. Meskipun insulin masih diproduksi, sel-sel tubuh tidak meresponsnya secara normal. Menjelaskan bahwa masalah utama terjadi di dalam sel, yaitu pada jalur komunikasi yang seharusnya menyampaikan sinyal insulin. Jalur ini terganggu akibat peradangan ringan yang berlangsung lama, stres di dalam sel, serta penumpukan lemak di jaringan tertentu. Akibatnya, pesan dari insulin tidak sampai dengan baik, sehingga sel "bersikap seolah-olah" insulin tidak ada. Kondisi ini menyebabkan tubuh harus memproduksi insulin lebih banyak untuk mendapatkan efek yang sama. Lama-kelamaan, sistem ini menjadi tidak efisien dan memicu gangguan metabolik yang lebih serius (Gutiérrez- Rodelo et al., 2017).
Gangguan metabolisme glukosa terjadi sebagai akibat langsung dari resistensi insulin. Ketika insulin tidak bekerja dengan baik, glukosa yang berasal dari makanan tidak bisa masuk ke dalam sel, terutama sel otot dan jaringan lemak. Akibatnya, glukosa tetap berada di dalam darah dan menyebabkan kadar gula darah meningkat.Selain itu, insulin normalnya berfungsi menahan hati agar tidak memproduksi glukosa berlebihan. Namun karena sel hati juga menjadi tidak sensitif terhadap insulin, hati terus menghasilkan glukosa meskipun kadar gula darah sudah tinggi. Menjelaskan bahwa kombinasi antara glukosa yang tidak digunakan oleh sel dan produksi glukosa yang terus berjalan di hati menyebabkan gula darah tetap tinggi dalam jangka panjang. Inilah yang menjadi dasar terjadinya hiperglikemia dan diabetes tipe 2 (Lee et al., 2022).
Lemak viseral adalah lemak yang menumpuk di sekitar organ dalam, terutama di daerah perut. Jurnal ini menjelaskan bahwa lemak jenis ini bukan lemak pasif, tetapi sangat aktif dan dapat memengaruhi kesehatan tubuh. Lemak viseral menghasilkan berbagai zat pemicu peradangan. Zat-zat ini menyebar ke seluruh tubuh dan mengganggu cara kerja insulin. Akibatnya, sel-sel tubuh menjadi semakin sulit merespons insulin dengan baik. Peradangan yang berasal dari lemak viseral ini tidak hanya terjadi di satu tempat, tetapi berdampak ke organ lain seperti hati dan otot. Karena itu, semakin banyak lemak viseral yang dimiliki seseorang, semakin besar risiko terjadinya resistensi insulin dan gangguan gula darah (Herman et al., 2022).
Metabolisme energi adalah proses biologis yang melibatkan pemanfaatan energi dan produksi energi terutama dari glukosa dan asam lemak untuk membentuk ATP yang merupakan energi yang siap digunakan oleh sel. Metabolisme juga melibatkan serangkaian reaksi kimia di dalam sel untuk menghasilkan, menyimpan, dan menggunakan energi yang berkaitan erat dengan makanan, lalu mengubahnya menjadi energi yang dibutuhkan untuk berbagai aktivitas. Metabolisme dibagi menjadi dua, yaitu katabolisme dan anabolisme. Metabolisme energi dikendalikan oleh hormon seperti insulin, glukagon, dan adrenalin yang mengatur proses katabolik dan anabolik. Proses metabolisme tubuh membutuhkan bahan bakar (input) dan produk (output) yaitu berupa lemak atau lipid. Lipid ini merupakan salah satu senyawa organik yang ada di dalam setiap tubuh makhluk hidup yang mempunyai peran penting (Zainal, 2025).
Trigliserida adalah jenis lemak atau lipid yang ditemukan dalam darah dan berfungsi sebagai sumber utama energi dalam tubuh, trigliserida merupakan senyawa gliserol yang nantinya akan berkaitan dengan tiga jenis asam lemak, contohnya lemak dan minyak. Setelah makan, tubuh mengubah kalori yang tidak secara langsung digunakan menjadi trigliserida yang kemudian disimpan dalam jaringan lemak untuk digunakan sebagai energi di kemudian hari. Ketika asupan kalori berlebih maka senyawa karbohidrat dan lemak jenuh yang akan meningkatan produksi trigliserida dalam hati. Penanganan kadar trigliserida tinggi biasanya meliputi perubahan gaya hidup seperti diet rendah lemak dan peningkatan pada aktivitas fisik.
Sindrom metabolik sebagaian besar merupakan hasil dari ketidakseimbangan energi atau ketidakseimbangan asupan energi dengan asupan energi yang dikeluarkan dari makanan.
Ketidakseimbangan ini disebabkan oleh diet yang penuh kalori, terutama tinggi gula sederhana dan lemak jenuh serta sangat sedikit aktivitas fisik (Hernandez et al., 2020). Akibatnya terjadi penumpukkan lemak, terutama di area organ internal. Ketidakseimbangan metabolik sering kali disebabkan kerika asupan dan penggunaan energi bertentangan, asupan kalori lebih besar dari kebutuhan energi, kelebihan asupan energi akan disimpan sebagai lemak dalam sel lemak tubuh. Kekurangan energi jangka panjang juga dapat menyebabkan masalah metabolik karena tubuh mulai memecah jaringan untuk mendapatkan energi. Hal ini menyebabkan hiperglikemia dengan kelebihan energi yang disimpan dalam bentuk glukosa yang tidak terpakai.
Salah satu faktor yang membuat sindrom metabolik semakin memburuk adalah stres oksidatif dan peradangan ringan yang terjadi secara perlahan di dalam tubuh. Stres oksidatif terjadi ketika jumlah radikal bebas atau Reactive Oxygen Species (ROS) melebihi kemampuan sistem antioksidan sehingga tubuh kesulitan menetralisirnya. Kondisi seperti kadar gula darah dan lemak darah tinggi serta obesitas dapat memicu peningkatan radikal bebas pada penderita sindrom metabolik. Jika hal ini berlangsung lama, radikal bebas dapat merusak sel-sel penting dalam tubuh.
Akibatnya, fungsi pembuluh darah dapat terganggu dan risiko berbagai penyakit kronis meningkat. Selain itu, sindrom metabolik juga disertai dengan peradangan ringan yang dipicu oleh penumpukan lemak di bagian perut. Pada obesitas, jaringan lemak dapat menghasilkan zat pemicu peradangan yang mengganggu kerja hormon insulin. Ketika stres oksidatif dan peradangan terjadi secara bersamaan, tubuh menjadi semakin sulit mengontrol kadar gula darah, produksi energi dalam sel menurun, dan risiko diabetes tipe 2 serta penyakit jantung meningkat (Zheng et al., 2025; Hachiya, et al., 2022).
Risiko terjadinya Diabetes Mellitus Tipe 2 dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, terutama usia dan riwayat keluarga. Peningkatan usia berhubungan erat dengan menurunnya fungsi metabolisme tubuh serta sensitivitas insulin, sehingga individu usia dewasa hingga lanjut lebih rentan mengalami diabetes tipe 2. Selain itu, riwayat keluarga dengan diabetes menjadi faktor risiko yang signifikan karena adanya pengaruh genetik yang dapat meningkatkan kecenderungan gangguan regulasi kadar glukosa darah. Individu yang memiliki orang tua atau anggota keluarga dekat penderita diabetes memiliki peluang lebih besar untuk mengalami penyakit yang sama. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor yang tidak dapat dimodifikasi, seperti usia dan genetik, berperan penting dalam kejadian diabetes tipe 2, sehingga diperlukan upaya pencegahan melalui deteksi dini dan pengendalian faktor risiko lain yang dapat dimodifikasi, seperti pola makan dan aktivitas fisik (Fatma Nuraisyah, 2017).
Penyakit jantung khususnya gagal jantung kongestif memberikan dampak yang signifikan terhadap kualitas hidup pasien. Kondisi ini menyebabkan berbagai gejala fisik seperti kelelahan kronis, sesak napas, dan keterbatasan aktivitas, yang secara langsung menurunkan kemampuan pasien dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Selain dampak fisik, pasien gagal jantung juga mengalami peningkatan frekuensi rawat inap akibat kekambuhan dan komplikasi penyakit, sehingga memperburuk kondisi kesehatan secara keseluruhan (Siallagan, A.M 2021).
Sindrom metabolik memberikan dampak yang signifikan terhadap kualitas hidup wanita usia subur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita yang mengalami sindrom metabolik cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami kondisi tersebut. Penurunan kualitas hidup terutama berkaitan dengan gangguan pada aspek fisik, seperti keterbatasan aktivitas, kelelahan, serta keluhan kesehatan yang berhubungan dengan komponen sindrom metabolik, termasuk obesitas sentral, hipertensi, dan gangguan metabolisme glukosa. Selain itu, kondisi ini juga berpotensi memengaruhi aspek psikologis dan sosial, seperti menurunnya rasa percaya diri dan produktivitas sehari-hari (Trisnawati, A. 2022).
Pola makan dan pola hidup sehat mempunyai peran penting untuk menjaga kesehatan penderita sindrom metabolik. Penataan waktu makan, seperti intermittent fasting atau lebih dikenal dengan IF, bisa membantu badan menggunakan energi dengan lebih efisien dan meningkatkan sensitivitas insulin hingga kadar gula darah dan tekanan darah menjadi lebih terkontrol. Tetapi, strategi ini tidak mandiri dan harus dikombinasikan dengan pola makan yang sehat dan olahraga yang rutin supaya memberikan hasil yang baik dan juga optimal (Yi et al., 2025).
Pengaplikasian perubahan sederhana dan dilakukan secara terus-menerus seperti mengatur jam makan, memilih cara memasak yang lebih sehat dan rajin berolahraga ringan maka dinilai lebih realistis dan akan bisa dipertahankan dalam jangka waktu panjang. Pengaplikasian ini terpercaya membantu memperbaiki kontrol glikemik dan faktor risiko metabolik pada penderita sindrom metabolik.
DAFTAR PUSTAKA
Christijani, R. (2019). Penentuan diagnosis sindrom metabolik berdasarkan penilaian skor sindrom metabolik dan NCEP ATP-III pada remaja (penelitian di beberapa SMA di Kota Bogor). Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research), 42(1), 21-28.
Engin, A. (2017). Definition and prevalence of obesity and metabolic syndrome. Advances in Experimental Medicine and Biology, 960, 1–17.
Fatma Nuraisyah. (2017). Faktor risiko diabetes mellitus tipe 2. Jurnal Kebidanan & Keperawatan Aisyiyah, 13(2), 120-128.
Grundy, S. M. (2016). Metabolic syndrome update. Trends in Cardiovascular Medicine, 26(4), 364–373.
Gutiérrez-Rodelo, C., Roura-Guiberna, A., & Olivares-Reyes, J. A. (2017). Molecular mechanisms of insulin resistance: An update. Gaceta Médica de México, 153(2), 197-209.
Hachiya, R., Tanaka, M., Itoh, M., & Suganami, T. (2022). Molecular mechanism of crosstalk between immune and metabolic systems in metabolic syndrome. Inflammation and Regeneration, 42, Article 13.
Herman, R., Kravos, N. A., Jensterle, M., Janež, A., & Dolžan, V. (2022). Metformin and insulin resistance: A review of the underlying mechanisms behind changes in GLUT4-mediated glucose transport. International Journal of Molecular Sciences, 23(3), 1264.
Hernandez, M., Torres, A., & Ramirez, D. (2020). Energy imbalance and metabolic syndrome: Molecular and clinical perspectives. International Journal Endocrinology, 2020, Article 9848293. of
Khairani, A. F., Nurhasanah, N., Rahman, P. H. A., Septrina, R., Nurhayati, T., Luftimas, D. E., & Ramdhani, M. F. (2019). The profile of dietary patterns and physical activity in preventing metabolic syndrome. Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga, 4(1), 74–78.
Lee, H., & Kim, S. (2021). Role of triglycerides in metabolic syndrome and cardiovascular risk. Journal of Clinical Lipidology, 15(3), 375–389.
Lee, J. H., Hyung, S., Lee, J., & Choi, S.-H. (2022). Visceral adiposity and systemic inflammation in the obesity paradox in patients with unresectable or metastatic melanoma undergoing immune checkpoint inhibitor therapy: A retrospective cohort study. Journal for Immuno Therapy of Cancer, 10, e005226.
Manaf, M. R. A., Nawi, A. M., Tauhid, N. M., Othman, H., Rahman, M. R. A., Yusoff, H. M., Safian, N., Ng, P. Y., Manaf, Z. A., & Kadir, N. B. A. (2021). Prevalence of metabolic syndrome and its associated risk factors among staffs in a Malaysian public university. Scientific Reports, 11(1), 8132.
Siallagan, A. M. (2021). Systematic review: Kualitas hidup pasien gagal jantung kongestif. Jurnal Medika: Karya Ilmiah Kesehatan, 6(2).
Smith, J., Anderson, R., & Johnson, M. (2022). Energy metabolism and metabolic syndrome: Pathophysiological insights. Metabolism: Clinical and Experimental, 125, 154857.
Trisnawati, A. (2022). Hubungan antara sindrom metabolik dengan kualitas hidup pada wanita usia subur di wilayah kerja Puskesmas Ponrang Kabupaten Luwu Sulawesi Selatan. Jurnal Kesehatan Luwu Raya, 9(1), 36-40.
Yi, X., Zhang, Y., Liu, J., & Chen, L. (2025). Intermittent fasting and time-restricted eating in cardiometabolic risk management: A systematic review and meta-analysis. Indonesian Journal of General Medicine, 14(1), 217- 226.
Zheng, L., Zeng, A., Tian, W., Wang, R., Zhang, L., Hua, H., & Zhao, J. (2025). Metabolic syndrome: Molecular mechanisms and therapeutic interventions. Molecular Biomedicine, 6, Article 59.
Penulis:
Mahasiswa Ilmu Gizi, Universitas Esa Unggul
Athena Al Fathania
: 20240302033
Nayla Haidar Riswan : 20240302039
Cantika Maharani Pandia
: 20240302047
Bella Nuraya Pasha
: 20240302076
Nazwa Rahmadania : 20240302090
Darathadiya Mentari
: 20240302100
Tugas PBL Mata Kuliah Biokimia Gizi
Dosen Pengampu: Reza Fadhilla, S.TP, M.Si
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
