Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Wahyuddin Luthfi Abdullah

Menyiapkan Napas Panjang di Lintasan Spiritual

Agama | 2026-02-06 18:27:59

Bulan Sya’ban sering kali terjebak dalam paradoks kelalaian kolektif. Terhimpit di antara kemuliaan bulan Rajab dan kesucian Ramadhan, nabi secara lugas mengingatkan bahwa Sya’ban adalah waktu di mana mayoritas manusia cenderung abai dan lalai. Padahal, jika kita merujuk pada landasan teologis dalam Surah Al-Hasyr ayat 18,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

”Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan”.

Allah ﷻ telah menyeru orang-orang beriman untuk senantiasa bertakwa dan memiliki ketajaman visi dalam memperhatikan persiapan untuk "hari esok". Perintah ini bukan sekadar anjuran moral, melainkan sebuah instruksi strategis untuk melakukan kalkulasi matang terhadap apa yang akan kita hadapi di masa depan.

Secara semantik, kata ghad (esok) dalam ayat tersebut memiliki spektrum makna yang sangat luas. Merujuk pada kamus Al-Munjid fil Lughah, ghad tidak hanya merujuk pada dimensi eskatologis seperti hari kiamat atau akhirat, tetapi juga mengandung arti inthalaqa (berangkat) dan shaara (menjadi). Makna ini mengisyaratkan bahwa esok bukan sekadar waktu yang pasif, melainkan sebuah proses transisi untuk "berangkat" melakukan perubahan agar kita benar-benar "menjadi" pribadi yang lebih siap. Dalam konteks kamus Al-Munawwir, istilah ini diidentifikasi sebagai sesuatu yang akan datang (al-majiiu). Maka, persiapan untuk "hari esok" mencakup kesiapan mental, fisik, dan spiritual dalam menyambut setiap momentum penting, termasuk kehadiran bulan suci Ramadhan. Nabi Muhammad ﷺ mendefinisikan kecerdasan seseorang melalui kemampuannya melakukan persiapan terhadap segala sesuatu yang belum terjadi, terutama perjalanan panjang menuju kematian.

Untuk memahami urgensi Sya’ban, kita dapat menggunakan analogi lari maraton. Ramadhan bukanlah sprint atau lari jarak pendek yang hanya mengandalkan kekuatan sesaat di garis start. Realitas sosiologis menunjukkan bahwa banyak umat Islam yang mengawali Ramadhan dengan antusiasme tinggi, namun perlahan "tumbang" atau kehilangan stamina saat memasuki pertengahan bulan. Hal ini terjadi karena mereka masuk ke arena Ramadhan tanpa proses pengondisian (conditioning) yang memadai di bulan Sya’ban. Sesungguhnya, keberhasilan mencapai garis finis Ramadhan bukan ditentukan oleh ledakan energi di awal, melainkan oleh "daya tahan" spiritual yang telah dilatih jauh-jauh hari.

Langkah pertama dalam membangun daya tahan tersebut adalah dengan meningkatkan kualitas ibadah kolektif melalui shalat berjamaah. Sya’ban seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat shalat fardu berjamaah dan mempercantik sunnah-sunnah pengiringnya, mengingat kuantitas dan kualitas shalat di bulan Ramadhan akan meningkat tajam. Secara matematis, shalat berjamaah menawarkan efisiensi pahala hingga 25 - 27 kali lipat, di mana jika lima waktu dilakukan secara berjamaah, seorang muslim mampu mengumpulkan 135 poin dibandingkan hanya 5 poin jika shalat sendirian. Urgensi ini semakin kuat jika meninjau riwayat Utsman bahwa setiap langkah menuju masjid dicatat sebagai kebaikan dan ampunan, serta keutamaan shalat isya’ dan shubuh berjamaah yang setara dengan ibadah malam sepenuhnya sekaligus mendatangkan cahaya serta pertolongan sempurna di hari kiamat.

Penegasan ini selaras dengan yang disampaikan oleh Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, di mana para imam mazhab menempatkan hukum shalat jamaah mulai dari sunnah muakkadah, fardhu kifayah, hingga wajib 'ain. Nampaknya, kita perlu merekonstruksi pemahaman mengenai sunnah terlebih sunnah muakkadah yang selama ini dianggap "boleh ditinggalkan", menjadi sebuah peluang keuntungan besar yang sangat merugi jika dilewatkan begitu saja.

Lebih jauh lagi, Abu Suleiman Ad-Darani dalam kitab Ihya Ulumuddin memberikan refleksi mendalam bahwa kegagalan seseorang dalam melaksanakan ibadah sering kali berakar dari kesia-siaan serta dosa yang masih dan sering diakukan. Oleh karena itu, puasa sunnah di bulan Sya’ban menjadi sangat krusial sebagai masa transisi atau pengondisian metabolisme tubuh dan jiwa agar tidak mengalami kejutan biologis (biological shock) saat fajar pertama Ramadhan tiba. Tradisi Nabi ﷺ yang memperbanyak puasa di bulan ini sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah RA dan Usama bin Zaid merupakan bentuk latihan nyata agar fisik dan batin terbiasa, sekaligus sarana agar amal dilaporkan kepada Allah ﷻ dalam keadaan sedang berpuasa. Sya’ban menjadi semacam kawah candradimuka bagi mukmin untuk menjinakkan kecenderungan konsumtif dan melatih kontrol diri atas nafsu sebelum "pertempuran" yang sesungguhnya dimulai. Dengan membangun ritme rasa lapar yang terkendali, fokus kita saat memasuki Ramadhan tidak lagi tersita oleh keluhan fisik, melainkan sudah berada dalam frekuensi yang stabil untuk mengejar kualitas ibadah dan kedekatan dengan Allah ﷻ

Terakhir, fondasi utama untuk memasuki Ramadhan dengan sempurna adalah kebersihan hati melalui purifikasi hubungan antar manusia (hablum minannas). Sangat disayangkan jika Sya’ban justru diisi dengan kebiasaan buruk dengan dalih "mumpung belum puasa". Padahal, riwayat dari Abdullah bin Umar dan Abu Musa Al-Asy’ari menegaskan bahwa pada malam pertengahan Sya’ban, Allah جل جلاله menyaksikan hamba-Nya dan memberikan ampunan kepada semua pihak, kecuali dua golongan: mereka yang menyekutukan Allah (syirik) dan mereka yang menyimpan permusuhan atau dendam. Dalam konteks sosial saat ini, menjaga hati dari permusuhan dan kebencian adalah modal sosial yang tak ternilai untuk meraih keberkahan Ramadhan secara utuh. Sejalan dengan hal tersebut, tradisi luhur di tengah masyarakat kita yang saling meminta maaf dan memaafkan menjelang datangnya bulan suci merupakan kearifan sosial yang patut diapresiasi sebagai upaya konkret pembersihan hati, selama pelaksanaannya tetap terjaga dalam koridor yang benar dan tidak dibarengi dengan hal-hal yang bertentangan dengan syariat. Jika kita ingin menyentuh garis finis sebagai pemenang, maka Sya’ban adalah tempat terbaik untuk mulai mengencangkan tali sepatu spiritual kita.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image