Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nur Faika

Mandar dan Mamuju: Budaya yang Bertahan di Tengah Perubahan

Eduaksi | 2026-01-31 21:43:53

Mandar dan Mamuju bukan sekedar penanda geografis di peta Sulawesi Barat. Keduanya adalah ruang hidup tempat nilai, tradisi, dan cara pandang yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di tengah arus modernisasi yang semakin cepat, budaya Mandar di Mamuju tidak hilang, ia beradaptasi, bertahan, dan menemukan bentuk barunya.

Budaya Mandar dikenal dengan nilai siri’, sipamandar, dan siwali parriq tentang harga diri, kebersamaan, dan gotong royong. Nilai-nilai ini tidak selalu hadir dalam bentuk upacara adat atau pakaian tradisional semata, tetapi hidup dalam kebiasaan sehari-hari: cara menyapa, cara bermusyawarah, hingga cara masyarakat menyelesaikan konflik. Inilah pendidikan kultural yang tumbuh secara alami, tanpa ruang kelas.

Perubahan zaman membawa tantangan baru. Masuknya teknologi, pergeseran mata pencaharian, dan gaya hidup modern kerap membuat tradisi tampak usang di mata generasi muda. Namun, budaya Mandar tidak berhenti pada romantisme masa lalu. Ia justru bertahan dengan menyesuaikan diri melalui seni, bahasa, sastra lisan, hingga narasi baru yang lahir dari anak mudanya.

Mamuju, sebagai pusat pemerintahan dan pertemuan berbagai latar belakang budaya, menjadi ruang penting bagi proses ini. Di kota ini, budaya Mandar diuji: apakah akan terkikis atau justru diperkuat melalui dialog dengan perubahan. Pendidikan berperan besar di sini bukan hanya pendidikan formal, tetapi juga kesadaran kolektif untuk mengenalkan sejarah, nilai, dan identitas lokal sebagai bagian dari pembentukan karakter.

Menjaga budaya Mandar di Mamuju bukan berarti menolak perubahan. Justru sebaliknya, budaya akan tetap hidup ketika ia diberi ruang untuk tumbuh bersama zaman. Ketika generasi muda tidak hanya mewarisi, tetapi juga memahami dan mengolahnya secara kritis, budaya tidak akan menjadi beban masa lalu, melainkan bekal masa depan.Di tengah perubahan yang tak terelakkan, Mandar dan Mamuju mengajarkan satu hal penting: bahwa identitas tidak selalu rapuh. Selama nilai-nilainya terus dihidupkan, budaya akan selalu menemukan cara untuk bertahan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image