Tadabbur Malam (019) Esok tidak Pernah Berjanji
Khazanah | 2026-01-31 17:53:28
Sering kali kita hidup dengan keyakinan diam-diam bahwa esok pasti ada. Kita menunda memperbaiki diri karena merasa masih punya waktu. Padahal, waktu bukan milik kita—ia hanya titipan yang bisa diambil kapan saja dan sejatinya esok tak pernah berjanji apapun pada kita.
Kesadaran bahwa esok tidak pernah berjanji bukan untuk membuat hidup gelisah, melainkan agar kita lebih jujur dalam memanfaatkan hari ini. Shalat yang ditunda, kebaikan yang ditangguhkan, dan taubat yang disimpan untuk nanti—semuanya bisa hilang bersama waktu.
Nabi ﷺ mengingatkan Ibnu Umar agar tidak menunggu sore ketika pagi masih ada, dan tidak menunggu pagi ketika sore telah tiba. Pesan ini menampar rasa aman palsu yang kerap kita pelihara.
Ada kalanya Allah menunda kematian bukan karena kita sudah siap, melainkan karena Dia masih memberi kesempatan. Kesempatan untuk meminta maaf sebelum lidah kelu, untuk memeluk sebelum tangan kaku, untuk berbuat baik sebelum amal tak lagi bisa ditambah. Maka setiap detik yang tersisa sejatinya adalah panggilan sunyi: apakah hari ini akan dihabiskan sebagai penunda, atau sebagai hamba yang sadar sedang diberi waktu?
Barangkali yang paling perlu kita takuti bukanlah kematian yang datang tiba-tiba, tetapi hati yang terbiasa menunda hingga tak lagi peka. Sebab ketika menunda menjadi kebiasaan, kita perlahan kehilangan rasa urgensi untuk taat. Malam ini pun menutup tadabburnya dengan satu pesan lembut namun tegas: jika hari ini masih Allah izinkan bernapas, maka jangan biarkan ia berlalu tanpa jejak kebaikan. Karena esok bukan soal waktu—melainkan izin.
Tadabbur malam mengajarkan ketenangan yang aktif: menerima bahwa esok tidak pasti, lalu mengisi hari ini dengan sebaik-baiknya.
Malam berbisik: jangan menunggu waktu yang belum tentu datang.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
