Sinergi Filantropi Islam untuk Kesinambungan Program MBG
Agama | 2026-01-31 13:45:27Sinergi Filantropi Islam untuk Kesinambungan Program MBG
Muhammad Nur Riko Putra
Mahasiswa Pasca Sarjana SEBI Institut, Depok
Praktisi SPPG Kecamatan Kadungora, Kab Garut
Dasar Hukum
Payung hukum tertinggi program makan bergizi gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah adalah Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 pasal 34,”Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Sudah jelas, kewajiban pemerintah untuk mengurus fakir miskin dan anak-anak terlantar yang ada di seluruh Nusantara ini, sampai ke pelosok desa. Program MBG memiliki legitimasi konstitusional yang kuat, mengurusi anak-anak yang terlantar sehingga mereka kekurangan gizi disebabkan tekanan rendahnya ekonomi atau ketidak pahaman orangtua tentang gizi. Negara harus hadir, menyelamatkan generasi penerus estafet kepemimpinan masa depan bangsa. Program MBG tidak sekedar janji kampanye presiden, tetapi telah menjadi hukum positif dengan pembentukan Badan Gizi Nasional (BGN). Program ini dijamin oleh peraturan Presiden (Perpres) Nomor 83 tahun 2024. BGN adalah lembaga pemerintah non kementrian (LPNK) yang punya struktur sendiri, anggaran tersendiri dan bertanggungjawab langsung kepada presiden.
Jika ditinjau dari sisi syariah Islam, apabila kita abai mengurus fakir miskin, menelantarkan anak yatim, lebih keras lagi ancamannya. Orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin dalam Alquran surat Al Maun, maka orang tersebut adalah “pendusta agama”. Program MBG ini tentu diharapkan berdampak terhadap kesehatan dan kesejahteraan sosial masyarakat Indonesia. Khususnya untuk memenuhi kebutuhan gizi bagi anak-anak dari keluarga miskin yang selama ini sulit untuk memenuhin kebutuhan gizi anak-anak mereka. Tercatat masih tingginya angka kemiskinan di negeri ini, sebesar 9,03 persen atau setara 25,2 juta jiwa. Ironisnya yang perlu kita sadari bersama, sebagai umat mayoritas di negeri jamrud khatulistiwa ini, persentase terbesar masyarakat miskinnya adalah umat Islam.
Dalam kajian ekonomi Islam, setiap kebijakan publik akan diukur dengan Maqashid syariah. Dalam program MBG ini setidaknya sangat relevan dengan dua pilar Maqashid syariah, yaitu hifdzun nafs (menjaga jiwa) dan hifdzun Aql (menjaga akal). Menjaga jiwa anak-anak dari serangan penyakit, salahsatu caranya dengan mencukupi makanan mereka. Jangan sampai mereka kelaparan, jadi pengemis di pinggir jalan, sehingga jatuhlah harga diri mereka. Melindungi akal anak-anak juga kewajiban kita, yaitu dengan meningkat kecerdasan mereka melalui makanan dengan gizi seimbang. Indonesia yang menghadapi ancaman stunting akibat kekurangan gizi, tidak hanya mengakibatkan tumbuh kerdil tapi juga menghambat perkembangan otaknya (hifdzun aql).
Harapan Kesinambungan Program MBG
Mari kita sama-sama melihat program MBG ini dari sudut pandang kemanusian, mempersiapkan generasi penerus bangsa untuk menyambut tantangan di masa depan. Jadikan mereka orang-orang yang bisa menjadi tuan di negerinya sendiri, jangan hanya jadi penonton. Kewajiban kolektif bangsa untuk mempersiapkan generasi mendatang, jauh hari sebelumnya. Mengubah cara pandang bahwa program MBG bukan beban (cost), tetapi merupakan investasi masa depan (Investment cost). Saya yakin kita sepakat bahwa anak-anak adalah investasi kita, salah satu program yang langsung sampai ke perut mereka adalah program MBG. Tapi bagaimana menjadikan program ini berkesinambungan dan memberikan dampak sosial yang besar di lingkungan Masyarakat.
Sebagai praktisi satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG), penulis terjun langsung dengan penerima manfaat, relawan yang bekerja di dapur, pedagang kecil, peternak bahkan pemulung. Apalagi saat rekrutmen relawan, antrian Panjang mereka membuat hati menangis betapa mereka butuh pekerjaan. Begitu lowongan dibuka, hanya dari mulut ke mulut, 160 orang calon relawan mengantri untuk diwawancara. Bahkan beberapa orang justru lulusan sarjana dan bahkan ada yang sedang menempuh pendidikan pasca sarjana. Betapa lapangan kerja di dapur MBG juga sangat diharapkan oleh masyarakat kita. Masyarakat kita memang banyak yang menganggur karena kurang tersedianya lapangan pekerjaan.
Pro dan kontra program MBG adalah hal yang wajar. Tapi bagi mereka yang tinggal di daerah pedesaan, akan merasakan betapa makan bergizi gratis ini sangat ditunggu-tunggu. Pasti sudut pandang bahwa MBG sebagai beban APBN akan berubah jadi sudut pandang amanat undang-undang dasar. Lihat lah kilau mata mereka ketika mobil SPPG yang membawa makanan ke sekolah mereka dari dapur MBG. Akan terlihat juga senyum dari bibir anak anak kita ketika membuka foodtray berisi menu yang mereka sukai. Anak-anak di sekolah kita masih banyak yang kelaparan dan kekurangan gizi. Mungkin bisa dihitung dengan jari, berapa kali dalam sebulan mereka dapat hidangan daging ayam di meja makan mereka.
Setiap hari dapur MBG menerima surat dari anak-anak sekolah yang mereka sisipkan di dalam foodtray tempat makanan mereka. Tulisan-tulisan di secarik kertas sangat kami tunggu, ada kritikan, ada sanjungan dari mereka sebagai penerima manfaat. Ungkapan polos anak anak itu membuat kami di SPPG merasa terhibur. Bahkan jika menu yang di sajikan dapur MBG jadi favorite mereka, tidak segan segan mereka menyanjung setinggi langit dan menyelipkan uang di foodtray (omprengan). ”Kak, MBG nya enak, jujur. Apalagi omprengnya nggak basah en yummy. Makan MBG ini kayak makan di hotel bintang 5”. Bahagianya, capek karena begadang mengurusin dapur MBG terobati.
Kebahagian mereka terlihat dari kerelaan mereka mengorbankan uang jajan sebagai bentuk apresiasi kepada dapur MBG. Apalagi siswa sekolah dasar, dekat tempat tinggal penulis, jika mobil yang membawa makanan dari dapur MBG belum datang, mereka berdiri memaku di gerbang sekolah sekalipun lonceng sekolah tanda masuk sudah berdering. “Neng, masuk kelas, lonceng sudah bunyi” sapa gurunya.”Alim ah, ngantosan embege heula”. Tidak bergeming, mematung di gerbang sekolah demi menunggu sarapan pagi nya. Sedangkan beberapa siswa laki-laki di sudut sekolah bersenandung,”embege ku tunggu, embege ku tunggu”.
Jika program MBG benar-benar dijalankan dengan penuh tanggungjawab tentu akan memiliki efek pengganda ekonomi (multiplier effect). Dimana program MBG bersifat lokal dan padat karya. Menghidupkan kembali ekonomi gotong royong, sesuai jati diri bangsa Indonesia. Setiap rupiah yang dikeluarkam pemerintah mengalir ke desa-desa, menyasar masyarakat miskin, usaha kecil, petani, peternak, dan membuka lapangan perkerjaan bagi ibu-ibu di desa. Bila petani punya penghasilan memadai, ibu-ibu punya penghasilan tambahan, maka daya beli masyarakat desa meningkat, warung-warung laris akhirnya roda ekonomi berputar. Program MBG juga bisa berdampak pada pencegahan biaya kesehatan di masa depan. Memberi makan bergizi kepada anak-anak Indonesia akan menekan penyakit generatif akibat gizi buruk (jantung, diabetes dan stroke).
Selain itu program MBG ini juga akan membuat kebiasaan makan yang baru bagi anak-anak. Mereka dibiasakan makan dengan makanan gizi seimbang, ada karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Tidak asal kenyang, tapi memperhatikan kandungan gizi yang dimakan, sehingga mereka jadi lebih sehat. Begitu juga kebiasaan makan teratur, sehingga tubuh menjadi sehat dan tidak tumbuh kerdil dan risiko stunting.
Menurut Bank Dunia, bahwa kerugian ekonomi Indonesia akibat stunting mencapai 2-3% dari PDB per tahun. Anak yang stunting memiliki produktivitas rendah dan rentan sakit. Program MBG memberikan gizi seimbang setiap hari, artinya negara sedang melakukan penghematan untuk anggaran kesehatan untuk 10 sampai 20 tahun ke depan. Tentu ini bentuk upaya preventif untuk menjaga kesehatan Masyarakat dimasa yang akan datang. Target untuk menjadi negara maju pada tahun 2045 tidak bisa terlaksana tanpa perencanaan yang holistik. Bagaimana mungkin angkatan kerja kita bisa bersaing dengan tenaga kerja asing jika masa pertumbuhan, mereka kekurangan gizi. Padahal kita tahu bahwa kecerdasan otak (cognitive skill) terbentuk maksimal pada usia pertumbuhan. Tanpa asupan protein yang cukup, generasi muda Indonesia akan kalah bersaing di era AI dan teknologi tinggi masa depan.
Sinergi Program Filantropi Islam
Sudah menjadi tanggungjawab bersama, baik pemerintah, tokoh agama, pengusaha dan para pendidik untuk melahirkan generasi emas Indonesia 2045. Generasi yang siap bersaing dengan tenaga kerja luar negeri. Oleh karena itu yang perlu jadi pemikiran kita bersama adalah bagaimana program MBG yang sudah baik ini berkesinambungan. Perlu duduk bersama untuk mencari Solusi di antaranya pemerintah, pengusaha, akademisi, komunitas dan media (pentahelix).
Islam sebagai agama rahmatan lil alamin sangat perhatian kepada fakir miskin, bahkan rasullulah Saw sangat mencintai kaum miskin. “aku memohon pada-Mu supaya bisa mencintai orang miskin (HR Bukhari). Pembagian zakat juga di prioritaskan untuk fakir miskin, sehingga harta terdistribusi dengan baik, tidak hanya di tangan segelitir orang saja. Selain kurangnya pengetahuan orangtua tentang gizi, faktor utama yang menyebabkan anak kurang gizi adalah tingkat ekonomi yang rendah. Oleh karena itu sasaran utama program MBG seharusnya memang di perketat lagi, siapa yang paling berhak menerimanya.
Potensi zakat di Indonesia sangat besar, oleh karena itu perlu untuk terus memaksimalkan pengumpulannya dan juga menyalurkan Ziswaf secara tepat. Penyaluran dana filantropi Islam dalam bentuk zakat, infaq dan sedekah mungkin bisa diselaraskan dengan program MBG. Sinergi program dan anggaran antara pemerintah dan Badana amil zakat nasional (Baznas) tentu bisa meringankan beban APBN kita.
Sampai saat ini masih banyak sekolah dan pondok pesantren yang belum tersentuh program MBG. Agar terjadi percepatan dan kesinambungan program MBG, pondok pesantren bisa membuka dapur MBG yang dibiayai oleh Koperasi pondok pesantren (Kopontren) dan biaya operasional dan bahan baku bisa dilakukan kolaborasi antra BGN dan Baznas misalnya. Keterbatasan dana pembangunan dapur MBG bisa dibuatkan lingkage program antara perbankan syariah dan koperasi syariah.
Mewaspadai kebocoran anggaran tentu wajar, namun menolak program MBG hanya karena sinisme politik adalah ketidakadilan bagi jutaan perut anak bangsa. MBG tidak hanya sekedar membagikan makan gratis, tapi iktiar bersama untuk menjaga jiwa dan akal generasi masa depan. Setiap suap makanan bergizi yang masuk ke perut anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui dan balita dibalut doa agar generasi berikutnya jauh lebih baik.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
