Ketika Dinding dan Cahaya Menjadi Amal Jariyah
Filantropi | 2026-01-06 11:34:17Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh persaingan, Islam mengajarkan satu cara memberi yang tenang namun berdampak panjang: wakaf. Ia bukan soal seberapa besar harta yang dilepas, melainkan seberapa jauh manfaat yang ditinggalkan. Wakaf adalah amal yang bekerja dalam diam, tetapi terus berbicara sepanjang waktu.
Sejak lama, wakaf menjadi bagian penting dari sejarah peradaban Islam. Banyak masjid, pesantren, dan pusat ilmu berdiri bukan karena kekuatan individu, melainkan karena kepedulian bersama. Dari wakaf, lahir ruang-ruang belajar yang melahirkan ulama, guru, dan pemimpin umat. Wakaf bukan hanya membangun bangunan, tetapi menjaga ilmu agar tetap hidup.
Makna itulah yang tercermin dalam wakaf dinding dan kelistrikan Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah (Trenmuda) Wiradesa. Sekilas, dinding dan listrik terlihat seperti kebutuhan biasa. Namun jika direnungkan, keduanya memiliki makna yang lebih dalam. Dinding adalah tempat berteduh—ruang aman bagi santri untuk belajar, menghafal, dan membentuk karakter. Sementara listrik adalah cahaya—penerang yang memungkinkan ilmu dipelajari, ayat-ayat Al-Qur’an dibaca, dan proses belajar berjalan tanpa terhenti.
Saat ini, upaya tersebut masih membutuhkan dukungan. Tercatat, kebutuhan wakaf masih kurang 303 paket dengan nilai Rp100.000 per paket, atau total Rp30.300.000. Angka ini bukan sekadar hitungan rupiah, melainkan gambaran tentang satu tahap perjuangan yang sedang ditempuh bersama. Membangun pesantren memang tidak selesai dalam satu waktu, dan tidak mungkin dipikul oleh satu orang saja.
Pesantren memiliki peran penting dalam kehidupan umat. Ia bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga ruang pembentukan akhlak, kedisiplinan, dan kepekaan sosial. Dari lingkungan sederhana itulah, lahir generasi yang diharapkan mampu membawa nilai-nilai Islam ke tengah masyarakat. Karena itu, menjaga keberlangsungan pesantren berarti ikut menjaga masa depan umat.
Dalam ajaran Islam, amal jariyah adalah amal yang pahalanya terus mengalir. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ketika manusia wafat, amalnya terputus kecuali tiga hal, salah satunya sedekah jariyah. Wakaf termasuk di dalamnya. Selama manfaatnya dirasakan—selama ada santri yang belajar, berdoa, dan mengamalkan ilmunya—selama itu pula pahala terus berjalan.
Menariknya, wakaf tidak selalu harus besar. Justru dari wakaf-wakaf kecil yang dilakukan bersama, dampak besar bisa terwujud. Seperti cahaya lampu, satu titik mungkin redup, tetapi ketika banyak lampu dinyalakan, gelap pun sirna.
Pada akhirnya, wakaf adalah soal niat dan keberlanjutan. Ia bukan tentang terlihat atau tidak, dipuji atau tidak. Wakaf adalah cara seorang hamba menitipkan kebaikan kepada Allah, dengan harapan manfaatnya terus hidup.
Sebagaimana doa yang sering kita ucapkan, “Bismillāhi tawakkaltu ‘alallāh, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh,” dengan menyebut nama Allah kita bertawakal kepada-Nya. Tak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Nya. Dari keyakinan itulah, dinding dan cahaya pesantren menjadi lebih dari sekadar bangunan—ia menjadi amal jariyah yang terus menyala.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
