Negeri-Negeri Muslim Terjerat Perdamaian ala Penjajah
Info Terkini | 2026-02-13 14:30:23
Oleh: Eno Fadli
(Pemerhati Kebijakan Publik)
Saat ini keadaan Gaza masih luluh lantak dan darah kaum muslimin di sana masih terus tumpah karena serangan-serangan zionis masih masif terjadi. Namun muncul fakta bahwa sebagian negara-negara kaum muslimin ikut dalam program penanganan Gaza dalam sebuah badan Internasional Board of Peace Charter (BOP) atau dewan perdamaian yang diprakarsai oleh Donald Trump yang merupakan sosok yang rekam jejaknya secara terbuka sebagai pendukung para penjajah dalam membela kepentingan mereka dengan melakukan sejumlah invasi, kudeta, dan penghancuran negeri-negeri muslim seperti Palestina, Afganistan, Irak, Libya, suriah, Sudan dan banyak lagi negeri muslim yang telah menjadi korban karenanya.
BOP diklaim bertujuan untuk menangani dan menyelesaikan konflik global yang mempromosikan stabilitas perdamaian, dan tata kelola pemerintahan di wilayah konflik yang rencana utamanya saat ini mengawasi administrasi, stabilisasi dan rekonstruksi gaza dengan mentransformasi wilayah tersebut.
Ironisnya Indonesia sebagai negeri yang penduduk mayoritas muslim, ikut terlibat dalam komitmen perdamaian bentukan Amerika serikat (AS) dan sekutunya ini. Dengan adanya penandatanganan piagam BOP pada kamis 22 Januari 2026 oleh Presiden Prabowo Subianto, disertai dengan komitmen dana untuk menjadi anggota sebesar 1 miliar dollar atau sebesar Rp 17 Triliun.
Keikutsertaan indonesia dalam dewan perdamaian disebutkan sebagai peluang nyata untuk mendorong perdamaian bagi rakyat Palestina yang merupakan langkah strategis bersyarat bukan dukungan penuh tanpa syarat.
Faktanya meskipun sejak diresmikan keberadaan dewan perdamaian ini, Zionis masih saja melakukan serangan militer meskipun sudah ada kesepakatan gencatan senjata. Serangan yang mengakibatkan korban jiwa di kalangan warga sipil termasuk anak-anak. Dilansir BBC, Minggu (1/2/2026), terdapat 32 orang yang tewas akibat serangan yang menghantam tenda penampungan pengungsi di kota Khan Younis Gaza Selatan pada sabtu (31/1/2026). Dan serangan- serangan Zionis tercatat telah menewaskan 71.660 warga Gaza, setidaknya ada 509 warga Palestina yang tewas sejak gencatan senjata yang dimulai 10 Oktober 2025 (Detik.com,01/02/2026).
Kemasan indah dari kata Perdamaian (Peace) dalam dewan perdamaian bentukan AS ini memperlihatkan bahwa perdamaian yang dimaksud hanya sebuah istilah yang tidak menghadirkan keadilan, dan perdamaian yang sesungguhnya. Perdamaian yang hanya merupakan realitas semu dan diplomasi tanpa prinsip yang menambah penderitaan warga Palestina, karena BOP dikendalikan oleh negara-negara penjajah, dan negeri- negeri muslim hanya sebagai pelengkap legitimasinya. Hal ini dalam sejarah kolonialisme bukan menjadi suatu yang baru, di mana penjajah selalu membentuk dewan, mandat ataupun otoritas internasional yang akan mengamankan tujuan untuk kepentingan mereka.
BOP jelas-jelas merampas hak rakyat Gaza secara paksa. Adanya Pembentukan Dewan Eksekutif Gaza yang menjadikan urusan pemerintahan di wilayah Palestina tidak lagi di tangan rakyat Palestina, Gaza dikelola oleh struktur asing yang dikuasai AS. Senjata rakyat Palestina untuk melawan penjajah dilucuti dengan dalih stabilisasi, sedangkan penjajah tetap bersenjata lengkap dan siap membunuh rakyat Palestina kapan saja. BOP juga menjadikan eksistensi Zionis semakin kuat di wilayah Palestina terbukti dengan tidak adanya tuntutan untuk pengembalian tanah Palestina yang dirampas Zionis kepada pemiliknya yaitu rakyat Palestina.
Sehingga keterlibatan negeri-negeri muslim dalam dewan ini merupakan pengkhianatan terhadap Palestina, yang seharusnya mereka bersatu membebaskan Palestina dengan Jihad dan tidak melakukan negosiasi dengan penjajah namun mereka saat ini justru duduk bersama dengan mengikuti skema yang mengamankan kepentingan para penjajah. Allah SWT berfirman dalam Surah Al. Baqarah: 191;
وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوْهُمْ وَاَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ حَيْثُ اَخْرَجُوْكُمْ
Perangilah kaum kafir itu di mana saja kalian temui mereka dan usirlah mereka dari tempat mana saja mereka mengusir kalian.
Dan Firman Allah SWT dalam Surah An. Nisa’ : 141;
وَلَنْ يَّجْعَلَ اللّٰهُ لِلْكٰفِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلًا
Allah sekali-kali tidak akan pernah memberikan jalan bagi kafir untuk menguasai kaum Muslim.
Dua surah ini menunjukkan bahwa penjajahan di manapun yang dilakukan para penjajah pada negeri-negeri muslim tidak seharusnya berakhir di meja perundingan, namun solusi satu-satunya bersatu dengan melakukan Jihad sebagaimana yang Allah perintahkan.
Dan ini membutuhkan institusi global sebagai pemersatu mereka yang bisa menghimpun segala potensi, sumber daya dan kekuatan umat termasuk militer di seluruh dunia, yaitu pemerintahan yang memiliki bentuk kepemimpinan yang bersifat umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia yang menegakkan hukum-hukum syariah dan mengemban dakwah Islam keseluruh penjuru dunia. Sehingga dengan pemerintahan Islam global ini mampu melindungi kehormatan dan darah kaum Muslimin karena menjadi satu-satunya institusi pembela dan oelindungbumat sedunia.
Wallahu a’lam bishshowab
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
