Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image eno fadli

MBG Tetap Jalan Saat Libur untuk Perbaikan Gizi, Namun tak Bergizi

Info Terkini | 2026-01-17 15:42:13

 

Oleh: Eno Fadli

(Pemerhati Kebijakan Publik)

Setahun Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan, bertujuan untuk mencegah stunting dan meningkatkan pemenuhan gizi anak Indonesia. Namun dalam pelaksanaannya MBG tidak terlepas dari berbagai masalah.

Mulai dari distribusi Mbg yang tidak merata di sejumlah daerah, terkhusus pada wilayah-wilayah terpencil dan tertinggal, dan kualitas makanan yang disediakan juga belum sepenuhnya memenuhi standar gizi, serta di berbagai daerah terdapat kasus keracunan makanan. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengungkapkan ada sebanyak 11.640 penerima manfaat MBG yang mengalami keracunan setelah menyantap MBG (Kompas.com, 12/11/2025).

Selama masa liburan sekolah, MBG tetap dilaksanakan dengan skema pengambilan distribusi alternatif, program ini berjalan didasarkan pada prinsip “Gizi Tanpa Jeda” agar dapat terpenuhinya pemenuhan gizi penerima manfaat dari makan bergizi gratis. Namun fakta di lapangan justru orang tua siswa mengaku menerima paket MBG selama libur sekolah makanan kering dan minuman kemasan yang diberikan justru mengandung kadar gula tinggi dan tidak menyehatkan.

MBG yang seharusnya menyediakan makanan yang bergizi dan menyehatkan justru didominasi makanan Ultra -Processed (UPF), dengan menu seperti sosis, susu kotak tinggi gula, wafer, biskuit yang menjadi sajian harian yang diterima oleh jutaan siswa. Selain tidak ideal secara gizi, program ini justru memperbesar inefisiensi anggaran, bahkan program ini menyedot anggaran yang bersumber dari tiga sektor yaitu pendidikan Rp 223 triliun (83,4%), kesehatan Rp 24,7 triliun (9,2%), dan ekonomi 19,7 triliun (7,4%).

Total alokasi dana yang diputuskan melonjak dari perkiraan awal sebesar RP 217,86 triliun dan diputuskan dana ini seiring dengan terjadinya lonjakan drastis kasus keracunan siswa yang mengkonsumsi MBG di berbagai daerah. Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia Ubaid Matraji mengatakan, alih-alih melakukan evaluasi pemerintah menutup mata, menyumpal telinga, dan nekat melanjutkan program bermasalah, padahal kondisi keracunan yang terjadi menelan ribuan korban dan ini merupakan kondisi yang tidak normal yang mestinya direspon dengan menetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB), (CNN.com, 24/09/2025).

Program MBG yang digadang-gadang dapat menurunkan angka stunting dan dapat meningkatkan pemenuhan gizi pada anak, namun setahun berjalan ancaman stunting tidak kunjung hilang, apalagi di wilayah-wilayah terpencil dan tertinggal. MBG yang dibagikan melenceng dari tujuan yang ingin mengubah pola makan anak, justru ini mengarah pada proyek ekonomi yang menguntungkan industri besar bukan petani atau pelaku UMKM lokal bukan lagi menjadi program peningkatan gizi.

Karut-marut penanganan MBG dengan tatakelola yang buruk dan minim akuntabilitas yang berulang kali menimbulkan kerugian pada masyarakat merupakan kegagalan sistematis yang lahir dari sistem Kapitalisme. MBG menjadi program populis yang tidak strategis, karena meski banyak kritik dan persoalan yang melingkupinya, pemerintah terkesan memaksakan program ini untuk terus jalan bahkan saat libur sekolah sekalipun.

MBG dianggap tidak menjadi solusi yang menyentuh akar masalah dalam meningkatkan gizi anak dan dapat menurunkan angka stunting. Karena yang seharusnya diperhatikan dalam masalah ini, bagaimana pemerintah memperhatikan kesejahteraan bagi setiap individu rakyatnya, termasuk di dalamnya terpenuhinya gizi setiap individu termasuk anak. Bukan menjadikan pemenuhan gizi pada anak sebagai proyek ekonomi yang akan menghasilkan manfaat berupa untung dan rugi bagi segelintir orang yang mempunyai kepentingan di dalamnya yaitu para oligarki.

Dalam penerapan sistem ekonomi Islam setiap keluarga tidak terhalang untuk dapat mengakses makanan bergizi karena kemiskinan. Negara menjamin setiap individu terpenuhi kebutuhan dasarnya, negara juga mendorong kepala keluarga untuk bekerja, menjalankan kewajiban yang Allah swt berikan kepadanya dengan menyediakan lapangan pekerjaan, sehingga para ayah dapat memenuhi kebutuhan keluarganya dan secara mandiri dapat memenuhi kebutuhan gizi keluarganya.

Negara juga menjamin ketersedian bahan pangan yang cukup dan tata kelola kebutuhan pokok dengan benar, sehingga harga bahan pangan dapat terjangkau. Negara juga menjamin tersedianya kebutuhan dasar selain pangan seperti sandang papan, keamanan, pendidikan, pelayanan kesehatan.

Implementasi sistematis dari sistem ekonomi Islam yang diterapkan oleh negara tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan gizi pada anak, namun juga dapat meningkatkan kesejahteraan setiap individu rakyat, karena penguasa berperan sebagai pengurus (rain) urusan rakyat, dengan menjalankan amanah yang diberikan kepadanya dengan rasa penuh ketaatan dan ketundukan pada Allah swt.

Wallahu A’lam Bishshawab

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image