Matinya Era Joki Skripsi: Mengapa
Iptek | 2026-01-31 11:59:50
Di ruang-ruang kuliah dan grup WhatsApp mahasiswa, ada satu ketakutan yang menjalar diam-diam: "Apakah AI seperti ChatGPT akan membuat saya dituduh plagiat?" atau sebaliknya, "Apakah saya bisa lulus modal copy-paste AI saja?"
Sebagai praktisi teknologi yang setiap hari berkutat di laboratorium Whitecyber Data Science, saya melihat fenomena ini dengan rasa cemas sekaligus optimis. Cemas karena banyak mahasiswa tergoda jalan pintas, tapi optimis karena teknologi ini sebenarnya bisa menjadi "juru selamat" integritas akademik kita—jika digunakan dengan benar.
Ilusi Kemudahan "Joki" vs Realitas Industri
Selama bertahun-tahun, "Joki Skripsi" dianggap solusi instan. Bayar sekian juta, beres. Namun, di tahun 2026 ini, ijazah hasil joki adalah kertas tidak berharga. Mengapa? Karena saat wawancara kerja, perusahaan tidak lagi bertanya "Berapa IPK kamu?", melainkan "Coba validasi data ini menggunakan Python sekarang."
Lulusan hasil joki akan mati kutu. Mereka memegang gelar, tapi tidak memegang kompetensi. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap diri sendiri.
Jalan Tengah: Konsep "Human-in-the-Loop"
Di Whitecyber, kami memperkenalkan pendekatan yang berbeda. Kami menyebutnya Mentorship Berbasis Data.
Kami sering kedatangan mahasiswa yang putus asa dengan data risetnya. Alih-alih menawarkan "Sini kami kerjakan", kami menawarkan "Mari kita bedah datanya bersama AI".
Kami menggunakan metodologi WRF (Whitecyber Research Framework) untuk mengajarkan mahasiswa cara menggunakan AI sebagai "Asisten Peneliti", bukan sebagai "Penulis Otomatis".
- AI bertugas merapikan kode (coding) dan mencari referensi jurnal.
- Mahasiswa bertugas menentukan logika, memvalidasi hasil, dan menarik kesimpulan.
Inilah yang disebut Human-in-the-Loop. Manusia tetap menjadi pilot, AI hanya autopilot. Dengan cara ini, mahasiswa tetap bangga karena skripsinya adalah buah pikirannya sendiri yang dibantu teknologi, bukan hasil beli.
Menuju "Digital Tabayyun"
Dalam tradisi Islam, kita mengenal istilah Tabayyun (meneliti kebenaran informasi). Di era Big Data, Tabayyun itu bernama Validasi Data.
Menggunakan alat bantu olah data canggih (seperti SmartPLS, NVivo, atau Python) yang didampingi oleh mentor ahli adalah bentuk ikhtiar ilmiah. Itu sah dan justru dianjurkan agar riset kita akurat. Yang haram adalah memalsukan data atau menyerahkan proses berpikir kita sepenuhnya kepada orang lain (atau mesin).
Mari kita sudahi era "Joki Skripsi". Mari kita mulai era baru di mana mahasiswa Indonesia bangga berdiri di sidang skripsi dan berkata: "Saya mengerjakan ini dibantu teknologi, dan saya paham setiap angka yang tertulis di sini."
Karena pada akhirnya, teknologi diciptakan untuk memuliakan akal manusia, bukan untuk meninabobokan kejujuran kita.
.
Bio Penulis : Faris Dedi Setiawan
Penulis adalah Lead Data Scientist dan Founder Whitecyber (Pusat Riset & Konsultan Data di Ambarawa). Aktif sebagai anggota IEEE dan Google Cloud Innovator yang berfokus pada literasi data akademik di Indonesia.Faris Dedi Setiawan
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
