Enam Resep Hidup Bahagia Dunia dan Akhirat
Agama | 2026-01-28 09:14:11
Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali dipadati jamaah dalam kegiatan Kajian Ahad Pagi pada Ahad, 25 Januari 2026. Kali ini, kajian menghadirkan Dosen UAD sekaligus Direktur LPPU Ummu Salamah, Ustaz Drs. H. Nurhidayat Pamungkas, M.Pd., yang membawakan tema mengenai kunci meraih kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.
Membuka kajian, Ustaz Nurhidayat menekankan bahwa tujuan akhir seorang muslim adalah meraih kebahagiaan di dunia sekaligus keselamatan di akhirat. Ia kemudian menyoroti fenomena pola asuh masa kini dengan dua istilah unik: "anak sing dadi ning ora ngerti" dan "anak sing ora dadi ning ngerti". Istilah pertama merujuk pada anak yang sukses secara materi atau jabatan namun abai terhadap orang tua, sedangkan istilah kedua menggambarkan anak yang biasa saja secara materi namun sangat memuliakan orang tuanya.
Ia mencontohkan realitas yang sering terjadi, di mana ada anak berpendidikan tinggi hingga jenjang S3, namun kurang hormat kepada orang tua. Sebaliknya, ia pernah menemui seorang tukang becak yang setiap malam dengan penuh kasih sayang membelikan susu untuk ibunya.
"Anak yang ngerti seperti inilah yang justru menjadi jalan surga bagi orang tuanya," ujarnya.
Dalam membedah resep kebahagiaan hakiki, Ustaz Nurhidayat menguraikan enam pilar utama yang saling berkaitan. Ia mengawali dengan pentingnya memiliki Qolbun Syakirun atau hati yang bersyukur, di mana kunci ketenangan jiwa terletak pada sikap qanaah menerima pemberian Allah. Kebahagiaan ini kian lengkap dengan kehadiran Al-Azwaju Shalihah (pasangan yang saleh) sebagai penyempurna separuh agama sekaligus mitra terbaik dalam mendidik generasi penerus. Tak hanya pasangan, Al-Auladul Abrar atau anak-anak yang saleh juga disebutnya sebagai investasi akhirat yang sangat penting, sehingga orang tua dituntut bersabar dalam mendidik agar kelak anak tetap memuliakan mereka dan tidak menitipkan orang tua ke panti jompo di masa senja.
Faktor lingkungan dan harta juga tak luput dari pembahasan. Ustaz Nurhidayat menekankan urgensi Al-Biah Ash-Shalihah atau lingkungan yang kondusif untuk ibadah, seperti inisiatif kelompok belajar Al-Qur'an di tingkat RW untuk membangun masyarakat yang religius. Hal ini disempurnakan dengan Al-Malul Halal (harta yang halal), dimana keberkahan harta jauh lebih membawa ketenangan dibanding jumlahnya. Ia menceritakan kisah inspiratif Mbah Wira, seorang penjual makanan kecil di Minggiran yang berhasil berangkat umrah dari hasil tabungan uang recehnya yang halal.
Sebagai penutup resep kebahagiaan, ia menegaskan pentingnya Tafaqquh Fiddin atau semangat memahami agama sebagai jalan terang kehidupan. Ustaz Nurhidayat mengajak jamaah untuk mengambil peran dalam ilmu, baik sebagai pengajar, pelajar, pendengar, atau pencinta ilmu, dan menghindari menjadi golongan kelima yang tidak menyukai ilmu karena akan membawa celaka. Ia pun mengimbau jamaah untuk terus memakmurkan masjid sebagai wasilah agar Allah menurunkan rahmat-Nya dan menjauhkan negeri dari bencana. (Ito)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
