Dari Nanas Menjadi Selai, Eskalasi Nilai Tambah dan Penguatan Peran Perempuan Desa Midar
Eduaksi | 2026-01-27 18:49:38Artikel sebelumnya telah menunjukkan bahwa pengolahan buah nanas menjadi selai nanas membuka ruang penting bagi pemberdayaan perempuan dan penguatan ekonomi Desa Midar. Namun, berhenti pada satu jenis produk olahan berisiko membatasi potensi ekonomi yang sebenarnya masih dapat dikembangkan. Dalam konteks inilah inovasi lanjutan berupa pengolahan selai nanas menjadi bolu lapis nanas menjadi relevan, bukan hanya sebagai variasi produk, tetapi sebagai strategi eskalasi nilai tambah berbasis kreativitas dan keterampilan perempuan desa.
Asumsi umum yang sering muncul adalah bahwa mengolah hasil pertanian sekali saja sudah cukup untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Asumsi ini patut dipertanyakan. Selai nanas memang meningkatkan nilai jual dibandingkan nanas segar, tetapi produk tersebut masih memiliki keterbatasan pasar jika tidak diiringi diversifikasi lanjutan. Bolu lapis nanas, sebagai produk turunan, menawarkan nilai ekonomi yang lebih tinggi karena menggabungkan bahan lokal dengan keterampilan pengolahan pangan yang lebih kompleks, sehingga menciptakan diferensiasi produk di pasar.
Pengolahan selai nanas menjadi bolu lapis nanas juga menunjukkan peningkatan peran perempuan dari sekadar produsen bahan olahan menjadi inovator produk. Dalam proses ini, perempuan desa tidak hanya terlibat dalam tahap produksi, tetapi juga dalam perencanaan resep, pengendalian kualitas, dan strategi pengemasan. Hal ini menantang pandangan bahwa usaha perempuan desa hanya cocok berada pada level produksi sederhana, dan justru memperlihatkan kapasitas mereka dalam mengelola usaha pangan bernilai tambah tinggi.
Dari sisi ekonomi keluarga, bolu lapis nanas berpotensi memberikan margin keuntungan yang lebih besar dibandingkan selai nanas. Produk ini dapat dipasarkan pada berbagai kegiatan sosial, acara desa, maupun pasar lokal sebagai makanan khas. Namun, penting untuk diuji secara kritis bahwa peningkatan nilai produk juga diiringi dengan peningkatan biaya produksi, waktu kerja, dan risiko usaha. Tanpa manajemen yang baik, diversifikasi produk justru dapat membebani perempuan desa secara berlebihan, baik secara fisik maupun waktu.
Selain manfaat ekonomi, inovasi ini memiliki dampak sosial yang signifikan. Proses belajar bersama dalam mengembangkan bolu lapis nanas memperkuat kerja kolektif perempuan desa dan meningkatkan rasa percaya diri mereka sebagai pelaku usaha. Kegiatan ini juga memperluas imajinasi ekonomi masyarakat desa, bahwa potensi lokal tidak bersifat statis, melainkan dapat terus dikembangkan melalui kreativitas dan pembelajaran berkelanjutan.
Meski demikian, pengembangan produk turunan seperti bolu lapis nanas tidak boleh dilepaskan dari tantangan keberlanjutan. Konsistensi kualitas, ketahanan produk, serta akses pasar menjadi faktor penentu keberhasilan jangka panjang. Jika tidak didukung oleh pelatihan lanjutan, pendampingan usaha, dan dukungan kebijakan desa, inovasi ini berisiko berhenti sebagai kegiatan temporer tanpa dampak struktural yang berarti.
Dengan demikian, perjalanan “dari nanas menjadi selai, dari selai menjadi bolu lapis nanas” di Desa Midar merepresentasikan proses bertahap dalam membangun ekonomi desa berbasis potensi lokal dan peran perempuan. Inovasi ini tidak hanya tentang menambah jenis produk, tetapi tentang membangun cara berpikir baru bahwa pemberdayaan ekonomi memerlukan keberanian untuk naik kelas, menguji kapasitas diri, dan mengelola risiko secara sadar dan terencana.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
