Mewaspadai Fenomena Lonely in the Crowd
Teknologi | 2026-01-26 17:55:16Mewaspadai Fenomena Lonely in the Crowd
Oleh: Dhevy Hakim
Di era digital yang serba terhubung ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Global Digital Reports dari Data Reportal mencatat bahwa ada lebih dari 5,25 miliar orang aktif di media sosial.
Namun, ironisnya, perasaan terhubung di dunia maya tidak serta merta menghilangkan perasaan sepi. Seseorang bisa begitu aktif di media sosial, namun minim interaksi sosial yang bermakna di dunia nyata. Fenomena inilah yang disebut “Lonely in the Crowd.”
Perasaan terhubung di sosial media tidak berarti menghilangkan perasaan sepi. Seseorang bisa begitu aktif di dunia maya tetapi minim interaksi sosial. Fenomena ini menarik perhatian mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY. Mereka melakukan riset berjudul “Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual”.
Menurut teori hiperrealitas, representasi digital kerap dianggap lebih ‘nyata’ daripada realitas itu sendiri, sehingga emosi yang dibentuk media dapat memengaruhi kesehatan mental dan hubungan sosial seseorang. Riset Mahasiswa UMY: Eksplorasi Kesepian di TikTok Melalui Kajian Hiperrealitas Audiovisual. Fenomena “Lonely in the Crowd” menarik perhatian mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Mereka melakukan riset berjudul “Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual.” Riset ini berhasil lolos seleksi Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) 2025 dan memperoleh pendanaan dari Kemendiktisaintek.
Fifin Anggela Prista, ketua tim riset, mengungkapkan bahwa ide penelitian ini berawal dari pengamatan sehari-hari terhadap kebiasaan Generasi Z yang hampir selalu berselancar di media sosial, khususnya TikTok. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan: Mengapa seseorang bisa begitu aktif di dunia maya, tetapi minim interaksi sosial secara langsung?
Tim riset yang beranggotakan Fifin Anggela Prista, Gifatul Hidayah, Najwa Aulia Habibah, Rossy Safitri Putra Pratama, dan Muhammad Rasyid Ridha menggunakan metode kualitatif untuk menggali pengalaman para pengguna TikTok.
Teori Hiperrealitas: Ketika Representasi Digital Lebih “Nyata” dari Realitas. Fifin menjelaskan bahwa konten di media sosial seringkali merupakan hasil rekayasa. Namun, tak sedikit orang tetap mengonsumsi dan bahkan membenarkan narasi tersebut. Menurut teori hiperrealitas, representasi digital kerap dianggap lebih “nyata” daripada realitas itu sendiri.
Akibatnya, emosi yang dibentuk oleh media dapat memengaruhi kesehatan mental dan hubungan sosial seseorang. Hasil pengamatan awal menunjukkan bahwa banyak akun TikTok memproduksi ulang narasi kesepian dengan sentuhan estetik dan emosional. Contohnya termasuk kutipan tentang hubungan, kehilangan, atau rasa keterasingan. “Konten yang dibuat orang lain sering kali merepresentasikan diri kita, entah itu soal pencapaian orang lain atau kisah emosional seperti percintaan. Walaupun sebagian bersifat komersial, pengguna tetap membagikannya karena merasa konten tersebut mewakili perasaan mereka,” jelas Fifin.
Algoritma Media Sosial dan Efek Domino Kesepian Kebiasaan membagikan konten kesepian di media sosial dapat memicu efek domino. Semakin sering pengguna membagikan konten kesepian, maka semakin banyak konten serupa yang muncul di linimasa mereka. Penelitian menunjukkan bahwa tindakan ini dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental. Langkah Selanjutnya: Mengembangkan Strategi Literasi Digital dan Manajemen Penggunaan Gawai Melihat potensi dampak yang lebih luas, tim riset berencana menggandeng Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk mengembangkan strategi literasi digital dan manajemen penggunaan gawai.
“Harapannya, penelitian ini bisa menjadi inovasi dalam penanganan isu literasi digital dan kesehatan mental, khususnya di kalangan Gen Z. Karena kesepian sering dianggap masalah pribadi, padahal dari hal-hal yang terlihat sepele ini, dampaknya bisa sangat besar bagi kesehatan mental generasi muda,” pungkas Fifin.
Fenomena “Lonely in the Crowd” adalah pengingat bagi kita semua bahwa interaksi sosial di dunia nyata tetaplah penting untuk kesehatan mental dan kesejahteraan emosional. Media sosial dapat menjadi alat yang bermanfaat untuk terhubung dengan orang lain, tetapi kita harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam representasi digital yang tidak realistis dan memicu perasaan kesepian.
Masyarakat di era digital banyak yang merasa kesepian di tengah hiruk-pikuk bermedia sosial. Gen Z disebut generasi yang paling merasa kesepian, insecure bahkan mengalami kesehatan mental, semua ini bukan sekedar persoalan kurangnya literasi digital dan manajemen penggunaan gawai.
Industri kapitalis telah membuat arus di sosial media menimbulkan dampak buruk, diantaranya sikap asosial. Masyarakat sulit bergaul di dunia nyata. Bahkan, di tengah keluarga pun pola hubungan diantara anggota keluarga terasa jauh. Sikap asosial dan perasaan kesepian akan berdampak buruk dan merugikan umat. Terlebih bagi generasi muda yang sebenarnya punya potensi besar untuk menghasilkan karya-karya produktif, akan menjadi generasi yang lemah tak berdaya.
Kepedulian terhadap persoalan umat juga tak akan mampu dipotret oleh masyarakat yang terjebak dalam kesepian dirinya. Masyarakat harus menyadari bahwa pengaruh media sosial yang tidak dikelola dengan bijak akan menjadikan banyak orang makin asosial dan merasa kesepian di tengah keramaian.
Fenomena ini akan merugikan umat. Masyarakat harus menjadikan Islam sebagai identitas utama, sehingga tidak terus menerus menjadi korban sistem sekuler liberal. Peran negara penting dalam mengendalikan pemanfaatan dunia digital dan mendorong masyarakat khususnya generasi muda agar tetap produktif dan berkontribusi dalam menyelesaikan problematika umat. Wallahu a’lam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
