Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Daffa Nabil Mubarak

Silverstone di Langit Kepuhrubuh Ponorogo

Sastra | 2026-01-23 05:52:35

Cerpen ini mengisahkan antusiasme Daffa, seorang pemuda dari Desa Kepuhrubuh, Ponorogo, yang merupakan penggemar setia pembalap MotoGP, Enea Bastianini. Latar cerita berpusat pada momen dramatis balapan di Sirkuit Silverstone pada 7 Agustus 2022. Melalui layar televisi di ruang tamu yang sederhana, Daffa beserta keluarga dan para tetangga menyaksikan perjuangan heroik Bastianini, seorang pembalap tim independen Ducati (Gresini Racing), yang mampu bangkit dari posisi ke-11 akibat kerusakan komponen winglet hingga akhirnya berhasil menyalip Jorge Martin di lap terakhir untuk meraih posisi keempat.

Kisah ini tidak hanya menyoroti aspek kompetisi olahraga, tetapi juga menggambarkan kentalnya nilai komunal dan semangat gotong royong di Dusun Grageh. Kegembiraan atas keberhasilan Enea bertransformasi menjadi simbol ketangguhan bagi warga desa, memberikan inspirasi bahwa keterbatasan sarana dan jarak geografis bukan penghalang untuk merajut mimpi besar. Melalui analogi perjuangan di lintasan balap, cerpen ini menyampaikan pesan mendalam mengenai ketekunan, pentingnya dukungan keluarga, serta keyakinan bahwa setiap individu mampu melakukan "manuver" sukses dalam kehidupan jika didorong oleh tekad yang kuat dan doa.

Malam itu, setelah menunaikan salat Isya di Masjid Ribaathu Adnin yang terletak tepat di seberang rumah sederhana kami, aku, Daffa, bergegas kembali ke ruang tamu. Udara malam di RT 002/RW 002 Dusun Grageh, Desa Kepuhrubuh, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo ini terasa sejuk dan cerah. Televisi berukuran 14 inci sudah kunyalakan; siaran Trans7 melalui perangkat set top box terlihat sangat jernih dan lancar tanpa gangguan sinyal sedikit pun.

Aku duduk bersila di atas karpet sembari memegang secangkir kopi panas—kopi tubruk khas Ponorogo yang kuseduh sendiri dengan takaran gula aren yang pas dan aroma yang semerbak. Uapnya masih mengepul saat siaran balapan MotoGP Inggris di Sirkuit Silverstone dimulai. "Ya Allah, semoga Enea Bastianini jagoanku bisa unggul hari ini," gumamku pelan sembari menatap layar televisi.

Ibu muncul dari dapur membawa nampan kecil berisi pisang goreng. "Daffa, mengapa menonton sendirian lagi? Kapan balapan motor itu selesai? Besok pagi kamu harus membantu Bapak membawa sepeda motor ke bengkel," tegurnya sembari meletakkan nampan di atas meja kecil.

"Sebentar lagi, Bu. Ini sudah putaran terakhir! Enea sedang memimpin, lihat Ducati miliknya melaju kencang di tikungan Copse!" jawabku antusias dengan pandangan yang tidak lepas dari layar. Jantungku berdegup kencang, bukan karena efek kopi yang mulai mendingin, melainkan karena Enea—pembalap dari Gresini Racing Team yang sering dianggap remeh—sedang bertarung sengit melawan pemburu gelar seperti Bagnaia dan Quartararo. Setiap akselerasi motor Ducati-nya di lintasan lurus Maggotts-Becketts membuatku menahan napas; seolah-olah aku yang sedang memacu kecepatan di Silverstone, bukan sekadar penonton di desa terpencil di Ponorogo.

Bapak, yang duduk di kursi sofa di sudut ruangan, tertawa kecil. "Daffa ini kalau sudah menonton MotoGP khusyuknya seperti sedang salat Jumat. Apakah Enea andalanmu itu bisa menjadi juara, Nak?"

"Bisa, Pak! Lihat, dia perlahan tetapi pasti memperbaiki posisinya," balasku dengan suara meninggi saat komentator Trans7 berteriak mengenai aksi overtake dramatis yang dilakukan Enea di putaran terakhir. Kopiku sudah kehilangan uap sepenuhnya, tetapi debar jantungku justru kian memuncak—seolah balapan ini bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari hidupku sendiri.

Di layar televisi yang menampilkan siaran Trans7 dengan sangat jernih dan lancar, balapan MotoGP Inggris di Sirkuit Silverstone telah memasuki putaran-putaran krusial. Silverstone yang hijau dan berangin terasa sangat jauh dari Ponorogo. Namun, jarak ribuan kilometer itu seolah runtuh seketika dalam genggaman tanganku yang mengepal di atas karpet.

Awalnya, semangatku sempat surut saat balapan dimulai. Enea Bastianini, pembalap andalanku dari Gresini Racing Team, sempat bersenggolan keras dengan Jorge Martin di tikungan pertama. Winglet bagian kiri motor Ducati miliknya terlepas, melayang bagaikan daun kering yang diembus angin. "Ya Tuhan, winglet-nya terlepas! Posisi Enea merosot!" seruku spontan. Tubuhku condong ke depan hingga hampir menyentuh layar televisi. Kamera menangkap momen motor Ducati Desmosedici milik Enea yang sempat goyah sebelum akhirnya ia stabilkan kembali. Posisinya langsung tercecer ke urutan ke-11, tertinggal jauh dari pemburu podium seperti Bagnaia dan Quartararo.

Ibu yang duduk di sampingku menggelengkan kepala sembari menyodorkan sepotong pisang goreng. "Lihat itu, Daffa. Kondisi motornya sudah rusak, apakah masih mungkin mengejar? Lebih baik matikan televisinya, besok kamu harus membantu Bapak membawa motor ke bengkel," ujar Ibu dengan nada yang berbaur antara khawatir dan kesal, meski matanya tetap melirik ke arah layar.

"Tidak bisa, Bu! Enea adalah petarung sejati. Lihat, ia mulai memacu kecepatannya di lintasan lurus Hangar!" balasku antusias dengan tangan yang mengepal semakin erat di atas karpet. Setiap kali kamera menangkap momen Ducati-nya meliuk di tikungan Copse, tubuhku ikut miring ke kanan dan ke kiri, seolah-olah aku yang sedang memacu kendaraan di lintasan tersebut. Perlahan namun pasti, posisi Enea mulai naik. Dari posisi ke-11, ia berhasil mendahului Aleix Espargaro di rangkaian tikungan Maggotts-Becketts, lalu melakukan overtake terhadap Brad Binder pada putaran ke-18. Jantungku berdegup kencang, sementara kopi tubruk di dalam cangkir yang terletak di meja kecil sudah mendingin tanpa tersentuh.

Bapak yang duduk di kursi sofa turut berseru memberikan dukungan. "Wah, pemuda ini sangat tangguh! Meski sempat terpuruk di posisi belakang, sekarang ia sudah mencapai urutan ke-7. Namun, Quartararo sedang melaju kencang di depan, Nak. Apakah ia mampu mendahului lagi dalam dua putaran terakhir ini?"

"Tentu, Pak! Lihatlah, tersisa dua putaran lagi dan Enea sudah berada di posisi kelima! Meskipun winglet pada motor Ducati-nya terlepas, akselerasinya tetap luar biasa!" jawabku dengan suara yang nyaris pecah karena antusias. Motor-motor itu melesat bagaikan anak panah di layar televisi. Langit malam di luar tampak cerah tanpa tetesan hujan, dan aromanya berpadu dengan wangi pisang goreng, membuat suasana malam di Kepuhrubuh terasa seperti panggung Silverstone mini. Saat Enea mendekati podium, aku—Daffa, pemuda dari Ponorogo—merasa seolah akulah sang juara dunia itu.

Putaran terakhir dimulai. Jantungku berdegup kencang layaknya dentum kendang Reog Ponorogo, berdetak seiring deru mesin di layar televisi. Langit malam di luar tampak cerah tanpa tetesan hujan, berbanding terbalik dengan lintasan di layar yang tampak menantang. Di seberang rumah, Masjid Ribaathu Adnin tampak tenang setelah jamaah Isya bubar, namun di ruang tamu ini, suasana kian memanas. Siaran Trans7 melalui perangkat set top box terlihat sangat jernih dan lancar tanpa gangguan sinyal sedikit pun. Enea Bastianini, dengan motor Ducati dari Gresini Racing Team yang kehilangan winglet sejak awal balapan, kini membuntuti Jorge Martin di posisi keempat. Jarak mereka sangat tipis, sekitar satu detik, namun di setiap lintasan lurus dan tikungan, jarak itu terpangkas secara pasti. "Lihat, Bu! Enea sedang mengejar Martin! Jaraknya semakin menyusut!" seruku sembari mencondongkan badan hingga lutut menyentuh meja kecil.

Ibu yang mulai ikut tegang menggeleng pelan. "Daffa, ini sudah larut malam. Bukankah besok pagi kamu harus membantu Bapak membawa motor ke bengkel? Motor itu rusak, jangan sampai kamu terjatuh karena mengantuk nanti." Namun, mata Ibu tetap tidak teralih dari layar; pisang goreng di nampan pun sudah mendingin tanpa tersentuh.

Bapak yang duduk di kursi sofa menyahut dengan nada suara yang antusias. "Sabar, Bu. Pembalap ini tangguh. Lihatlah, meskipun kondisi motornya tidak sempurna, akselerasi Ducati-nya masih sangat kuat di lintasan lurus Abbey!"

Aku mengangguk mantap, tangan mengepal di atas karpet yang mulai terasa hangat oleh suhu tubuhku. Di layar, kamera onboard Enea menangkap segalanya: angin menderu dan ban yang mencengkeram aspal saat Jorge Martin di depan mulai goyah. Tikungan pertama dilewati dengan aman; jarak menyusut menjadi setengah detik. Di tikungan kedua, Enea melakukan kemiringan yang sempurna, membuat motor Ducati-nya seolah menari di tepi lintasan. "Ayo, Enea! Sekarang atau tidak sama sekali!" gumamku dengan napas yang tersengal, seolah aku ikut memacu motor di sana.

Tiba-tiba, pintu depan terbuka perlahan. Pak Agung, ketua RW kami yang baru saja pulang dari Masjid Ribaathu Adnin, muncul di ambang pintu. "Lho, Daffa! Sedang menonton balapan lagi? Aku tadi lewat dan mendengar suara mesin dari televisi yang sangat jernih ini, boleh aku ikut menonton di sini?" tanyanya sembari ikut duduk di atas karpet.

"Silakan, Pak! Lihat ini, putaran terakhir! Enea sedang memperebutkan posisi keempat dari Martin!" jawabku cepat tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Pak Agung terkekeh, namun wajahnya langsung berubah serius saat kamera menyorot tikungan ke-16—tikungan Brooklands yang menjadi saksi bisu perjuangan di lap terakhir. Dunia seakan melambat. Enea membuntuti dengan sangat ketat hingga roda depannya nyaris bersentuhan dengan motor lawan. "Ini momentumnya, Pak! Tikungan Brooklands!" teriakku.

Sebuah manuver kilat terjadi. Motor Ducati milik Enea menyelinap dari sisi dalam dengan sangat bersih tanpa kontak fisik. Ban belakangnya meraung saat melakukan akselerasi keluar tikungan. Jorge Martin tertinggal dan posisinya tergeser. Komentator di televisi berteriak histeris dalam bahasa Inggris: "Bastianini takes the position! What a move from The Beast! The independent rider is charging through!"

Ruang tamu seketika meledak oleh kegembiraan. Aku berdiri melonjak dari atas karpet dengan tangan terangkat layaknya pembalap yang menyentuh garis finis. "Luar biasa, Pak! Enea berhasil menyalip Martin di lap terakhir! Sekarang dia di posisi keempat!" Ibu bertepuk tangan pelan dengan wajah yang memancarkan perpaduan antara rasa bangga dan lega. Bapak tertawa lebar dari kursi sofa melihat antusiasmeku. "Hebat! Dari posisi kesebelas naik ke posisi keempat, itu baru namanya petarung sejati!"

Checkered flag berkibar di layar televisi; siaran Trans7 melalui perangkat set top box terlihat sangat jernih dan lancar tanpa gangguan sinyal sedikit pun. Enea Bastianini berhasil finis di posisi keempat, tepat di depan Jorge Martin yang tergeser ke posisi kelima. Ruang tamu rumah kami yang terletak tepat di seberang Masjid Ribaathu Adnin ini seketika riuh, suasananya persis seperti kemeriahan malam takbiran. Teriakanku terdengar nyaring, "Alhamdulillah, Enea luar biasa! Posisi keempat, pembalap tim independen terbaik!"

Ibu segera memelukku dari samping dengan raut wajah penuh haru. "Ya Allah, Daffa! Pembalap itu sangat hebat, mampu melesat dari posisi kesebelas hingga ke posisi keempat. Rasanya seperti kamu sedang membawa nama Ponorogo dan mendahului Martin di saat-saat terakhir Silverstone!" ujarnya sembari tertawa, mengabaikan pisang goreng yang mulai mendingin di atas meja kecil.

Bapak bangkit dari kursi sofa, lalu merangkul pundakku dengan erat. "Luar biasa, Nak! Enea itu petarung sejati. Lihatlah, meskipun komponen winglet motornya terlepas sejak awal balapan, akselerasinya sangat fantastis. Perjuangannya mengingatkan Bapak saat kamu begitu bersemangat membantu Bapak membawa sepeda motor ke bengkel tempo hari; penuh dedikasi!" ucap Bapak dengan bangga.

Pak Agung pun ikut berdiri dan menepuk pundakku berulang kali. "Wah, Daffa! Besok pagi setelah salat Subuh berjamaah di Masjid Ribaathu Adnin, RT 002/RW 002 Dusun Grageh, aku akan menceritakan keberhasilan ini kepada seluruh warga. Aku akan mengisahkan bagaimana Daffa mendukung Enea Bastianini hingga berhasil menyalip Martin di momen krusial. Finis di posisi keempat sebagai pembalap independen terbaik dari tim Gresini Racing! Semua orang pasti akan memberikan apresiasi yang luar biasa!"

Aku kembali terduduk di atas karpet dengan napas yang masih terengah-engah. Malam yang cerah tanpa tetesan hujan di Desa Kepuhrubuh ini terasa bagaikan atmosfer podium di Silverstone. Enea Bastianini baru saja menjadi legenda di rumah sederhana kami.

Suara sorak-sorai dari luar rumah semakin kencang—para tetangga Dusun Grageh lainnya yang juga baru pulang dari masjid mulai berdatangan saat pintu terbuka lebar. Malam itu memang terasa sangat cerah tanpa tetesan hujan sedikit pun. "Alhamdulillah, Enea hebat!" teriak Bu RT dari rumah sebelah sembari membawa termos berisi kopi tubruk. "Daffa, kamu penggemarnya, bukan? Keberhasilan ini seolah membawa nama Ponorogo ke Sirkuit Silverstone!" Pak Lurah menyusul dengan gelengan kepala penuh kekaguman. "Luar biasa, dari posisi belakang mampu mendahului Aleix, Binder, hingga Martin. Salut, Nak! Besok jangan terlambat membantu Bapakmu membawa sepeda motor ke bengkel, tetapi ceritakan dahulu detail balapan ini!" Masyarakat di sana bersorak, bukan karena mengenal Enea secara pribadi, melainkan karena perjuangan itu terasa milik bersama—warga desa yang terbiasa bekerja keras, namun memiliki impian besar yang melaju kencang layaknya motor Ducati Gresini di lintasan.

Tiba-tiba, ponselku berdering nyaring. Wildan, teman kuliahku, menghubungi melalui sambungan telepon. "Daffa! Aku menonton di kafe, siaran Trans7 sangat jernih dan sinyalnya sangat lancar. Luar biasa, Enea berhasil finis di posisi keempat! Kamu pasti sangat senang di Kepuhrubuh. Rasanya seolah kamu sendiri yang mendahului Martin di tikungan ke-16, tikungan Brooklands itu; pembalap independent terbaik! Ponorogo bangga, Kawan. Besok saat kuliah, tolong ceritakan secara lengkap, ya!"

Aku tertawa lepas, dadaku terasa menghangat penuh kebanggaan. Untuk sesaat, jarak ribuan kilometer dari Silverstone menuju Kepuhrubuh seolah runtuh. Aku, Daffa sang pemuda desa, merasa seakan berhasil membawa nama Ponorogo melampaui Jorge Martin di lap terakhir—beranjak dari posisi yang tidak menguntungkan menuju podium virtual. Pujian terus mengalir dan malam itu terasa seolah kami semua menjadi juara dunia.

Setelah layar televisi dimatikan dan warga membubarkan diri dengan janji untuk melanjutkan cerita esok hari, keheningan datang secara perlahan. Aku kembali duduk di atas karpet, menghirup aroma kopi tubruk yang masih tertinggal di ruangan sembari menatap kursi sofa yang kini kosong. Sebuah pertanyaan muncul dalam benakku: kapan giliranku mengejar impian secepat Enea Bastianini?

Malam itu berlalu dengan tawa dan cerita yang tak putus. Belum lama aku terlelap, suasana hening Desa Kepuhrubuh mulai berganti dengan syahdu suara selawat dari kejauhan. Aku sudah bangun lebih awal dari biasanya meskipun mata masih terasa berat. Aku segera bersiap karena Pak Agung sudah berjanji agar warga berkumpul di Masjid Ribaathu Adnin, yang terletak tepat di seberang rumah kami, untuk menunaikan salat Subuh berjamaah sekaligus berbagi kisah inspiratif soal perjuangan Enea Bastianini di tikungan Brooklands semalam.

Masjid Ribaathu Adnin yang terletak tepat di seberang rumahku tampak lebih ramai dari biasanya pada subuh ini. Setelah menunaikan salat Subuh berjamaah, seluruh warga tidak langsung beranjak pulang, melainkan berkumpul di serambi masjid. Warga Dusun Grageh berkumpul dengan masih mengenakan sarung, peci, mukena, serta membawa sajadah. Langit malam tadi memang sangat cerah tanpa tetesan hujan sedikit pun, dan kesegaran udara pagi itu menambah semangat warga. Beberapa di antaranya sempat pulang sebentar untuk membawa termos berisi kopi tubruk dan piring berisi kue talam. Di atas karpet serambi yang nyaman, Pak Agung berdiri dengan tangan melambai antusias.

"Assalamualaikum, warga RT 002! Saya meminta Bapak dan Ibu sekalian berkumpul sejenak di serambi ini karena ada kabar luar biasa yang patut kita jadikan teladan. Kabar gembira datang dari Sirkuit Silverstone semalam! Daffa, pemuda kebanggaan kita, menyaksikan jagoannya, Enea Bastianini, berhasil finis di posisi keempat sebagai pembalap independent terbaik!" ujar Pak Agung dengan suara menggelegar.

Pak Hartono, selaku kiai Masjid Ribaathu Adnin, ikut tersenyum dan memberikan komentar dari sudut serambi. "Perjuangan Nak Enea itu seperti dakwah yang sabar. Meskipun tertinggal di awal, ia tidak putus asa. Itulah cerminan kegigihan yang harus kita tiru dalam beribadah dan bekerja," ucap beliau dengan teduh.

Tak ketinggalan, Pak Kadim selaku Ketua RT 002/RW 002 Dusun Grageh, turut menimpali. "Betul sekali. Daffa tadi bercerita kalau siarannya sangat jernih dan sinyalnya lancar sekali karena menonton di Trans7. Padahal motor Enea sempat kehilangan winglet-nya, tapi ia tetap melaju kencang!"

Sorak-sorai meledak seketika. Ibu RT segera melangkah maju dengan mata berbinar, menyodorkan segelas kopi tubruk hangat kepadaku. "Daffa, rasanya seperti membawa nama Ponorogo hingga ke Silverstone! Bayangkan, ia mampu menyalip Jorge Martin di lap terakhir, tepat di tikungan 16 atau Tikungan Brooklands itu, ya? Hebat sekali, Nak!"

Aku tersipu, namun dadaku terasa hangat. "Alhamdulillah, Bu. Enea memang seorang petarung. Overtake yang dilakukannya di Tikungan Brooklands itu benar-benar bersih," jawabku sembari menerima kopi tersebut. Pak Lurah pun ikut menepuk pundakku. "Jika ada jadwal balapan berikutnya, rumahmu harus menjadi pusat nonton bareng warga RT!"

Bapak berdiri di sampingku dengan senyum lebar yang tulus. "Benar, Pak Lurah. Kemarin Daffa sampai menumpahkan kopi tubruknya karena terlalu bersemangat saat aksi comeback itu terjadi. Anak ini membuat kami semua merasakan atmosfer podium dunia di Desa Kepuhrubuh!"

Ibu ikut bergabung dari arah belakang sembari membawa nampan berisi kue talam. "Awalnya saya khawatir karena Daffa terjaga hingga larut malam, tetapi melihat antusiasme ini, seluruh dusun ikut merasa bangga."

Pak Agung kembali mengangkat tangannya. "Mulai hari ini, Daffa resmi menjadi koordinator pendukung MotoGP di RT 002 kita!" Semua orang tertawa dan bersorak serempak, "Setuju! Daffa memang juara!"

Saat suasana sedang riuh, ponsel di sakuku bergetar. Sebuah pesan masuk dari Wildan. "Daffa! Lihat ini, perjuangan Enea dan reaksi hebohmu sudah viral di TikTok 'Info Ponorogo'! Kamu benar-benar membawa semangat Silverstone ke desa kita!"

Pak Agung mengangkat tangannya sebagai tanda penutup perkumpulan di serambi masjid tersebut. "Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian, mari kita tutup diskusi pagi ini dengan semangat yang baru. Mari kita teladani kegigihan yang kita saksikan semalam. Semoga hari kita barakah," pungkasnya dengan senyum hangat. Para warga RT 002/RW 002, Dusun Grageh, Desa Kepuhrubuh, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo itu pun mulai bubar dengan perasaan puas dan tertib, kembali ke rumah masing-masing untuk memulai aktivitas.

Subuh ini terasa begitu istimewa bagi Daffa. Ia melangkah keluar dari gerbang Masjid Ribaathu Adnin yang terletak tepat di seberang rumahnya dengan hati yang masih berbunga-bunga. Pengalaman menonton MotoGP Inggris semalam masih membekas jelas—bagaimana siaran Trans7 terasa begitu jernih dan sinyal sangat lancar hingga ia tidak melewatkan satu detik pun aksi krusial di lintasan.

Sambil berjalan pulang, Daffa kembali membuka pesan dari Wildan. Sahabatnya itu mengabari bahwa euforia dukungannya sebagai fans sejati Enea Bastianini telah viral di akun TikTok "Info Ponorogo". Masyarakat maya ikut merayakan momen heroik saat Enea Bastianini menyalip Jorge Martin di lap terakhir, tepat di tikungan 16 atau Tikungan Brooklands. Keberhasilan Enea finis di posisi ke-4 dan menyabet gelar rider independen terbaik dalam balapan itu benar-benar membuat Ponorogo bangga.

Tak lama kemudian, Daffa bergegas membantu Bapak membawa sepeda motor ke bengkel untuk melakukan perawatan rutin. Langkahnya terasa lebih ringan, secepat motor Ducati Enea setelah melakukan aksi overtake. Di bawah mentari pagi Desa Kepuhrubuh yang menyinari hamparan sawah hijau, Daffa berjalan bersisian dengan Bapak—sosok yang selalu menjaga kesehatan dan tidak merokok itu—sambil berbincang ringan.

Bagi Daffa, semangatnya hari ini adalah api yang dipicu dari Sirkuit Silverstone. Keberhasilan Enea bukan sekadar angka di papan skor, melainkan simbol ketangguhan bagi warga Dusun Grageh. Di sepanjang jalan, ia bergumam pelan dalam hati, "Kapan giliranku mengejar impian secepat itu? Mungkin besok, atau pada kesempatan berikutnya. Ponorogo siap untuk melaju kencang."

Melihat perjuangan Enea dari posisi terbelakang akibat kerusakan winglet hingga melakukan manuver brilian di tikungan krusial, Daffa merefleksikannya sebagai realitas kehidupan. Tantangan seperti cuaca yang tidak menentu atau kendala teknis pada kendaraan tidak seharusnya menghalangi langkah untuk maju. Sebagai penggemar setia pembalap Gresini Racing tersebut, Daffa melihat bahwa ketekunan mampu meruntuhkan jarak ribuan kilometer, mengubah ruang tamu sederhana menjadi panggung kemenangan dunia. Dukungan komunitas pun terasa kental, sebagaimana sorak-sorai warga di sekitar Masjid Ribaathu Adnin yang menjadikan Daffa sebagai koordinator para pendukung MotoGP di desa mereka.

Dalam konteks Ponorogo yang kaya akan tradisi Reog dan sektor pertanian, keberhasilan Enea mengajarkan bahwa seorang pejuang—seperti halnya montir di bengkel atau petani di ladang—dapat bersaing dengan mereka yang berada di depan melalui akselerasi tekad dan doa. Pesannya jelas: setiap upaya untuk melampaui kesulitan hidup dimulai dari kemauan yang tidak tergoyahkan. Seperti deru mesin Ducati Gresini milik Enea di lintasan licin, generasi muda Ponorogo diharapkan tetap memacu semangat menuju prestasi, membawa nama desa ke kancah yang lebih luas dengan berlandaskan nilai gotong royong dan iman.

Hidup adalah lintasan balap yang penuh tikungan tajam dan hambatan teknis. Namun, selama kita memiliki keberanian untuk melakukan manuver di saat-saat sulit dan doa sebagai bahan bakarnya, garis finis kesuksesan hanyalah masalah waktu.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image