Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ahmad Fahmi F., S.H.

Child Grooming dan Kelalaian Orang Dewasa

Info Terkini | 2026-01-20 15:06:03

Perkembangan teknologi memang membawa banyak kemudahan, tetapi di saat yang sama juga menghadirkan risiko baru, terutama bagi anak-anak. Salah satu ancaman yang kini makin sering terjadi, namun kerap luput disadari, adalah child grooming. Istilah ini belakangan ramai diperbincangkan seiring meningkatnya aktivitas anak di media sosial, gim daring, dan berbagai platform digital lainnya.

Foto: FBHIS Umsida

Secara sederhana, child grooming adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk mendekati anak dengan cara manipulatif. Pelaku biasanya membangun hubungan emosional terlebih dahulu, menumbuhkan rasa percaya, lalu secara perlahan mengendalikan korban. Tujuan akhirnya beragam, mulai dari eksploitasi seksual, pemanfaatan konten pribadi, hingga tekanan psikologis yang merugikan anak. Proses ini jarang dilakukan secara terbuka. Justru sebaliknya, grooming sering berlangsung halus, bertahap, dan nyaris tidak terasa berbahaya di awal.

Pelaku grooming tidak selalu datang dengan wajah menyeramkan. Banyak di antaranya tampil ramah, perhatian, bahkan seolah menjadi sosok yang paling memahami korban. Di ruang digital, pendekatan ini bisa dimulai dari obrolan ringan, pujian, atau ketertarikan yang sama, seperti gim atau hobi tertentu. Setelah kedekatan terbangun, pelaku mulai menciptakan hubungan yang bersifat rahasia, menjauhkan anak dari pengawasan orang tua, dan perlahan memperkenalkan percakapan yang tidak pantas untuk usia anak.

Karena berlangsung tanpa kekerasan fisik di tahap awal, banyak anak tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi. Bahkan dalam beberapa kasus, korban justru merasa memiliki ikatan emosional dengan pelaku. Inilah yang membuat child grooming berbahaya sekaligus sulit terdeteksi.

Ada tanda-tanda yang patut diwaspadai, perubahan perilaku anak sering menjadi sinyal awal. Anak bisa menjadi lebih tertutup, enggan bercerita, atau sangat protektif terhadap ponsel dan aktivitas daringnya. Ada pula yang tiba-tiba menerima hadiah, uang, atau perhatian berlebihan dari seseorang yang tidak dikenal jelas oleh keluarga. Prestasi belajar menurun, emosi tidak stabil, atau kebiasaan berbohong tentang aktivitas online juga dapat menjadi petunjuk bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Dampak child grooming tidak bisa dianggap sepele, korban berisiko mengalami trauma psikologis jangka panjang, mulai dari gangguan kecemasan, depresi, hingga kesulitan membangun kepercayaan di masa depan. Dalam kasus yang lebih berat, grooming bisa berujung pada eksploitasi seksual, penyebaran konten pribadi, atau pemerasan yang menghantui korban bertahun-tahun setelah kejadian.

Pencegahan menjadi kunci utama, peran keluarga sangat menentukan, terutama melalui komunikasi yang terbuka dan sehat. Anak perlu merasa aman untuk bercerita tanpa takut disalahkan atau dimarahi. Orang tua juga perlu terlibat dalam kehidupan digital anak, bukan dengan cara mengintai secara berlebihan, tetapi dengan memahami platform yang digunakan, teman daringnya, serta pola interaksi yang terjadi.

Edukasi tentang batasan diri, keamanan digital, dan pentingnya menjaga privasi juga perlu ditanamkan sejak dini. Anak harus tahu bahwa tidak semua perhatian itu tulus, dan tidak semua orang yang ramah memiliki niat baik. Pendidikan seks yang sesuai usia, termasuk pemahaman tentang consent dan batas tubuh, juga menjadi bagian penting dalam membentengi anak dari manipulasi.

Di sisi lain, sekolah dan komunitas memiliki peran yang tak kalah penting. Edukasi kolektif melalui diskusi, seminar, atau kampanye kesadaran dapat membantu membuka mata masyarakat bahwa child grooming adalah ancaman nyata, bukan isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Secara hukum, meskipun istilah child grooming belum disebut secara spesifik dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia, berbagai ketentuan dalam Undang-Undang Perlindungan Anak dan Undang-Undang ITE dapat digunakan untuk menjerat pelaku. Penegakan hukum yang tegas, disertai keberanian masyarakat untuk melapor menjadi langkah penting agar kejahatan ini tidak terus berulang.

Child grooming sering baru disadari ketika masalahnya sudah terlanjur besar. Karena itu kepekaan orang tua, guru, dan lingkungan sekitar menjadi sangat penting. Semakin cepat tanda-tandanya dikenali, semakin kecil risiko anak terjerumus lebih jauh. Ruang digital memang tak bisa sepenuhnya steril, tapi dengan perhatian dan kepedulian bersama, anak-anak setidaknya tidak dibiarkan menghadapi ancaman ini sendirian.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image