Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Adi adiandra

Perjalanan ke Museum Fatahillah Menggunakan Moda Transportasi KRL

Sejarah | 2026-01-19 12:50:34

Perjalanan ini berawal dari hal yang sangat sederhana, yaitu naik kereta rel listrik atau KRL. Tidak ada rencana besar dan tidak ada agenda khusus. Saya hanya ingin keluar rumah bersama teman-teman, berhenti sejenak dari rutinitas aktivitas, dan melihat Jakarta dari sudut yang berbeda. Pilihan saya jatuh pada kawasan Kota Tua Jakarta dengan tujuan utama Museum Fatahillah, sebuah tempat yang sering disebut sebagai jantung sejarah kota ini.

Sejak berada di Stasiun Bekasi Timur Sabtu, 10 Januari 2026. Suasana sudah dipenuhi oleh berbagai aktivitas. Orang-orang berdiri di peron sambil menunggu kereta datang. Ada yang mengenakan pakaian kerja untuk berkantor atau bisnis, ada pelajar dengan tas ransel, ada pula keluarga yang tampak ingin berwisata, dan ada seorang anak yang memandangi pemandangan. Ketika KRL tiba, semua penumpang masuk ke gerbong yang sama. Tidak ada perlakuan khusus. Semua mengikuti alur yang sama, berdiri atau duduk sesuai ruang yang tersedia.

Di dalam KRL, saya melihat bagaimana ruang publik bekerja. Penumpang datang dari latar belakang yang berbeda, namun selama perjalanan mereka berbagi ruang dan waktu yang sama. Ketika gerbong mulai penuh, beberapa orang dengan sukarela memberi tempat duduk kepada penumpang lain yang membutuhkan. Ada pula yang saling mengingatkan ketika stasiun tujuan sudah dekat. Interaksi kecil seperti ini sering kali luput dari perhatian, padahal justru membentuk pengalaman menggunakan transportasi umum.

Perjalanan dengan KRL juga memberikan kesempatan untuk mengamati wajah Jakarta. Dari balik jendela kereta, gedung-gedung tinggi perlahan berganti dengan kawasan padat penduduk. Semakin mendekati Stasiun Jakarta Kota, bangunan-bangunan lama mulai terlihat. Suasana pun terasa berbeda. Ritme kota yang biasanya cepat seolah melambat, memberi ruang untuk bernapas dan mengamati sekitar.

Setibanya di Stasiun Jakarta Kota, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju kawasan Kota Tua. Bangunan tua dengan arsitektur khas kolonial berdiri kokoh di sepanjang jalan. Beberapa di antaranya sudah rekreasional, sementara yang lain masih mempertahankan kesan lama. Di tengah kawasan tersebut berdiri Museum Fatahillah, bangunan bersejarah yang dulunya berfungsi sebagai balai kota pada masa kolonial.

Memasuki museum, suasana terasa lebih tenang. Langkah kaki otomatis melambat, dan perhatian tertuju pada koleksi yang dipamerkan. Di dalam museum terdapat berbagai peninggalan sejarah, seperti peta kuno, perabot antik, dan dokumentasi perjalanan Jakarta dari masa ke masa. Setiap ruangan menyimpan cerita tentang bagaimana kota ini berkembang dan berubah.

Salah satu bagian museum yang paling memberikan kesan adalah ruang bawah tanah yang dahulu digunakan sebagai penjara. Ruangannya sempit, gelap, dan terasa lembap. Sulit membayangkan bagaimana manusia harus bertahan hidup di tempat seperti itu. Dari sini, sejarah tidak lagi terasa jauh atau abstrak. Ia hadir secara nyata dan mengajak pengunjung untuk memikirkannya.

Perjalanan ke museum ini terasa lebih mudah dan terjangkau berkat adanya KRL. Transportasi umum memungkinkan siapa saja untuk mengakses kawasan bersejarah tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Bagi pelajar dan masyarakat umum, hal ini menjadi keuntungan tersendiri karena sejarah dapat dipelajari secara langsung tanpa hambatan jarak dan biaya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image