Peran Ayah yang Hilang: Ancaman bagi Anak
Curhat | 2026-01-19 05:12:25
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak dalam proses tumbuh kembangnya. Di dalam keluarga, setiap anggota memiliki peran yang saling melengkapi, termasuk peran ayah sebagai figur otoritas, pelindung, dan teladan. Namun, dalam realitas sosial saat ini, tidak sedikit anak yang tumbuh dengan peran ayah yang tidak berjalan secara optimal. Ketidakhadiran peran ayah, baik secara fisik maupun emosional, kerap dianggap sebagai persoalan domestik semata. Padahal, kondisi tersebut berpotensi menjadi ancaman serius bagi perkembangan anak. Esai ini berargumen bahwa hilangnya peran ayah memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan emosional, sosial, dan psikologis anak, sehingga perlu mendapatkan perhatian serius dari keluarga dan masyarakat.
Peran ayah dalam keluarga tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan ekonomi. Ayah juga berfungsi sebagai sumber rasa aman, pembentuk disiplin, dan model identifikasi bagi anak. Dalam perspektif psikologi perkembangan, kehadiran figur ayah membantu anak memahami batasan, tanggung jawab, serta cara berinteraksi dengan lingkungan sosial. Ketika peran ini tidak dijalankan, anak berisiko mengalami kekosongan figur otoritas yang berdampak pada pembentukan kepribadian.
Ketidakhadiran peran ayah dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Ada ayah yang benar-benar tidak hadir secara fisik akibat perceraian, kematian, atau pekerjaan yang menuntut jarak. Ada pula ayah yang hadir secara fisik, tetapi absen secara emosional, tidak terlibat dalam pengasuhan, dan minim komunikasi dengan anak. Kedua bentuk ketidakhadiran ini sama-sama berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan anak.
Secara emosional, anak yang kehilangan peran ayah cenderung mengalami kesulitan dalam mengelola perasaan. Anak dapat merasa tidak diperhatikan, kurang dihargai, atau kehilangan figur yang seharusnya memberikan dukungan emosional. Kondisi ini dapat memicu munculnya perasaan cemas, rendah diri, dan ketidakamanan emosional. Dalam jangka panjang, anak berisiko mengalami gangguan kelekatan yang memengaruhi cara mereka membangun hubungan dengan orang lain.
Dari aspek sosial, ketidakhadiran peran ayah juga berpengaruh pada kemampuan anak berinteraksi dengan lingkungan. Ayah sering kali berperan dalam mengenalkan anak pada dunia luar, termasuk nilai keberanian, kemandirian, dan tanggung jawab sosial. Tanpa bimbingan tersebut, anak dapat mengalami kesulitan menyesuaikan diri, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Anak mungkin menjadi terlalu bergantung pada orang lain atau, sebaliknya, menunjukkan perilaku agresif sebagai bentuk kompensasi atas kehilangan figur ayah.
Selain itu, peran ayah sangat penting dalam pembentukan identitas anak. Bagi anak laki-laki, ayah sering menjadi model peran dalam memahami maskulinitas dan tanggung jawab sosial. Sementara bagi anak perempuan, ayah berperan dalam membentuk persepsi tentang hubungan interpersonal dan rasa aman terhadap figur laki-laki. Ketika peran ini hilang, anak berisiko mengalami kebingungan identitas dan kesulitan membangun relasi yang sehat di masa dewasa.
Sebagian pihak berpendapat bahwa peran ayah dapat sepenuhnya digantikan oleh ibu atau figur pengasuh lainnya. Pandangan ini perlu dikritisi. Meskipun ibu dan pengasuh lain dapat memberikan dukungan yang signifikan, peran ayah memiliki karakteristik tersendiri yang tidak sepenuhnya dapat digantikan. Setiap figur dalam keluarga membawa kontribusi unik dalam proses pengasuhan. Oleh karena itu, mengabaikan peran ayah berarti mengurangi keberagaman pengalaman pengasuhan yang dibutuhkan anak.
Dampak ketidakhadiran peran ayah juga terlihat dalam aspek akademik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak yang tumbuh tanpa keterlibatan ayah cenderung memiliki motivasi belajar yang lebih rendah dan menghadapi kesulitan dalam mengatur disiplin diri. Hal ini bukan semata-mata akibat ketiadaan pengawasan, tetapi juga karena kurangnya dukungan dan dorongan emosional yang seharusnya diberikan oleh ayah.
Dalam konteks masyarakat modern, tantangan terhadap peran ayah semakin kompleks. Tuntutan ekonomi dan tekanan pekerjaan sering membuat ayah lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Tanpa disadari, kondisi ini menciptakan jarak emosional antara ayah dan anak. Jika tidak diimbangi dengan komunikasi yang berkualitas, kehadiran fisik semata tidak cukup untuk memenuhi peran pengasuhan.
Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif tentang pentingnya peran ayah dalam keluarga. Ayah perlu dipandang tidak hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pengasuh yang aktif dan terlibat. Keterlibatan ayah dalam aktivitas sehari-hari anak, seperti berbicara, mendengarkan, dan mendampingi, merupakan bentuk kehadiran emosional yang sangat berharga bagi perkembangan anak.
Selain peran keluarga, lingkungan sosial dan kebijakan publik juga memiliki andil dalam mendukung keterlibatan ayah. Kebijakan yang ramah keluarga, seperti cuti ayah dan fleksibilitas kerja, dapat membantu ayah menjalankan perannya secara lebih optimal. Masyarakat juga perlu mengubah stigma bahwa pengasuhan adalah tanggung jawab ibu semata.
Sebagai kesimpulan, peran ayah yang hilang bukanlah persoalan sepele, melainkan ancaman nyata bagi perkembangan anak. Ketidakhadiran ayah, baik secara fisik maupun emosional, dapat memengaruhi perkembangan emosional, sosial, dan psikologis anak secara signifikan. Esai ini menegaskan bahwa keberfungsian keluarga tidak hanya ditentukan oleh kehadiran struktur formal, tetapi oleh pelaksanaan peran yang penuh tanggung jawab. Dengan meningkatkan kesadaran dan keterlibatan ayah dalam pengasuhan, anak memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh secara sehat dan seimbang.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
