Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Wafi Dhiyaulhaq

Neraca Pembayaran Indonesia di Tengah Gejolak Global

Ekbis | 2026-01-18 14:55:12

Neraca pembayaran Indonesia kembali menjadi sorotan ketika nilai tukar rupiah melemah sepanjang 2023–2024 dan tertinggal dari beberapa mata uang regional, termasuk ringgit Malaysia. Fenomena ini bukan sekadar persoalan fluktuasi kurs, melainkan cerminan dari kondisi fundamental sektor eksternal Indonesia yang tengah menghadapi tekanan global.

Dalam ekonomi terbuka, neraca pembayaran berfungsi sebagai “neraca kesehatan” hubungan ekonomi suatu negara dengan dunia internasional. Ketika neraca pembayaran melemah, pasokan devisa menurun, kepercayaan investor tertekan, dan stabilitas ekonomi nasional pun ikut terancam.

Tekanan eksternal Indonesia semakin terasa sejak pecahnya perang Rusia–Ukraina pada 2022. Lonjakan harga minyak dunia hingga menembus USD 120 per barel memperbesar nilai impor migas Indonesia. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, kenaikan tersebut secara langsung memperlebar defisit perdagangan migas dan menekan neraca berjalan. Walaupun lonjakan harga batubara dan CPO sempat memberi kompensasi, ketergantungan Indonesia pada energi impor tetap menjadi kerentanan struktural.

Tekanan lain datang dari perang dagang Amerika Serikat–Tiongkok sejak 2018. Ketegangan perdagangan global melemahkan volume perdagangan dunia, menekan permintaan ekspor Indonesia, dan memicu volatilitas pasar keuangan. Arus keluar modal dari emerging markets, termasuk Indonesia, meningkat tajam dan tercermin dalam pelemahan rupiah serta tekanan pada neraca keuangan.

Dinamika ini memperlihatkan bahwa persoalan neraca pembayaran Indonesia bukan sekadar siklus jangka pendek, tetapi mengandung masalah struktural yang perlu dibenahi. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa dalam periode 2010–2024, Indonesia beberapa kali mengalami defisit transaksi berjalan akibat ketergantungan pada ekspor komoditas dan impor barang modal serta energi.

Tekanan tersebut berpengaruh langsung pada nilai tukar rupiah. Ketika permintaan devisa meningkat untuk membiayai impor dan pembayaran utang luar negeri, sementara pasokan devisa terbatas, rupiah pun tertekan. Kondisi ini menjelaskan mengapa pada 2023–2024 rupiah bergerak lebih lemah dibanding ringgit Malaysia, yang relatif lebih diuntungkan oleh struktur ekspor dan cadangan devisa yang lebih stabil.

Pemerintah dan Bank Indonesia telah merespons tekanan tersebut melalui berbagai kebijakan: intervensi pasar valas, penerbitan instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), penyesuaian suku bunga, serta percepatan program hilirisasi dan diversifikasi ekspor. Kebijakan ini berhasil meredam gejolak jangka pendek, namun tidak akan cukup tanpa pembenahan struktural.

Kunci ketahanan neraca pembayaran Indonesia terletak pada transformasi ekonomi. Hilirisasi industri, khususnya pada sektor nikel dan mineral strategis, telah mulai memperbaiki struktur ekspor. Di saat yang sama, transisi energi dan pengembangan ekonomi hijau membuka peluang masuknya investasi asing berkualitas yang mampu memperkuat neraca keuangan sekaligus mendorong ekspor bernilai tambah.

Namun, tantangan masih besar. Ketergantungan pada investasi portofolio jangka pendek menjadikan Indonesia rentan terhadap gejolak global. Repatriasi keuntungan investor asing dan pembayaran bunga utang luar negeri terus menekan neraca pendapatan primer. Tanpa diversifikasi ekspor yang lebih luas dan pendalaman pasar keuangan domestik, tekanan eksternal akan terus berulang.

Neraca pembayaran bukan sekadar laporan statistik, melainkan fondasi stabilitas ekonomi nasional. Jika Indonesia ingin memiliki rupiah yang kuat dan ekonomi yang tangguh, reformasi struktural tidak boleh ditunda. Ketahanan eksternal harus dibangun melalui ekspor bernilai tambah, investasi berkualitas, serta pengelolaan sektor keuangan yang lebih berkelanjutan.

Ketika dunia semakin tidak pasti, kekuatan ekonomi Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga keseimbangan neraca pembayaran. Inilah ujian sesungguhnya ketahanan ekonomi nasional.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image