Krisis Dunia dan Kerinduan akan Kepemimpinan Global yang Membawa Rahmat
Agama | 2026-01-18 10:23:00Dunia saat ini bergerak di bawah pengaruh kekuatan global yang sangat besar. Amerika Serikat, bersama sistem kapitalisme yang dianutnya, menjadi salah satu aktor utama yang membentuk arah politik, ekonomi, dan budaya dunia. Dampaknya terasa hingga ke negeri-negeri Muslim, yang sering kali berada pada posisi lemah dalam percaturan global.
Ketimpangan ekonomi, ketergantungan politik, dan tekanan budaya bukanlah persoalan yang muncul begitu saja. Banyak negara, termasuk negeri-negeri Muslim, harus berhadapan dengan sistem global yang lebih mengutamakan kepentingan segelintir elite dibanding kesejahteraan umat manusia secara luas. Dalam situasi seperti ini, penderitaan kerap menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.
Dampak keserakahan sistem kapitalisme global juga terlihat jelas dalam krisis ekologis yang terus berulang. Kerusakan lingkungan, bencana alam, dan eksploitasi sumber daya terjadi di berbagai belahan dunia, sering kali dipicu oleh kepemimpinan yang mengabaikan keseimbangan alam demi keuntungan ekonomi jangka pendek. Alam diperlakukan sebagai komoditas, bukan amanah yang harus dijaga bersama.
Pada saat yang sama, Amerika Serikat semakin menunjukkan arogansi kekuasaannya di panggung internasional. Serangan militer, tekanan politik, dan ancaman terhadap berbagai negara—termasuk Venezuela—menjadi gambaran bagaimana kekuatan global digunakan untuk mempertahankan dominasi, bukan menciptakan keadilan dunia. Situasi ini memperlihatkan bahwa relasi global masih diwarnai oleh logika kekuasaan, bukan kemanusiaan.
Jika ditelisik lebih dalam, persoalan yang dihadapi umat Islam hari ini tidak dapat dilepaskan dari dominasi ideologi kapitalisme sekuler yang mengatur hampir seluruh sendi kehidupan. Ideologi ini tidak hanya memengaruhi sistem ekonomi, tetapi juga cara berpikir, cara menilai benar dan salah, bahkan cara manusia memaknai tujuan hidup. Dalam konteks umat Islam, pengaruh tersebut perlahan namun pasti menggerus fondasi kehidupan yang seharusnya bertumpu pada nilai-nilai Islam.
Dalam ranah akidah, sekularisme mendorong pemisahan agama dari kehidupan publik, sehingga keimanan direduksi menjadi urusan pribadi semata. Islam tidak lagi dipahami sebagai sistem hidup yang mengatur semua aspek kehidupan. Pada aspek muamalah dan ekonomi, kapitalisme menanamkan logika keuntungan sebagai ukuran utama. Praktik riba, eksploitasi, dan ketimpangan dianggap wajar selama menguntungkan pasar. Demikian pula dalam bidang akhlak dan sosial budaya, standar baik dan buruk sering kali ditentukan oleh kepentingan ekonomi dan popularitas, bukan syariat.
Pengaruh tersebut juga merambah dunia pendidikan. Pendidikan tidak lagi diarahkan untuk membentuk manusia berkepribadian mulia dan bertanggung jawab, melainkan sekadar mencetak tenaga kerja yang siap masuk ke dalam sistem yang sudah ada. Akibatnya, lahir generasi yang cakap secara teknis, tetapi rapuh secara nilai dan visi kehidupan.
Dalam skala global, Amerika Serikat sebagai salah satu aktor utama kapitalisme dunia menggunakan berbagai instrumen kekuasaan untuk mempertahankan dominasinya. Aneksasi wilayah, intervensi politik, tekanan ekonomi, hingga kekuatan militer kerap dijadikan sarana untuk menguasai sumber daya alam negara lain. Semua itu sering dilakukan tanpa mengindahkan tatanan hukum internasional maupun kecaman masyarakat dunia.
Pola ini menunjukkan bahwa kepentingan ekonomi dan politik berada di atas prinsip keadilan dan kedaulatan negara. Negara-negara yang kaya sumber daya, tetapi lemah secara politik, menjadi sasaran empuk dalam percaturan global. Realitas ini sekaligus memperlihatkan wajah kapitalisme global yang lebih mengutamakan penguasaan dan keuntungan daripada kemanusiaan dan keadilan.
Umat Islam seharusnya sadar, bahwa Ia memiliki sebuah ideologi yang paripurna yaitu Islam. Islam akan mampu menjadi modal kebangkitan umat melalui tegaknya kepemimpinan Islam. Kepemimpinan inilah yang akan mengonsolidasikan kekuatan umat untuk melawan hegemoni Amerika Serikat dan dominasi global yang menindas serta merusak tatanan dunia.
Kepemimpinan Islam merupakan satu-satunya harapan nyata untuk mengembalikan tatanan kehidupan dunia yang adil dan penuh rahmat. Dengan penerapan syariat Islam secara kafah, kehidupan manusia diarahkan pada keadilan, keseimbangan, dan keberkahan, bukan pada kepentingan segelintir elite penguasa.
Kepemimpinan global yang telah terbukti mengantarkan umat pada peradaban gemilang adalah Khilafah Islam. Khilafah tidak hanya berfungsi sebagai pelindung umat Islam, tetapi juga sebagai junnah bagi seluruh manusia. Ia menjaga masyarakat dunia dari berbagai bentuk kezaliman, kemungkaran, dan kemaksiatan, serta mencegah kerusakan sistemik yang melahirkan bencana kemanusiaan akibat sistem buatan manusia.
Wallahu a’lam bisshawab
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
