Menerangkan Cahaya Islam
Politik | 2026-01-13 08:06:09
Oleh Dra. Rahma
Praktisi Pendidikan
Gelapnya malam akan hilang dengan datangnya cahaya matahari. Hanya saja, cahaya itu haruslah cahaya yang benar-benar mampu mampu memerangi jalan, Bukan cahaya palsu yang, sekadar memancarkan kilau sesaat. cahaya hakiki yang bah arah perjalanan bangsa ini.
Fakta menunjukkan, kondisi gelap in adalah akibat dari penerapan sistem kapitalis liberal. Sistem itu dijadikan fondasi mengatur negeri ini. Amandemen UUD 45 di awal era Reformasi mengarah ke sana. Akibatnya, lahir; ketimpangan, ketidakadilan, kedaulatan yang rapuh, dan kekuasaanbyang terperangkap kepentingan oligarki.
Maka logikanya sederhana: jika penyebab utama kerusakan adalah sistem kapitalis-liberal, maka jalan keluar pertama dan utama adalah mencampakkan sistem itu.
Selama kapitalisme masih menjadi penopang kebijakan, selama liberalisme politik dan ekonomi tetap menjadi rujukan, negeri ini akan terus bergerak dalam lingkaran gelap yang sama. Pemimpin bisa saja berganti, program-program baru diumumkan, tetapi arah dasarnya tidak akan berubah. Yang dipertahankan tetap kepentingan modal, yang diutamakan tetap pasar, dan yang dikorbankan tetap rakyat. Karena itu, solusinya bukan tambal sulam. Bukan sekadar perbaikan teknis. Bukan mengganti operator tetapi membiarkan mesin yang rusak tetap bekerja. Yang dibutuhkan adalah perubahan fundamental: mengganti sistem itu sendiri.
Allah SWT menurunkan Islam sebagai petunjuk bagi umat manusia dalam mengatur dunia. Islam hadir sebagai solusi peradaban, bukan sekadar semboyan. Islam tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi menawarkan sistem hidup yang komprehensif: cara mengatur ekonomi, mengelola politik, menata masyarakat, bahkan mengelola kekuasaan.
Islam bukan sekadar nilai moral yang ditempel pada sistem lama. Islam adalah sistem yang berdiri sendiri, dengan asas, tujuan, dan mekanisme yang jelas. Inilah yang harus disadari secara jernih: jika akar masalahnya adalah sistem, maka solusinya pun harus berupa sistem.
Dalam Islam, kekuasaan bukan komoditas politik, tetapi amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Pemimpin bukan aktor dalam panggung demokrasi transaksional, tetapi pengurus rakyat yang wajib menegakkan keadilan berdasarkan tolok ukur Islam. Negara bukan pelayan kapital, tetapi pelindung umat.
Dengan kerangka itu saja, ada perbedaan tajam antara Islam dan liberalisme. Jika dalam kapitalisme kepentingan pasar berada di puncak piramida, maka dalam Islam yang berada di puncak adalah ketaatan kepada hukum Allah dan kemaslahatan rakyat secara nyata.
Dalam bidang ekonomi, Islam membangun sistem yang menolak dominasi kapital dan menghapus pemusatan kekayaan pada segelintir orang. Pengelolaan Sumber Daya Alam milik rakyat berada di tangan negara untuk kepentingan rakyat, bukan untuk dijual kepada korporasi raksasa atau asing. Sektor-sektor vital tidak boleh dikomersialisasikan, karena itu kebutuhan hidup umat, bukan komoditas untuk diperdagangkan demi keuntungan segelintir pihak. Dengan prinsip ini, kekayaan negeri dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh rakyat, bukan hanya tampil sebagai angka indah dalam laporan ekonomi.
Islam juga memiliki konsep keadilan sosial yang bukan jargon. Zakat, distribusi kekayaan, larangan riba, aturan kepemilikan, penegasan peran negara dalam menjamin kebutuhan dasar rakyat. Semuanya bukan teori kosong, la pernah hidup dalam sejarah, ia pernah bekerja dalam kehidupan nyata.
Umat Islam pernah menyaksikan dan merasakan bagaimana sistem Islam membangun peradaban yang kuat, adil, dan bermartabat. Sementara kapitalisme selalu menyisakan jurang, Islam justru membangun keseimbangan antara kepemilikan individu, peran negara, dan kepentingan masyarakat luas.
Lebih dari itu, Islam membangun masyarakat bukan di atas kebebasan tanpa batas seperti dalam liberalisme, tetapi di atas nilai keimanan, ketakwaan, dan tanggung jawab. Masyarakat bukan sekadar kumpulan individu yang saling bersaing, tetapi komunitas yang saling menjaga, menguatkan, dan menunaikan kewajiban sosial. Politik bukan arena pertarungan kepentingan, tetapi sarana ibadah untuk menjaga urusan umat.
Jika berkaca pada fakta sejarah, tak ada yang memungkiri, Islam pernah memimpin dunia. Islam pernah membangun peradaban maju, stabil, dan adil. Islam punya rekam jejak peradaban, bukan konsep yang masih sebatas percobaan. Sementara kapitalisme, yang kini dipertahankan mati-matian, jelas telah berkali-kali menunjukkan kegagalannya menciptakan keadilan.
Ironisnya, di negeri Muslim terbesar seperti Indonesia, sistem Islam belum pernah diberikan kesempatan untuk menjadi dasar mengatur negara. Yang dipakai selalu sistem warisan Barat, lalu rakyat diminta pasrah ketika ia berkali-kali gagal.
Dengan logika sederhana: jika sistem yang kita pakai saat ini jelas rusak dan merusak, sementara Islam menawarkan sistem yang utuh, pernah berhasil, dan sesuai dengan identitas mayoritas rakyat negeri ini, mengapa rakyat negeri ini harus terus bertahan pada sistem yang gagal? Mengapa harus terus memaksa rakyat hidup dalam tata aturan yang hanya menguntungkan elite dan penguasa modal?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
