Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Majelis Pustaka Informasi PCM Wiradesa

Bukan Istana Surga, Inilah Nikmat Paling Agung bagi Mukmin

Khazanah | 2026-01-18 09:05:22

Banyak orang membayangkan surga sebagai tempat penuh kemewahan: istana megah, sungai yang mengalirkan susu dan madu, serta kenikmatan tanpa batas. Gambaran itu benar adanya. Namun Islam mengajarkan bahwa seluruh keindahan surga belumlah puncak kebahagiaan bagi orang beriman. Ada satu nikmat yang jauh lebih agung, lebih dalam, dan lebih dicintai oleh penghuni surga: kesempatan memandang wajah Allah Ta’ala.

Keyakinan ini berangkat dari akidah bahwa Allah tidak menciptakan kehidupan secara sia-sia. Setiap manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat, dihisab amalnya, dan diberi balasan dengan keadilan sempurna. Orang-orang beriman memperoleh surga, sementara yang berpaling dari iman mempertanggungjawabkan pilihannya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.”

(QS. Yunus: 26)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa “tambahan” (ziyādah) dalam ayat ini bukan sekadar kenikmatan fisik. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menegaskan bahwa ziyādah adalah kenikmatan memandang wajah Allah, memperoleh ridha-Nya, serta merasakan kedekatan dengan-Nya. Inilah anugerah yang melampaui seluruh kenikmatan surga.

Makna tersebut ditegaskan dalam firman Allah yang lain:

“Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat.”

(QS. Al-Qiyamah: 22–23)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka secara nyata dengan mata kepala, sebagaimana ditegaskan dalam hadis sahih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda bahwa kaum mukmin akan melihat Allah sebagaimana mereka melihat bulan purnama—jelas dan tanpa kesulitan.

Menariknya, Rasulullah mengaitkan kenikmatan agung ini dengan amalan yang tampak sederhana, yakni menjaga sholat sebelum terbit dan sebelum terbenam matahari, yaitu sholat Subuh dan Ashar. Pesan ini seakan menegaskan bahwa perjumpaan terbesar di akhirat dibangun dari kesungguhan ibadah yang konsisten di dunia.

Lebih jauh, Rasulullah mengabarkan bahwa ketika penghuni surga telah menikmati seluruh kenikmatan, Allah masih menawarkan tambahan. Saat hijab disingkap, para penghuni surga menyadari bahwa tidak ada kenikmatan yang lebih mereka cintai selain memandang wajah Allah Ta’ala (HR. Muslim). Pada saat itulah, seluruh kebahagiaan mencapai puncaknya.

Karena itulah Rasulullah mengajarkan doa yang begitu mendalam: memohon lezatnya memandang wajah Allah dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya. Doa ini mengajarkan bahwa tujuan akhir hidup seorang mukmin bukan sekadar masuk surga, melainkan meraih ridha Allah dan kedekatan abadi dengan-Nya.

Di tengah dunia yang sering membuat manusia terlena, mengingat nikmat tertinggi ini akan meluruskan kembali arah hidup. Bahwa setiap sholat, kesabaran, dan keikhlasan yang terasa berat hari ini, sejatinya sedang mengantarkan kita menuju satu perjumpaan yang paling agung: memandang wajah Allah untuk selama-lamanya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image