Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image aldokusumaramadhan

Pariwisata Berkelanjutan Jadi PR Besar di Wakatobi

Wisata | 2026-01-18 03:36:05

Kabupaten Wakatobi dikenal sebagai salah satu destinasi wisata bahari unggulan Indonesia dengan kekayaan terumbu karang dan keanekaragaman hayati laut yang di akui secara global. Status sebagai taman nasional laut sekaligus destinasi pariwisata internasional menjadi Wakatobi contoh penting dalam upaya penerapan pariwisata berkelanjutan. Namun dibalik reputasi tersebut, terdapat tantangan yang signifikan, terutama persoalan sampah, yang kian mengancam kebersihan kawasan wisata, kesehatan lingkungan pesisir, dan kelestarian lingkungan, Isu-isu ini menjadi “PR besar” yang harus ditangani untuk memastikan manfaat ekonomi berjalan seiring dengan konservasi alam dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Pariwisata berkelanjutan adalah konsep yang semakin populer di Indonesia dan dunia, termasuk wilayah Wakatobi. Konsep ini menggabungkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan industri pariwisata untuk memastikan bahwa kegiatan pariwisata tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga menjaga lingkungan dan mendukung kesejahteraan masyarakat setempat.

Tantangan Pariwisata Berkelanjutan di Wakatobi

Namun dalam praktiknya, penerapan pariwisata berkelanjutan di Wakatobi masih menghadapi berbagai tantangan lingkungan yang serius yang mengancam kebersihan, keindahan, dan kelestarian terumbu karang yang ada di kawasan wisata bahari. Menurut Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Wakatobi, pada tahun 2020 sampah yang menumpuk mencapai 45 ton per harinya dan sekitar 30%-40% berupah sampah plastik. Karena hal itu, dampaknya sangat mengkhawatirkan, selain dapat mengganggu kehidupan warga, keberadaan sampah juga dapat merusak karang dan biota yang ada di dalamnya.

Sistem pengelolaan sampah di Wakatobi masih menghadapi kendala serius karena kondisi kepulauan, keterbatasan armada, dan belum meratanya layanan, kondisi ini membuat sampah tidak terangkut secara rutin, sehingga menumpuk di pemukiman, kawasan wisata, dan pesisir. karna hal ini berdampak langsung pada lingkungan dan kualitas hidup masyarakat. Hingga saat ini, fasilitas pengelolaan sampah terpadu seperti tempat pemilahan, daur ulang dan pengelolaan sampah berbasis teknologi masih sangat terbatas. Karna hal ini sebagian besar sampah ditimbun, dibakar, atau lebih parahnya dibuang ke lingkungan sekitar, termasuk laut.

Dengan keterbatasan infrastruktur, masyarakat lokal berada pada garis depan dalam menghadapi dampak sampah, baik sampah yang berasal dari aktivitas wisata, kehidupan sehari-hari , atau sampah kiriman dari wilayah lain. Selama ini, peran masyarakat dalam pengelolaan sampah masih cenderung terbatas pada upaya mandiri dan berskala kecil. Di beberapa desa, warga berinisiatif membentuk komunitas yang peduli akan sampah untuk membersihkan pantai atau mengelola sampah rumah tangga secara sederhana. Banyak warga belum mendapatkan pengetahuan yang memadai tentang pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, seperti pemilahan, daur ulang, atau pengelolaan limbah berbasis komunitas.

Tekanan terhadap lingkungan Wakatobi tidak hanya berasal dari persoalan sampah, tetapi juga dari aktivitas manusia dan dampak perbuahan iklim. Praktik penangkapan ikan yang merusak, seperti penggunaan bom dan racun sianida, mengancam kelestarian dan perkembangbiakan biota laut. selain itu, perbuahan iklim menjadi ancaman serius bagi ekosistem terumbu karang, menurut layanan kelautan Indonesia, pemanasan atmosfer dan lautan bumi terutama disebabkan oleh emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia.

untuk mengatasi hal tersebut, Wakatobi menerapkan kebijakan pariwisata berkelanjutan dan konservasi yang melibatkan pemerintah daerah, otoritas Taman Nasional, Masyarakat lokal, dan organisasi non-pemerintah. Salah satu implementasinya adalah kegiatan aksi bersih sampah yang dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah, pengelola kawasan konservasi, dan peningkatan kesadaran lingkungan.

Wakatobi, sebagai kawasan konservasi perairan prioritas juga memfokuskan upaya perubahan iklim melalui solusi berbasis ekosistem dan penguatan kapasitas masyarakat. Wakatobi juga mengimplementasikan kebijakan pariwisata dan konservasi yang berfokus pada Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Masyarakat (PERMATA) dan Solusi Berbasis Alam (NbS) untuk mengatasi perubahan iklim. Pendekatan ini mengintegrasikan pengetahuan lokal degan kerangka kebijakan nasional. PERMATA adalah strategi utama Dinas Pariwisata Wakatobi, yang menekankan aktif masyarakat lokal dalam pengelolaan pariwisata. Selain itu, Wakatobi mengadopsi NbS untuk adaptasi perbuahan iklim dan pengurangan risiko bencana diwilayah pesisir.

Pariwisata berkelanjutan masih menjadi PR besar bagi Wakatobi. Sebagai respons terhadap berbagai permasalahan pariwisata berkelanjutan di Wakatobi, diperlukan pendekatan tata kelola lingkungan yang lebih komprehensif melalui kerangka environmental governance in global tourism. Pendekatan ini menempatkan pariwisata tidak hanya sebagai sektor ekonomi, tetapi sebagai arena politik dan sosial yang melibatkan banyak aktor dalam pengelolaan sumber daya alam. Pemerintah daerah perlu berperan sebagai koordinator utama yang memastikan kebijakan pariwisata dan lingkungan berjalan selaras, sementara masyarakat lokal didorong menjadi aktor kunci dalam pengelolaan kawasan wisata dan pengawasan ekosistem laut. perlibatan wisatawan dalam aktivitas konservasi, seperti program edukasi lingkungan, aksi bersih pesisir, atau kontribusi langsung terhadap perlindungan terumbu karang, dapat menjadi strategi untuk meningkatkan kesadaran sekaligus tanggung jawab kolektif terhadap lingkungan.

Diperlukan penguatan pengelolaan Di tengah statusnya sebagai destinasi wisata bahari kelas dunia, berbagai persoalan seperti pengelolaan sampah, keterbatasan infrastruktur tekanan terhadap ekosistem laut, serta rendahnya kapasitas sumber daya manusia menunjukkan bahwa keindahan alam saja tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan pariwisata. Tanpa pengelolaan yang tepat, pariwisata justru berpotensi mempercepat kerusakan lingkungan dan memperlebar kesenjangan sosial bagi masyarakat lokal.

Namun tantangan tersebut juga membuka peluang besar. Jika dikelola dengan benar dan berkelanjutan, pariwisata dapat menjadi solusi, bukan masalah. Pariwisata berkelanjutan dapat mendorong laju pertumbuhan ekonomi lokal, masyarakat lokal juga menjadi pemeran utama, sekaligus menjadi instrumen efektif dalam menjaga kelestarian lingkungan laut Wakatobi. Menjaga Wakatobi bukan semata tugas pemerintah atau pengelola kawasan konservasi. Melainkan juga tanggung jawab bersama. Wakatobi harus di perlakukan bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi warisan alam yang harus dijaga untuk generasi mendatang.

Sampah plastik di kawasan pesisir menunjukkan lemahnya pengelolaan lingkungan. tanpa perbaikan serius, pariwisata berkelanjutan sulit di wujudkan. sumber foto: Unsplash.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image