Nanas Madu Belik: Manis Tak Sekadar Rasa, Tapi juga Penghidupan Warga Pemalang
Kuliner | 2026-01-16 07:47:57Di sebuah sudut jalan menuju Kecamatan Belik, aroma manis nanas madu perlahan menyatu dengan hangatnya udara siang Pemalang. Di sana, tumpukan nanas dengan warna kuning cerah tersusun rapi, seolah menyapa siapa pun yang melintas. Bukan sekadar buah, nanas madu bagi warga Pemalang adalah cerita tentang harapan, kerja keras, dan kebanggaan.
Bagi masyarakat Belik, nanas madu telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Rasanya yang manis, tekstur lembut, serta aroma khasnya telah menjadikan buah ini ikon yang mengharumkan nama daerah. Tak hanya dikenal di Indonesia, nanas madu Belik bahkan telah menembus pasar internasional hingga Jepang dan Arab Saudi.
Namun, di balik popularitasnya, ada kisah manusia yang berjalan bersama buah ini. Ada keluarga yang hidup dari hasil kebun nanas, ada pedagang yang menggantungkan harapan pada setiap buah yang terjual, dan ada rasa bangga yang tumbuh karena hasil bumi kecil dari desa mampu dikenal dunia.
Di sepanjang jalur Pemalang–Belik, deretan pedagang nanas menjadi pemandangan yang hampir tak pernah absen. Salah satunya Iwan, seorang pedagang yang telah bertahun-tahun berjualan di pinggir jalan tersebut. Di bawah payung sederhana, ia menjaga lapak sambil melayani pembeli yang datang silih berganti.
“Setiap hari pedagang di sini dijatah sekitar 200 buah, dan itu pun sering habis sebelum sore. Hampir semua pedagang sangat terbantu dengan usaha nanas madu ini, karena memang inilah salah satu sumber mata pencaharian utama kami,” ujar Iwan, Senin (27/11/2025).
Bagi Iwan, nanas madu bukan hanya soal jual beli. Ada ikatan emosional dengan buah ini, karena dari sinilah kebutuhan keluarga dipenuhi, anak sekolah, dan kehidupan terus berjalan. Iwan bercerita, pembeli sekarang semakin paham memilih nanas berkualitas.
“Nanas madu yang bagus biasanya terlihat dari kulitnya yang bermata lebar dan warna kuning yang merata. Aromanya juga lebih wangi, dagingnya empuk, dan rasanya manis alami tanpa rasa asam,” jelas Iwan, Senin (27/11/2025).
Yang membuatnya bangga, banyak pembeli datang dari luar kota, bahkan rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk merasakan manisnya nanas madu Belik. Keberadaan nanas madu tak hanya menggerakkan ekonomi lokal, tetapi juga mengikat kebersamaan warga. Para petani, pengepul, hingga pedagang saling terhubung dalam satu rantai kehidupan yang sama. Uniknya, nanas madu tak mengenal musim tertentu, sehingga roda ekonomi tetap berputar sepanjang tahun.
Kini, nanas madu Belik tidak hanya menjadi buah yang dijual di pinggir jalan. Ia telah menjadi identitas daerah, simbol kebanggaan, sekaligus bukti bahwa dari kota kecil seperti Pemalang, bisa lahir sesuatu yang besar, manis, dan membekas dalam cerita banyak orang. Karena pada akhirnya, nanas madu Belik bukan hanya soal rasa tetapi tentang kehidupan yang terus tumbuh bersamanya.
Anisah Dwi Ayuningtias Candra, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
