Jejak Tirani dalam Puisi Bunga dan Tembok Karya Wiji Thukul dan Kau Karya Nike Hanasasmit
Sastra | 2026-01-15 00:07:27Jejak tirani dalam Puisi Bunga dan Tembok karya Wiji Thukul dan Kau karya Nike Hanasasmit dapat dibaca sebagai suara perlawanan yang lahir dari cerminan hidup di bawah kekuasaan yang menekan. Kedua puisi ini tidak sekadar menghadirkan kata kata indah tetapi menjadikan bahasa sebagai alat untuk menyingkap praktik pembungkaman ketakutan dan dominasi negara atas warganya.
Dalam puisi Bunga dan Tembok Wiji Thukul menghadirkan tirani melalui metafora yang sangat konkret dan mudah dibayangkan Bunga dan tembok berdiri sebagai dua kekuatan yang saling berhadapan. Tembok melambangkan penguasa kekuasaan yang keras tertutup dan menindas sementara bunga merepresentasikan rakyat kecil yang hidup rapuh tetapi terus tumbuh. Metafora ini bukan sekadar hiasan bahasa melainkan cara Wiji memvisualisasikan konflik antara kekuasaan dan kemanusiaan. Tembok hadir sebagai simbol pembatas ruang hidup sebagai wujud nyata dari sistem yang menutup akses rakyat terhadap tanah penghidupan dan masa depan
Penindasan dalam puisi ini ditunjukkan melalui praktik kekuasaan yang mengatasnamakan pembangunan. Penguasa membangun rumah jalan raya dan pagar besi tetapi pembangunan itu justru mengorbankan rakyat Bunga digambarkan dirontokkan di bumi sendiri sebuah ironi yang menunjukkan bagaimana rakyat terusir dari ruang hidupnya atas nama kemajuan. Namun Wiji tidak membiarkan puisi ini tenggelam dalam keputusasaan. Keyakinan kolektif itu ditegaskan dalam larik
dalam keyakinan kami
di mana pun tirani harus tumbang
Larik ini menegaskan bahwa tirani bukan sesuatu yang abadi. Nada perlawanan yang lantang dalam Bunga dan Tembok menemukan bentuk yang lebih lirih tetapi tak kalah tajam dalam puisi Kau karya Nike Hanasasmit Tirani di sini tidak selalu hadir sebagai kekerasan terbuka melainkan sebagai pengabaian dan ketidakpedulian. Puisi ini dibangun dari suara rakyat yang letih dan nyaris tak terdengar Larik
Apa tak kau lihat keringat kami
Keletihan kami
Hanya demi sesuap nasi
menunjukkan betapa jerih payah rakyat tidak pernah benar benar diperhatikan. Keringat dan lelah menjadi sesuatu yang tak terlihat oleh penguasa.
Kritik semakin mengeras ketika penyair berseru.
Lihat negeri ini
Sudah tiadakah hati
Sudah tiadakah mata
Pertanyaan ini bukan sekadar keluhan tetapi tudingan langsung bahwa kekuasaan telah kehilangan empati dan nurani. Tirani bekerja dengan cara menutup mata dan telinga membuat rakyat tak hanya miskin secara materi tetapi juga kehilangan tempat untuk mengadu. Ketika ruang keadilan tertutup rakyat pun bertanya.
Hingga tak pernah kau lihat kami
Lalu harus kemanakah kami
Di titik paling getir puisi ini rakyat menyadari keterbatasan kuasanya.
Kami memang tak mampu balas dirimu
Karena Tuhan yang akan balas dirimu
Larik ini memperlihatkan betapa jauhnya jarak antara rakyat dan penguasa. Keadilan tidak lagi diharapkan dari sistem atau negara melainkan diserahkan pada Tuhan. Ini bukan semata pasrah tetapi potret pahit tentang macetnya keadilan di dunia nyata.
Jika Bunga dan Tembok menampilkan perlawanan yang optimistis dengan keyakinan bahwa tirani pasti runtuh maka Kau menunjukkan wajah lain dari tirani yakni kelelahan sosial dan rasa tak berdaya. Keduanya sama sama merekam jejak kekuasaan yang menindas baik secara fisik maupun batin. Puisi puisi ini menjadi pengingat bahwa tirani tidak selalu berbentuk senjata dan kekerasan tetapi juga bisa hadir lewat tembok pembangunan dan sunyinya empati.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
