Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rizki Aulia

Antara Mahasiswa dan Algoritma: Siapa yang Menyetir Siapa?

Teknologi | 2026-01-14 23:38:19

Kehadiran (AI) di bangku perkuliahan bukan lagi sebuah tren, melainkan realitas yang tak terelakkan. Namun, jika kita melihat lebih dalam dari sekadar kemudahan yang ditawarkan, ada ketegangan yang mengkhawatirkan antara peningkatan performa dan penurunan kualitas berpikir mahasiswa.

Opini saya, AI seringkali memberikan "ilusi kepintaran" kepada mahasiswa. Dengan sekali klik, jawaban atas tugas yang rumit tersedia secara instan. Di sinilah letak bahayanya: ketika mahasiswa merasa sudah menguasai materi hanya karena mereka bisa mengoperasikan AI, padahal proses sinapsis di otak untuk memahami konsep tersebut tidak pernah terjadi. Membantu? Secara administratif, ya. Membuntukan? Secara intelektual, sangat mungkin.

Banyak yang berargumen bahwa AI meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Namun, secara pribadi, saya melihat ini hanya berlaku bagi mahasiswa yang sudah memiliki dasar logika yang kuat. Bagi mayoritas, AI justru menjadi celah untuk menghindari kesulitan. Padahal, esensi dari kuliah adalah bergelut dengan kesulitan tersebut. Jika mahasiswa terus-menerus menggunakan AI sebagai "penulis bayangan", kita sedang memanen generasi yang memiliki gelar akademik tetapi kehilangan suara dan karakter dalam pemikirannya.

Ilustrasi mahasiswa sedang menggunakan ai. sumber foto: radarmalioboro.jawapos.com

Seharusnya, AI diposisikan sebagai cermin penguji ide, bukan sumber jawaban akhir. Performa sejati bukan diukur dari rapinya laporan yang disusun oleh mesin. Dosen dan kampus harus mulai mengutamakan dialektika dan diskusi tatap muka. Uji kemampuan mahasiswa secara real-time untuk membuktikan mereka lebih dari algoritma.

AI tidak akan membuat mahasiswa bodoh, tapi ia memfasilitasi kemalasan untuk terlihat pintar. Kita harus memilih: menggunakan AI untuk naik kualitas, atau sekadar naik kelas administratif. Jangan sampai teknologi yang kita ciptakan justru membunuh nalar yang kita miliki. Pada akhirnya, integritas tetaplah mata uang yang paling berharga di dunia akademik.

AI Sebagai Cermin, Bukan Jawaban

Seharusnya, AI digunakan sebagai cermin untuk menguji ide, bukan sebagai sumber jawaban akhir. Performa akademis yang sejati bukan diukur dari seberapa rapi laporan yang dihasilkan AI, melainkan dari sejauh mana mahasiswa mampu mendebat, memverifikasi, dan mengembangkan hasil dari AI tersebut. Tanpa kemampuan verifikasi, mahasiswa hanyalah kurir informasi yang dihasilkan oleh mesin.

Pendidikan tinggi harus berhenti terobsesi pada "hasil akhir" (seperti nilai atau makalah) dan mulai beralih pada pengujian "proses". Jika sistem penilaian masih berbasis tugas tertulis yang mudah dikerjakan AI, maka pendidikan kita sedang menuju kebuntuan. Mahasiswa harus dipaksa untuk kembali ke dialektika, diskusi tatap muka, dan pemecahan masalah secara real-time untuk membuktikan bahwa mereka lebih pintar dari algoritma yang mereka gunakan.

AI tidak akan membuat mahasiswa bodoh, tetapi ia akan memfasilitasi mahasiswa yang malas untuk tetap terlihat pintar. Pilihannya ada pada individu: ingin menggunakan AI untuk naik kelas secara kualitas, atau sekadar naik kelas secara administratif.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image