Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Faris Dedi Setiawan

Sarjana, Jangan Cuma Pamer IPK! Ini Skill 'Mahal' saat AI Makin Cerdas

Teknologi | 2026-02-13 08:47:50
Faris Dedi Setiawan - Founder Whitecyber

Pernahkah kamu merasa cemas saat melihat betapa cepatnya AI seperti ChatGPT atau Gemini menyelesaikan tugas yang dulu butuh waktu seminggu? Skripsi diselesaikan dalam hitungan jam, koding program ditulis dalam hitungan detik. Lalu, muncul pertanyaan di benak kita :

Kalau mesin sudah bisa melakukan semua ini, lalu saya kerja apa nanti?

Kecemasan ini valid. Di tahun 2026 ini, kita sedang menyaksikan pergeseran tektonik dalam dunia kerja. Gelar sarjana yang dulu dianggap tiket emas, kini mulai dipertanyakan relevansinya jika pemiliknya hanya punya kemampuan standar.

Sebagai praktisi data yang berbasis di Ambarawa, saya sering melihat banyak talenta muda yang terjebak. Mereka menggunakan tools AI, tapi bingung ketika diminta memecahkan masalah nyata. Inilah jebakan "Prompt Engineer" yang sedang berkembang di generasi kita.

Bahaya Menjadi Sekadar "User"

Banyak yang bangga bisa menyuruh AI membuatkan puisi atau script Python sederhana. Tapi hati-hati, di mata industri teknologi saat ini, kemampuan itu mulai menjadi komoditas murah. Siapapun bisa melakukannya.

Jika kamu hanya memposisikan diri sebagai User (pengguna), posisimu akan mudah digantikan oleh User lain yang mau dibayar lebih murah—atau bahkan digantikan oleh bot otomatis.

Indonesia di tahun 2030 tidak membutuhkan jutaan pengguna AI. Kita membutuhkan AI Orchestrator. Apa bedanya? Pengguna hanya meminta, tapi Orkestrator memimpin. Seorang Orkestrator paham bagaimana merangkai output dari berbagai AI (teks, gambar, data) menjadi sebuah solusi bisnis yang utuh dan beretika.

IPK vs "Learning by Outcome"

Di Whitecyber Data Science Lab , kami sering menolak pelamar yang datang membawa tumpukan sertifikat seminar tapi gagap saat ditanya: "Masalah apa yang sudah kamu selesaikan?"

Dunia akademik kita seringkali terlalu fokus pada Input (berapa jam belajar, berapa nilai ujian) dan lupa pada Outcome (apa dampak nyatanya). Inilah mengapa saya menggagas metode Learning by Outcome (LBO).

Bagi teman-teman mahasiswa atau fresh graduate, mulailah ubah pola pikir. Jangan lagi belajar demi nilai A. Belajarlah demi menghasilkan produk. Jangan bangga bisa bahasa pemrograman Python, tapi banggalah kalau kodemu bisa membantu UMKM di desamu mengatur stok barang. Validasi kepakaran di era ini bukan lagi selembar kertas ijazah, tapi jejak digital karya nyata (Digital Artifacts).

Membangun Teknologi dari Desa

Mungkin ada yang bertanya, "Memangnya bisa jadi pakar teknologi kalau tidak tinggal di Jakarta atau Silicon Valley?" Jawabannya: Sangat bisa. Saya membuktikannya dari kaki Gunung Ungaran, Ambarawa. Di era konektivitas 5.0, lokasi geografis bukan lagi penghalang. Yang menjadi penghalang adalah mentalitas kita sendiri.Justru, kearifan lokal seringkali menjadi kunci yang hilang dalam pengembangan AI. Teknologi yang kita bangun harus membumi. Jangan sampai kita sibuk membangun AI canggih di awan, tapi lupa pada masalah perut tetangga sebelah. Inilah esensi dari teknologi yang membebaskan.

Pesan untuk Generasi Emas

Teman-teman Kumparan, jangan memusuhi AI. Jangan pula mendewakannya. Jadikan AI sebagai "kuda tunggangan" kalian. Kalianlah kusirnya.

Mulai hari ini, kurangi waktu scroll media sosial. Mulailah membangun portofolio. Buat riset kecil-kecilan. Tulis opinimu di blog. Bantu komunitasmu dengan data.Ingat, di tahun 2030 nanti, perusahaan tidak akan bertanya "Kamu lulusan mana?", tapi mereka akan bertanya "Apa yang sudah kamu orkestrasikan?".

Jadilah pemain, jangan cuma jadi penonton.

Tentang Penulis:

Faris Dedi Setiawan adalah Google Cloud Innovator dan Founder Whitecyber Data Science Lab yang berbasis di Ambarawa. Ia aktif mengkampanyekan kedaulatan data dan metode pendidikan Learning by Outcome.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image