Catatan Seorang Pembaca yang Terlambat Pulang
Sastra | 2026-01-14 21:16:23
Saya membaca cerita itu tanpa niat khusus. Tidak sedang mencari pencerahan, tidak juga ingin tersinggung. Saya hanya membuka layar, membaca beberapa paragraf pertama, lalu terus lanjut sampai akhir. Setelah itu, saya diam lebih lama dari yang saya kira.
Bukan karena ceritanya rumit. Justru karena ia terlalu dekat.
Cerita itu tidak memberi kejutan. Tidak ada plot berliku, tidak ada tokoh heroik yang menyelamatkan keadaan. Yang ada hanya rangkaian situasi yang terasa biasa: aula kampus, kata-kata resmi, orang-orang yang tahu perannya masing-masing. Semua tampak tertib. Semua tampak berjalan.
Dan di situlah letak gangguannya.
Karena saya sadar, hampir semua yang saya baca pernah saya lihat sendiri. Atau lebih jujur lagi: pernah saya anggap wajar.
Saya berhenti sejenak di satu bagian—tentang proses yang katanya terbuka, tapi hasilnya sudah lama beredar. Tentang pemilihan yang sah secara administratif, namun hampa secara moral. Tidak ada kecurangan yang bisa ditunjuk dengan jari. Tidak ada pelanggaran yang bisa dilaporkan. Hanya rasa bahwa sesuatu yang penting telah dilewati begitu saja.
Saya menutup layar dan bertanya pada diri sendiri: sejak kapan kita terbiasa hidup dengan perasaan seperti itu?
Cerita itu tidak menyalahkan siapa pun secara langsung. Ia bahkan tidak tampak marah. Nada yang dipakai tenang, hampir datar. Tapi justru karena itulah saya merasa disudutkan. Sebab ia tidak memberi ruang untuk bersembunyi di balik emosi besar. Ia hanya menunjukkan kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita rawat bersama.
Seperti rapat yang selesai tepat waktu tapi tidak menyentuh inti persoalan. Seperti laporan yang rapi tapi tidak menjawab kenyataan. Seperti senyum yang dijaga demi suasana, bukan demi kebenaran.
Saya teringat masa kuliah dulu. Betapa sering kami mengeluh tentang sistem, tapi jarang benar-benar mempertanyakannya. Kami belajar cepat: mana yang sebaiknya diucapkan, mana yang sebaiknya disimpan. Mana yang berisiko, mana yang aman. Lama-lama, itu bukan lagi strategi. Itu menjadi watak.
Cerita ini seperti memperlihatkan hasil akhirnya.
Kampus yang tampak unggul, terukur, modern—namun perlahan kehilangan keberanian untuk jujur pada dirinya sendiri. Dosen-dosen yang semakin sibuk mengejar angka, bukan makna. Mahasiswa yang merasa relasi akademik adalah transaksi: saya bayar, saya lulus, selesai.
Yang membuat saya terus memikirkan cerita ini adalah cara ia menempatkan orang-orang yang memilih tidak ikut arus sepenuhnya. Mereka tidak dipuja. Tidak diberi panggung besar. Mereka hanya disebut ada—bekerja pelan, konsisten, dan sering luput dari perhitungan.
Saya tahu, tipe orang seperti itu sering dianggap naif. Tidak adaptif. Tidak strategis. Padahal merekalah yang biasanya menjaga agar sesuatu tidak runtuh sepenuhnya.
Cerita itu tidak berkata bahwa mereka akan menang. Bahkan sebaliknya, mereka sering tersingkir. Tapi ia menegaskan satu hal yang jarang diucapkan: kekalahan tidak selalu berarti salah.
Saya membaca bagian itu berulang kali.
Mungkin karena di situlah cerita ini terasa paling jujur. Ia tidak menawarkan optimisme murah. Ia tidak menghibur dengan janji perubahan besar. Ia hanya mengingatkan bahwa masih ada pilihan untuk tidak sepenuhnya tunduk pada logika transaksional.
Saat membayangkan dua puluh tahun ke depan, saya tidak melihat distopia yang dramatis. Tidak ada kehancuran spektakuler. Yang saya lihat justru kelanjutan yang halus: kampus yang semakin efisien, semakin tertata, semakin rapi—dan semakin jauh dari fungsi awalnya sebagai ruang berpikir bebas.
Segala sesuatu mungkin akan tampak baik-baik saja. Tidak ada konflik terbuka. Tidak ada krisis besar. Semua berjalan sesuai indikator. Tapi justru di situlah bahaya itu bekerja: ketika nilai digantikan oleh target, dan etika diringkas menjadi kepatuhan.
Cerita ini membuat saya sadar bahwa masa depan tidak selalu datang sebagai kejutan. Ia sering datang sebagai rutinitas yang dibiarkan.
Saya membayangkan generasi yang masuk kampus dengan idealisme sederhana: ingin belajar, ingin mengerti, ingin berkontribusi. Lalu pelan-pelan belajar bahwa yang lebih dihargai adalah kemampuan membaca situasi, bukan ketajaman berpikir. Kemampuan menjaga posisi, bukan keberanian bertanya.
Jika itu yang diwariskan hari ini, maka dua puluh tahun lagi kita mungkin akan memiliki banyak sarjana, banyak profesor, banyak pemimpin akademik—tapi semakin sedikit intelektual dalam arti yang sesungguhnya.
Namun anehnya, cerita ini tidak membuat saya ingin menyerah.
Mungkin karena ia tidak berbicara tentang revolusi. Ia berbicara tentang ketahanan kecil. Tentang orang-orang yang memilih tetap membaca ketika yang lain sibuk menghitung. Tentang mereka yang tetap mengajar dengan serius meski tahu sistem tidak selalu berpihak. Tentang mahasiswa yang masih mau bertanya bukan demi nilai, tapi demi pemahaman.
Cerita ini seperti catatan pinggir sejarah—tidak masuk arsip resmi, tapi menentukan arah secara perlahan.
Saya menyadari, ini bukan cerita tentang kampus tertentu. Ini tentang cara kita mengelola ruang bersama: apakah sebagai tempat tumbuh, atau sekadar mesin produksi gelar dan jabatan.
Dan sebagai pembaca, saya merasa diajak bertanggung jawab. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk memilih: mau terus menganggap semuanya wajar, atau mulai mengakui bahwa ada sesuatu yang salah, meski sulit diperbaiki.
Ketika saya menutup cerita itu untuk terakhir kali, tidak ada perasaan lega. Yang ada justru kewaspadaan baru. Seperti setelah membaca laporan yang jujur tentang masa depan—bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk mengingatkan bahwa arah selalu bisa berubah, meski pelan.
Cerita itu selesai. Tapi ia bekerja di kepala saya lebih lama dari yang saya duga.
Dan mungkin, itulah fungsi terbaik sebuah cerita hari ini: bukan membuat kita kagum, melainkan membuat kita tidak terlalu cepat merasa selesai.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
