Cinta dan Kebebasan
Edukasi | 2026-03-09 06:31:25
Siapa yang akan menyangka, disaat menunggu sidang proposal,seorang mahasiswi diserang dengan kapak oleh teman dekatnya. Kejadian ini terjadi di UIN Sultan Syarif Kasim Riau dan sempat viral.
Dalam kasus ini, penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Pekanbaru telah menetapkan seorang pemuda bernama Raihan Mufazzar (21) sebagai tersangka. Ia diduga melakukan penganiayaan terhadap korban menggunakan senjata tajam berupa kapak setelah cintanya ditolak oleh korban. (Riau Online, 6 Maret 2026).
Penganiayaan oleh seorang pemuda ini diduga kuat karena masalah percintaan. Korban yang sudah mempunyai seorang kekasih, ternyata menjalin cinta dengan teman KKNnya yaitu Raihan (yang sekarang menjadi tersangka). Hubungan mereka sudah terlampau jauh. Hingga saat tersangka meminta kejelasan hubungan, ternyata korban tidak berkenan menerima cinta dari tersangka. Kemudian terjadilah insiden penganiayaan tersebut di dalam kampus.
Cinta merupakan sesuatu yang bersifat fitrah ada pada setiap manusia. Saat ini cinta bebas diekspresikan dalam bentuk yang beragam, mulai dari pacaran, perselingkuhan, hingga perzinaan di kalangan anak muda. Beragam ekspresi cinta ini dianggap normal saja terjadi, karena kehidupan sekarang merupakan kehidupan yang diselimuti dengan nilai-nilai kebebasan (liberalisme) dan jauh sekali dari panduan agama Islam.
Maka saat agama tak lagi menjadi panduan generasi muda, lahirlah perilaku-perilaku bebas, semaunya sendiri, dan bahkan tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain. Seperti perilaku yang menyakiti fisik, jiwa dan berpotensi menghilangkan nyawa orang lain. Perilaku bebas ini makin diperkuat ketika institusi pendidikan yang diharapkan mampu mendidik generasi menjadi kepribadian mulia, ternyata telah gagal dalam mewujudkannya. Karena pendidikan yang ada dalam sistem sekuler saat ini, memandang generasi hanya sebagai faktor ekonomi yang punya nilai produktif semata.
Pandangan di atas tentu berbeda dengan pandangan di dalam Islam. Islam memandang tujuan utama pendidikan bukan hanya terfokus pada capaian akademik semata. Namun Islam memandang pentingnya terwujud kemuliaan perilaku. Adapun yang dimaksud dengan kemuliaan adalah ketika manusia mempunyai kepribadian tinggi yang bisa dilihat dari pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan nilai syariah.
Termasuk memberikan pendidikan dalam memenuhi rasa cinta. Cinta merupakan salah satu naluri yang bersifat fitrah dari Yang Maha Kuasa, sehingga wajar jika cinta selayaknya diatur sesuai dengan kehendakNya. Misalkan dalam pergaulan dengan lawan jenis, maka ada nilai-nilai halal haram, baik buruk yang selayaknya jadi tuntunan. Bahkan syariah tidak hanya melarang perzinaan, bahkan segala aktivitas yang mendekati zinapun akan dilarang dan dijauhi. Sebagaimana firman Allah Ta'ala di dalam surah Al Isra' ayat 32.
Dalam Islam menjadi manusia yang baik tak cukup peran dari masing-masing individu, namun masyarakatpun mempunyai tanggungjawab untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan menentang kemaksiatan. Kebaikan di tengah masyarakat akan semakin mudah untuk terwujud jika negara sebagai pelindung umat memberikan sanksi yang adil sesuai syariah Islam pada setiap tindakan kriminalitas dan penganiayaan, sehingga dengan ketegasan tersebut akan muncul efek jera dan terwujud jaminan keamanan serta kehormatan di tengah masyarakat. Sangat berharap agar naluri cinta bisa diekspresikan dengan tuntunan yang benar, sehingga kebaikan dan ketenangan hidup bisa terwujud.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
