Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Adam Putra Setiawan

Logika Transaksional Dibalik Pesan Donasi Siaran Langsung

Pendidikan dan Literasi | 2026-01-14 15:00:16
Foto Setiawan Ade (Sumber instagram @setiawanade)

Suara denting notifikasi dari platform pihak ketiga seperti Saweria atau Tako kini telah menjadi musik latar baru dalam keseharian banyak orang. Di tengah sunyinya malam, ribuan orang berkumpul di satu ruang digital yang sama, menatap layar YouTube yang menampilkan seorang kreator sedang melakukan siaran langsung. Ada sebuah fenomena komunikasi yang sangat menarik di sini, yakni ketika sebuah pesan teks singkat yang muncul di layar setelah pengiriman donasi mampu menciptakan riuh rendah di kolom komentar sekaligus kepuasan batin bagi pengirimnya. Fenomena ini bukan sekadar interaksi digital biasa, melainkan sebuah bentuk evolusi hubungan parasosial yang semakin transaksional sekaligus emosional.

Dalam Perspektif ilmu komunikasi, apa yang kita saksikan pada siaran langsung para kreator besar adalah bentuk nyata dari Parasocial Relationship 2.0. Konsep awal hubungan parasosial pertama kali dikemukakan oleh Donald Horton dan Richard Wohl pada tahun 1956. Mereka menjelaskan bahwa penonton media massa sering kali merasa memiliki ikatan personal yang intim dengan tokoh di layar, padahal hubungan tersebut sejatinya hanya searah. Namun, pada era YouTube Live Stream, searah tidak lagi menjadi kata yang tepat. Melalui fitur pesan donasi yang muncul di layar, audiens kini memiliki kemampuan untuk "membeli" atensi sang kreator secara instan.

Mari kita ambil contoh Setiawan Ade, seorang kreator yang dikenal dengan analisis tajamnya terhadap skena kompetitif Mobile Legends. Dalam sesi siaran langsungnya, komunikasi yang terjalin terasa sangat intelektual namun tetap personal. Para penonton tidak hanya datang untuk melihat permainan game, melainkan untuk mendengar sudut pandang Mas Ade yang sering kali dijuluki sebagai "The Coach" dalam bidangnya. Di sini, hubungan parasosial yang terbentuk didasarkan pada kekaguman terhadap kompetensi. Ketika seorang penonton mengirimkan donasi melalui Saweria disertai pertanyaan teknis yang kemudian dijawab secara mendalam oleh Mas Ade, terjadilah sebuah validasi intelektual. Penonton merasa diakui keberadaannya dalam lingkaran pemikiran sang idola.

Di sisi lain, kita melihat fenomena yang berbeda pada sosok YB atau Reza Arap, terutama melalui siaran maraton yang dikenal dengan istilah Donathon. Dalam konteks ini, komunikasi yang terjadi jauh lebih intens secara emosional dan fisik. Donathon menciptakan sebuah narasi perjuangan bersama, di mana setiap donasi yang masuk seolah menjadi bahan bakar bagi sang kreator untuk terus bertahan di depan kamera. Pesan pesan yang muncul di layar bukan lagi sekadar pertanyaan, melainkan dukungan emosional atau bahkan tantangan yang harus diselesaikan. Komunikasi di sini berubah menjadi sebuah pertunjukan kolektif yang melibatkan ribuan orang sekaligus.

Secara teoretis, dinamika ini sangat selaras dengan Social Exchange Theory atau Teori Pertukaran Sosial yang dikembangkan oleh John Thibaut dan Harold Kelley pada tahun 1959. Teori ini berasumsi bahwa manusia cenderung mengevaluasi hubungan mereka berdasarkan perbandingan antara biaya yang dikeluarkan serta imbalan yang didapatkan. Dalam ekosistem YouTube Live Stream, biaya yang dikeluarkan audiens bersifat nyata, yaitu uang donasi. Sebagai imbalannya, mereka mendapatkan imbalan sosial berupa sapaan langsung, pesan yang dibaca secara lantang di depan ribuan orang, atau sekadar kepuasan melihat nama mereka bersanding dengan sang idola di layar utama.

Penting untuk disadari bahwa munculnya nama pengirim donasi di layar merupakan sebuah bentuk pengakuan identitas di ruang publik digital. Bagi sebagian orang, ini adalah cara paling efektif untuk menembus kebisingan kolom komentar yang bergerak sangat cepat. Ketika pesan donasi muncul, sang kreator biasanya akan berhenti sejenak dari aktivitasnya untuk memberikan respons. Momen singkat ini menciptakan sebuah ilusi keintiman yang sangat kuat. Penonton merasa bahwa mereka bukan lagi sekadar angka dalam statistik jumlah penonton, melainkan individu yang memiliki akses khusus ke kehidupan sang kreator.

Namun, ada sisi lain yang perlu kita kritisi dalam gaya komunikasi transaksional ini. Hal ini berkaitan dengan konsep Dramaturgi yang diperkenalkan oleh Erving Goffman. Goffman berargumen bahwa dalam setiap interaksi sosial, individu selalu melakukan performa di panggung depan guna menciptakan kesan tertentu bagi audiensnya. Youtube Live Streamer sangat menyadari hal ini. Mereka tahu bahwa keramahan, ekspresi terima kasih yang tulus, atau reaksi lucu saat menerima donasi besar adalah bagian dari performa untuk menjaga ekosistem pendapatan mereka tetap stabil. Komunikasi yang terasa sangat akrab ini, pada tingkat tertentu, tetaplah sebuah konstruksi profesional.

Krisis komunikasi mulai muncul ketika penonton gagal membedakan antara keintiman yang dikonstruksi tersebut dengan hubungan pertemanan yang nyata. Banyak penonton yang kemudian merasa memiliki hak lebih atas kehidupan pribadi sang kreator karena merasa sudah "berjasa" melalui donasi donasi mereka. Hal ini sering kali berujung pada perilaku toxic atau tuntutan yang tidak masuk akal jika sang kreator melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasi sang donatur. Komunikasi yang awalnya bersifat membangun komunitas justru bisa berubah menjadi alat penekanan emosional.

Fenomena penggunaan alat seperti Saweria atau Tako juga mencerminkan bagaimana masyarakat digital kita saat ini mendambakan sapaan di tengah kesepian yang tersembunyi. Kita hidup di era di mana kita bisa terhubung dengan siapa saja, namun ironisnya, banyak yang merasa tidak benar benar didengar oleh orang di sekitar mereka. Membayar sejumlah uang untuk mendapatkan sapaan dari Setiawan Ade atau menjadi bagian dari sejarah Donathon YB menjadi pelarian instan untuk mendapatkan rasa kepemilikan.

Sebagai kesimpulan, perkembangan teknologi siaran langsung telah membawa komunikasi parasosial ke level yang jauh lebih kompleks. Ia bukan lagi sekadar tentang menonton idola, melainkan tentang berpartisipasi dalam sebuah pertukaran sosial yang nyata. Kita perlu mengapresiasi bagaimana platform ini mampu membangun komunitas yang solid dan memberikan dukungan bagi para kreator untuk terus berkarya. Namun, sebagai audiens, kita juga dituntut untuk memiliki literasi digital yang mumpuni. Kita harus mampu menikmati interaksi tersebut tanpa kehilangan kesadaran bahwa ada jarak yang tetap harus dihargai antara layar digital dan realitas kehidupan sosial.

Pada akhirnya, komunikasi yang paling sehat adalah komunikasi yang memiliki batasan yang jelas. Menghargai analisis gim dari seorang Setiawan Ade atau merayakan kemeriahan Donathon YB adalah hal yang sah saja dilakukan. Namun, jangan sampai kita lupa bahwa validasi yang paling bermakna tetaplah berasal dari hubungan yang tumbuh secara organik di dunia nyata, tanpa perlu melibatkan notifikasi donasi atau pesan yang muncul di layar gawai kita.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image