Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image kameliaa

Jika Manusia Begitu Sering Berkomunikasi, Mengapa Komunikasi Interpersonal Justru Sering Gagal?

Eduaksi | 2025-12-30 12:07:25

Manusia ada makhluk sosial yang tidak pernah lepas dari komunikasi. Setiap hari manusia berbicara, mendengarkan, menulis pesan dan bertukar pikiran dengan orang lain. Bahkan dalam penelitian manusia bisa terlibat dalam puluhan hingga ratusan interaksi komunikasi baik secara langsung maupun secara media sosial. Namun dibalik komunikasi yang begitu sering, kegagalan komunikasi interpersonal justru sering terjadi.

Kesalahanpahaman, konflik, hubungan yang merenggang sering sekali muncul dalam interaksi sehari hari, hal ini menimbulkan pertanyaan “jika manusia begitu sering berkomunikasi, mengapa komunikasi interpersonal sering gagal?” pertanyaan ini menunjukan bahwa komunikasi bukan sekedar seberapa sering pesan disampaikan tetapi bagaimana pesan tersebut dimaknai oleh pihak pihak yang terlibat. Untuk memahami fenomena tersebut, diperlukan pemahaman lebih dalam mengenai komunikasi interpersonal dan teori teori yang menjelaskan tentang proses terbentuknya interaksi manusia. Salah satu teori yang relevan untuk menjelaskan kegagalan komunikasi interpersonal adalah teori komunikasi simbolik.

Apa itu komunikasi interpersonal?

Komunikasi interpersonal adalah proses komunikasi yang terjadi antara satu dengan pihak lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Komunikasi ini tidak hanya berisi tentang pesan yang disampaikan tetapi hubungan antara para pihak yang terlibat dalam komunikasi, karena komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang menyertakan tentang pertukaran makna, perasaan serta pemahaman yang terbentuk melalui interaksi sosial.

Kegagalan komunikasi itu terjadi karena masalah pesan atau makna pesan?

Banyak orang beranggapan bahwa kegagalan dalam komunikasi itu selalu terjadi karena pesan yang disampaikan kurang jelas, padahal dalam banyak situasi, pesan sebenernya sudah disampaikan dengan baik tetapi makna yang ditafsirkan berbeda. Perbedaan penafsiran inilah yang sering menjadi sumber utama kegagalan komunikasi interpersonal. Setiap individu pastinya memiliki latar belakang yang berbeda, pengalaman, nilai dan kondisi emosional. Faktor faktor tersebut sangat memengaruhi cara seseorang menafsirkan pesan yang di terimanya. Akibatnya, simbol atau pesan yang sama dapat dimaknai dengan berbeda, dalam penafsiran makna ini, teori interaksi simbolik memberikan penjelasan yang relevan.

Menurut teori ini, manusia tidak hanya sekadar merespons pesan secara otomatis tetapi harus terlebih dahulu menafsirkan makna dari pesan tersebut. Dengan kata lain, komunikasi bukan hanya tentang apa yang dikatakan tetapi bagaimana pesan tersebut dimaknai okeh penerima.

Sebagai contoh, dalam komunikasi sehari-hari, sebuah kata sederhana seperti “terserah” dapat memiliki banyak arti yang berbeda. Bagi sebagian orang, kata tersebut berarti memberikan kebebasan memilih. Namun bagi orang lain, kata “terserah” dapat dimaknai sebagai bentuk kemarahan, kekecewaan, ketidakpedulian. Perbedaan makna inilah yang sering memicu kesalahpahaman dalam komunikasi interpersonal.

Mengapa Komunikasi Interpersonal Sering Gagal?

Berdasarkan Teori Interaksi Simbolik, kegagalan komunikasi interpersonal umumnya terjadi karena tidak adanya kesamaan makna dalam menafsirkan simbol-simbol komunikasi. Individu sering merasa telah menyampaikan pesan dengan jelas, tetapi lupa bahwa lawan bicaranya mungkin memiliki cara pandang dan penafsiran yang berbeda.

Selain itu, kurangnya keterbukaan dan empati juga menjadi faktor penting. Ketika individu lebih mengedepankan asumsi pribadi, emosi, atau ego dibandingkan upaya untuk memahami orang lain, proses pembentukan makna bersama menjadi terhambat. Akibatnya, komunikasi yang seharusnya mempererat hubungan justru menimbulkan konflik dan jarak emosional.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image