Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Majelis Pustaka Informasi PCM Wiradesa

Hidup Sebentar di Dunia, Pelajaran dari Seorang Musafir

Khazanah | 2026-01-13 15:42:27

Setiap manusia pada dasarnya adalah pengembara. Kehidupan dunia ini hanya persinggahan sementara sebelum menuju tujuan yang lebih kekal. Kesadaran itu muncul ketika kita menengok realita sehari-hari: kesehatan yang bisa hilang sewaktu-waktu, waktu yang terus berjalan, dan kesempatan yang tak selalu bisa diulang.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ mengingatkan: “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir. Gunakan masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhari). Pesan ini menegaskan bahwa setiap detik kehidupan adalah amanah yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Fenomena kehidupan modern terkadang membuat manusia lupa bahwa dunia bukan tujuan akhir. Seorang guru di sebuah pesantren di Pekalongan menceritakan, banyak santrinya yang awalnya terlalu sibuk mengejar dunia—prestasi akademik, pekerjaan, atau kepentingan pribadi—hingga jarang menyempatkan refleksi diri atau ibadah. Ketika diingatkan tentang hakikat hidup, banyak yang tersadar, meski sederhana, namun membawa perubahan signifikan dalam sikap dan prioritas hidup.Kehidupan manusia di dunia digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai perjalanan yang bersifat sementara: “Tetapi kamu orang-orang kafir memilih kehidupan duniawi, sedangkan kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 16-17). Ayat ini mengajak manusia untuk menata hidup dengan perspektif jangka panjang, tidak hanya terpaku pada kesenangan sesaat.

Refleksi terhadap perjalanan hidup ini juga membantu masyarakat memahami nilai setiap kesempatan. Misalnya, kegiatan sosial yang dilakukan komunitas di pekan terakhir bulan lalu—membantu anak-anak belajar membaca dan menulis di desa terpencil—menjadi contoh konkret bahwa manusia dapat meninggalkan jejak kebaikan selama di dunia. Meskipun sederhana, dampaknya terasa, dan bagi sebagian orang, ini menjadi persiapan spiritual untuk kehidupan yang lebih kekal.

Kehidupan sebagai “musafir” juga mengingatkan kita akan kematian, yang Allah jelaskan dalam Al-Qur’an: “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Dia menghidupkanmu, kemudian dimatikan-Nya lagi, dan kemudian dihidupkan-Nya kembali, lalu kepada-Nya kamu kembali.” (QS. Al-Baqarah: 28). Kesadaran ini mendorong manusia untuk menimbang setiap perbuatan dan bersikap lebih bijak, karena setiap amal akan dimintai pertanggungjawaban.

Kehidupan dunia memang singkat, dan setiap orang adalah musafir yang sedang menempuh perjalanan. Kesadaran akan kefanaan ini seharusnya mendorong manusia untuk memanfaatkan waktu, berbagi manfaat, dan menyiapkan diri untuk tujuan akhir yang lebih kekal. Tidak sekadar menyibukkan diri dengan urusan duniawi, tetapi menjadikan setiap langkah berarti, sekecil apapun, untuk diri sendiri dan orang lain.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image