Samenan di Sukabumi: Bukti Nyata Teori Sosiokultural dalam Kehidupan Masyarakat
Agama | 2026-01-12 23:45:52
Budaya lokal merupakan elemen penting dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Keberadaannya tidak hanya berfungsi sebagai identitas kultural, tetapi juga sebagai sarana pembentukan nilai, sikap, dan pola interaksi sosial. Di tengah arus modernisasi yang cenderung mendorong gaya hidup individualistis, sejumlah tradisi lokal masih bertahan dan dijalankan oleh masyarakat. Salah satunya adalah budaya samenan yang hidup dan berkembang di masyarakat Sukabumi. Jika dikaji secara akademik, samenan dapat dipahami sebagai praktik sosial yang selaras dengan teori sosiokultural.
Teori sosiokultural yang dikemukakan oleh Lev Vygotsky menekankan bahwa perkembangan individu, baik secara kognitif maupun sosial, tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sosial dan budaya. Menurut Vygotsky, manusia belajar melalui interaksi dengan orang lain serta melalui nilai dan norma yang diwariskan dalam masyarakat. Budaya berperan sebagai alat mediasi yang membantu individu memahami dunia di sekitarnya. Dengan demikian, proses belajar tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga dalam aktivitas sosial sehari-hari.
Dalam kehidupan masyarakat Sukabumi, samenan dikenal sebagai bentuk gotong royong yang dilakukan secara sukarela. Tradisi ini biasanya muncul dalam berbagai kegiatan, seperti pertanian, pembangunan rumah, kegiatan keagamaan, hingga acara sosial masyarakat. Samenan dilandasi oleh kesadaran kolektif untuk saling membantu tanpa mengharapkan imbalan materi. Nilai kebersamaan, solidaritas, dan kepedulian sosial menjadi inti dari praktik budaya ini.
Menariknya, samenan di Sukabumi tidak hanya terbatas pada kegiatan tradisional, tetapi juga berkembang mengikuti dinamika sosial masyarakat. Salah satu bentuk samenan yang masih dijalankan hingga saat ini adalah kegiatan bersama yang diadakan setiap momen kenaikan kelas di lingkungan sekolah atau kampung. Dalam kegiatan ini, masyarakat secara kolektif berpartisipasi untuk memeriahkan acara, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan.
Pada momen kenaikan kelas tersebut, samenan diwujudkan melalui berbagai aktivitas, seperti kerja sama warga dalam menyiapkan konsumsi, pengamanan acara, hingga penyelenggaraan hiburan. Salah satu ciri khas yang menonjol adalah adanya drumb band yang berkeliling kampung. Drumb band ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga simbol kebersamaan antara siswa, sekolah, dan masyarakat sekitar. Selain drumb band, sering pula diselenggarakan pawai sederhana, pentas seni, serta kegiatan sosial lainnya yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat.
Jika dikaitkan dengan teori sosiokultural, kegiatan samenan pada momen kenaikan kelas tersebut berfungsi sebagai ruang pembelajaran sosial yang bersifat kontekstual. Anak-anak dan remaja belajar secara langsung mengenai kerja sama, tanggung jawab, dan peran sosial melalui keterlibatan mereka dalam kegiatan bersama. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari proses sosial yang berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran nilai-nilai sosial terjadi melalui pengalaman nyata dan interaksi sosial, sebagaimana ditekankan dalam teori sosiokultural.
Selain itu, kegiatan samenan juga memperlihatkan bagaimana budaya membentuk pola pikir kolektif masyarakat. Tradisi membantu dalam acara kenaikan kelas mencerminkan pandangan bahwa keberhasilan pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab sekolah dan keluarga, tetapi juga masyarakat secara luas. Nilai ini sejalan dengan pandangan Vygotsky yang menekankan pentingnya lingkungan sosial dalam mendukung perkembangan individu.
Budaya samenan juga berperan dalam memperkuat kohesi sosial masyarakat Sukabumi. Melalui kegiatan bersama, hubungan antarwarga menjadi lebih erat dan komunikasi sosial terjalin dengan baik. Kegiatan seperti drumb band keliling dan pawai tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media interaksi sosial yang memperkuat rasa memiliki terhadap komunitas.
Di tengah tantangan modernisasi, keberlangsungan budaya samenan menunjukkan bahwa nilai gotong royong masih relevan dan dibutuhkan. Tradisi ini menjadi penyeimbang terhadap kecenderungan individualisme yang semakin berkembang. Dengan mempertahankan samenan, masyarakat tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mempertahankan mekanisme sosial yang mendukung kehidupan bermasyarakat secara harmonis.
Melalui praktik samenan, masyarakat Sukabumi menunjukkan bahwa nilai kebersamaan masih hidup dan dijalankan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam kegiatan pendidikan seperti perayaan kenaikan kelas. Keterlibatan warga, siswa, dan sekolah dalam kegiatan bersama, mulai dari persiapan acara hingga drumb band keliling kampung, menjadi gambaran nyata bagaimana interaksi sosial dan budaya berjalan berdampingan. Tradisi ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan ruang perjumpaan sosial yang mempererat hubungan antarmasyarakat serta menjadi sarana belajar nilai-nilai sosial secara alami. Di tengah perubahan zaman, samenan tetap relevan sebagai praktik budaya yang membentuk solidaritas, rasa memiliki, dan kepedulian sosial dalam kehidupan masyarakat Sukabumi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
