Kenapa Indonesia tidak Punya Dinosaurus?
Edukasi | 2026-02-13 00:06:56Oleh S. Wani Maler
Dosen Prodi Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Pertanyaan tentang dinosaurus hampir selalu memancing rasa penasaran. Apalagi jika dikaitkan dengan Indonesia yang kaya akan fosil manusia purba. Jika Jawa bisa menghasilkan Homo erectus dan Flores menyimpan Homo floresiensis, lalu kenapa tidak ada dinosaurus? Apakah Indonesia memang tidak pernah dihuni reptil raksasa itu?
Jawabannya lebih kompleks daripada sekadar “tidak ada”. Secara ilmiah, sampai saat ini belum ditemukan fosil dinosaurus yang terverifikasi di Indonesia. Tetapi alasan ketiadaan temuan itu bukan berarti dinosaurus mustahil pernah hidup di wilayah yang kini menjadi Nusantara. Persoalannya ada pada sejarah geologi.
Dinosaurus hidup pada Era Mesozoikum, sekitar 252 hingga 66 juta tahun lalu (Benton, 2015). Pada periode itu, bentuk daratan dunia sangat berbeda. Wilayah yang sekarang kita sebut Indonesia belum tersusun seperti sekarang. Banyak bagian Nusantara masih berada di bawah laut, sementara sebagian lainnya adalah fragmen kecil lempeng yang belum menyatu menjadi daratan luas dan stabil (Hall, 2012).
Untuk menemukan fosil dinosaurus, dibutuhkan batuan darat dari zaman Mesozoikum yang terawetkan dengan baik. Batuan itu harus terbentuk di lingkungan darat, lalu terkubur, mengeras, dan bertahan hingga jutaan tahun tanpa hancur oleh aktivitas geologi (Satyana, 2018). Di negara-negara seperti Amerika Serikat, Mongolia, atau Tiongkok, kondisi ini terpenuhi karena adanya cekungan sedimen luas yang relatif stabil sejak masa dinosaurus.
Indonesia berbeda, Nusantara berada di pertemuan tiga lempeng besar dunia: Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Aktivitas tektonik di wilayah ini sangat intens. Batuan terlipat, terangkat, retak, dan bahkan tersubduksi kembali ke dalam bumi. Proses ini menyulitkan pelestarian fosil darat berumur ratusan juta tahun. Singkatnya, lingkungan geologis Indonesia tidak ideal untuk menjaga jejak dinosaurus tetap utuh.
Sebaliknya, Indonesia justru kaya akan fosil laut purba. Banyak wilayah Indonesia pada masa Mesozoikum merupakan lautan dangkal. Karena itu, yang lebih sering ditemukan adalah fosil organisme laut seperti amonit dan moluska. Kondisi ini sesuai dengan sejarah geologi kawasan yang lebih banyak dipengaruhi lingkungan maritim dibanding daratan luas.
Kadang publik juga tertukar antara dinosaurus dan megafauna. Tulang besar yang ditemukan di Jawa atau Flores sering dikira dinosaurus, padahal itu adalah mamalia purba seperti Stegodon yang hidup jauh setelah dinosaurus punah. Dinosaurus menghilang sekitar 66 juta tahun lalu, sedangkan megafauna dan manusia purba di Indonesia hidup jutaan tahun kemudian. Perbedaan waktunya sangat besar.
Apakah berarti mustahil ada dinosaurus di Indonesia? Sains jarang mengatakan mustahil. Beberapa wilayah seperti Kalimantan dan Papua memiliki batuan yang berasal dari periode Mesozoikum. Secara teoritis, peluang tetap ada. Namun hingga kini belum ada temuan yang memenuhi standar verifikasi ilmiah internasional sebagai fosil dinosaurus dari Indonesia.
Menariknya, ketiadaan dinosaurus justru tidak membuat Indonesia miskin sejarah. Sebaliknya, Nusantara menyimpan salah satu rekaman evolusi manusia paling penting di dunia. Temuan Homo erectus di Jawa dan Homo floresiensis di Flores memberikan kontribusi besar pada pemahaman tentang migrasi dan adaptasi manusia purba.
Mungkin kita tidak memiliki T-Rex versi Nusantara. Tetapi kita memiliki jejak manusia yang jauh lebih dekat dengan kisah kita sendiri. Dan dalam konteks ilmu pengetahuan, memahami asal-usul manusia mungkin lebih penting daripada menemukan reptil raksasa yang telah lama punah.
Jadi kenapa Indonesia tidak punya dinosaurus? Karena sejarah geologinya berbeda. Karena daratannya belum stabil ketika dinosaurus berjaya. Dan karena bumi Nusantara lebih banyak menyimpan kisah laut dan manusia dibandingkan jejak reptil raksasa.
Pertanyaan tentang dinosaurus mungkin lahir dari rasa ingin tahu. Tetapi jawabannya membawa kita pada pelajaran yang lebih luas: masa lalu suatu wilayah ditentukan oleh sejarah geologinya. Dan dalam kasus Indonesia, cerita yang tersimpan bukan tentang dinosaurus, melainkan tentang perjalanan panjang bumi yang terus bergerak hingga hari ini.
Referensi
Benton, M. J. (2015). Vertebrate palaeontology (4th ed.). Wiley-Blackwell.
Hall, R. (2012). Late Jurassic–Cenozoic reconstructions of the Indonesian region and the Indian Ocean. Tectonophysics, 570–571, 1–41. https://doi.org/10.1016/j.tecto.2012.04.021
Satyana, A. H. (2018). Geologi Indonesia dalam perspektif tektonik global. Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI).
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
