Panggung Sandiwara Digital: Membedah Drama Selebriti Lewat Lensa Interaksi Simbolik
Pendidikan dan Literasi | 2026-01-12 21:49:14
Lini masa media sosial kita belakangan ini tak ubahnya sebuah panggung teater terbuka. Kita menyaksikan berbagai fragmen kehidupan para pesohor yang dikemas dalam durasi singkat namun memiliki dampak ledakan yang luar biasa. Fenomena domestik yang melibatkan nama-nama besar seperti Syahnaz Sadiqah atau Rendy Kjaernett beberapa waktu lalu menjadi perbincangan hangat, bukan sekadar karena subjeknya, melainkan karena medium unik yang digunakan untuk berinteraksi.
Fenomena ini, jika dibedah menggunakan pisau analisis Teori Interaksi Simbolik yang dipopulerkan oleh Herbert Blumer, menunjukkan bahwa masyarakat kita tidak hanya mengonsumsi informasi, tetapi sedang melakukan proses produksi makna yang sangat kompleks.
Simbol sebagai Basis Tindakan
Dalam perspektif Interaksi Simbolik, manusia bertindak berdasarkan makna yang mereka sematkan pada sesuatu. Ketika sebuah aplikasi transportasi beralih fungsi menjadi "ruang komunikasi personal" yang bocor ke publik, masyarakat mengalami kejutan simbolik. Ada pergeseran makna yang dipaksakan, dan di situlah konflik pemaknaan dimulai.
Netizen Indonesia tidak hanya melihat peristiwa itu sebagai masalah pribadi, melainkan sebagai simbol rusaknya nilai kesetiaan dalam ruang yang tak terduga. Inilah pilar pertama Blumer: bahwa makna muncul dari interaksi sosial. Kita bersama-sama "sepakat" bahwa peristiwa tersebut adalah sebuah anomali, sehingga reaksi massa yang muncul pun cenderung seragam.
Citra "Me" dan Gejolak "I"
Tokoh sosiologi George Herbert Mead menawarkan konsep menarik tentang pembentukan diri melalui dua sisi: "I" dan "Me".
"Me" adalah representasi diri yang sudah disaring oleh norma sosial (dalam hal ini, branding artis sebagai sosok sempurna di Instagram).
"I" adalah sisi spontan, impulsif, dan asli yang sering kali tidak terduga.
Kasus-kasus viral selebriti sering kali pecah ketika sisi "I" (tindakan asli di dunia nyata) bertabrakan keras dengan citra "Me" yang telah dibangun secara profesional. Publik merasa memiliki "kontrak simbolik" dengan idola mereka. Ketika kontrak itu dilanggar oleh tindakan yang tidak sesuai dengan citra, terjadilah apa yang kita kenal sebagai cancel culture. Ini adalah bentuk sanksi simbolik dari masyarakat terhadap "pengkhianatan" citra tersebut.
"Role Taking" dan Empati Netizen
Mengapa kita begitu emosional saat melihat drama selebriti? Mead menyebutkan adanya proses taking the role of the other. Melalui layar ponsel, netizen mencoba menempatkan diri mereka dalam posisi orang-orang yang terlibat dalam konflik tersebut.
Inilah yang menjelaskan mengapa tokoh seperti Nagita Slavina sering kali dimaknai oleh publik sebagai simbol ketegaran. Netizen melakukan proyeksi diri; mereka belajar tentang nilai kesabaran atau keteguhan melalui simbol yang ditampilkan oleh sang publik figur. Selebriti, dalam hal ini, bukan lagi sekadar individu, melainkan "laboratorium nilai" bagi masyarakat luas.
Bijak Memaknai Realitas
Sebagai pengguna media sosial yang cerdas, penting bagi kita untuk menyadari bahwa apa yang kita saksikan di layar adalah rentetan simbol yang telah melalui proses kurasi. Viralitas selebriti adalah cermin dari keresahan sosial kita sendiri.
Melalui kacamata Interaksi Simbolik, kita diajak untuk tidak hanya menjadi penonton yang reaktif, tetapi menjadi pengamat yang kritis. Bahwa di balik setiap drama yang viral, ada pelajaran tentang bagaimana kita sebagai manusia terus-menerus menegosiasikan makna tentang kebenaran, kesetiaan, dan integritas di ruang digital. Kita adalah apa yang kita maknai.
Catatan Penulis:
Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi sosiologis dan analisis fenomena media sosial tanpa maksud menyudutkan pihak manapun secara personal.
Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
