Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image ahmad muttaqillah Muttaqillah

Meluruskan Lafaz Niat Puasa Ramadan: Antara Fikih dan Kaidah Bahasa Arab

Agama | 2026-01-12 15:02:28

Puasa Ramadan merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki kedudukan sangat agung dalam ajaran Islam. Setiap ibadah dalam Islam disyaratkan dengan niat, sebagaimana ditegaskan dalam hadis Nabi ﷺ. Di tengah praktik umat Islam, khususnya di Indonesia, pelafalan niat puasa sering dibaca dengan redaksi Arab tertentu. Namun, tidak sedikit yang masih keliru dalam pengucapan, terutama pada lafaz Ramadan. Tulisan ini bertujuan meluruskan persoalan tersebut dengan pendekatan fikih dan kaidah bahasa Arab (nahwu).

Kedudukan Niat dalam Ibadah Niat merupakan pembeda antara ibadah dan kebiasaan, serta penentu sah atau tidaknya suatu amal. Rasulullah ﷺ bersabda:

Ilustrasi Ngabuburit di Danau Kintamani Bali, Indonesia

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi landasan utama bahwa niat adalah ruh ibadah, termasuk puasa Ramadan.

Tempat Niat Puasa

Para ulama sepakat bahwa tempat niat adalah di dalam hati, bukan pada lisan. Melafalkan niat hanyalah sarana untuk membantu menghadirkan kesadaran hati. Imam an-Nawawi rahimahullah menegaskan bahwa melafalkan niat bukan syarat sah ibadah, namun dibolehkan sebagai bantuan bagi orang awam agar lebih mantap dalam berniat.

Lafaz Niat Puasa yang Populer Lafaz niat puasa yang umum dibaca adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ

Artinya: “Aku berniat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadan.”

Lafaz ini bukan hadis Nabi ﷺ, melainkan rumusan ulama berdasarkan kaidah bahasa Arab yang benar.

Pentingnya I‘rab dalam Bahasa Arab

Bahasa Arab memiliki sistem i‘rab (perubahan akhir kata) yang memengaruhi makna dan ketepatan kalimat. Kesalahan i‘rab tidak selalu membatalkan ibadah, tetapi mencerminkan ketidaktepatan dalam penggunaan bahasa Al-Qur’an dan ilmu-ilmu Islam. Oleh karena itu, memahami i‘rab niat puasa menjadi bagian dari adab terhadap bahasa Arab.

Kedudukan Kata “غَدٍ” (Besok)

Kata غَدٍ (ghadin) dalam niat puasa berstatus isim zaman (kata keterangan waktu) dan termasuk isim munṣarif. Karena berkedudukan sebagai mudāf ilaih dan dalam keadaan majrur, maka tanda jarnya adalah kasrah dan tanwin. Inilah sebabnya ia dibaca ghadin, bukan ghada atau ghadu.

Makna “Ramadan” dalam Bahasa Arab

Kata Ramadan adalah nama bulan yang berasal dari akar kata ramiḍa yang berarti panas yang membakar. Bulan ini dinamakan Ramadan karena diyakini dapat membakar dosa-dosa orang beriman melalui puasa dan amal saleh. Allah ﷻ berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.”(QS. al-Baqarah: 185)

Mengapa “Ramadāna”, Bukan “Ramadāni”?

Dalam niat puasa, kata Ramadan berkedudukan sebagai mudāf ilaih yang majrur. Namun, ia termasuk isim ‘alam ghair munṣarif (nama diri yang tidak menerima tanwin), karena memiliki tambahan alif dan nun. Oleh sebab itu, tanda jarnya bukan kasrah, melainkan fathah. Maka bacaan yang benar adalah:

رَمَضَانَ (Ramadāna) dinyatakan benar menurut nahwu, dan رَمَضَانِ (Ramadāni) dinyatakan salah.

Antara Kesempurnaan Bahasa dan Keabsahan Ibadah

Kesalahan dalam pelafalan niat tidak membatalkan puasa selama niat di hati telah ada. Namun, membiasakan lafaz yang benar menunjukkan kesungguhan dalam menuntut ilmu dan memuliakan syiar Islam. Sebagaimana para ulama mengajarkan bahwa keindahan ibadah juga tercermin dari ketepatan ilmu yang melandasinya.

Kesimpulan

Niat puasa Ramadan adalah amalan hati yang boleh dibantu dengan lafaz lisan. Lafaz niat yang benar secara bahasa Arab adalah Ramadāna, bukan Ramadāni, karena mengikuti kaidah isim ghair munṣarif. Memahami hal ini tidak dimaksudkan untuk mempersulit ibadah, melainkan untuk menyempurnakan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam. Dengan niat yang ikhlas dan pemahaman yang benar, semoga puasa Ramadan kita diterima oleh Allah ﷻ dan menjadi sarana penghapus dosa.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image