Kecemasan di Tengah Arus: Budaya Asing dan Pergaulan Identitas Indonesia
Gaya Hidup | 2026-01-12 09:34:09Masuknya budaya asing ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia bukanlah peristiwa baru. Sejak masa perdagangan kuno hingga era kolonial, budaya Indonesia selalu berada dalam ruang perjumpaan dengan yang lain. Namun, yang membedakan masa kini adalah kecepatan dan intensitas perjumpaan tersebut. Melalui layar ponsel, budaya asing hadir nyaris tanpa jarak, tanpa seleksi, dan tanpa jeda refleksi. Di titik inilah kecemasan dan ketidakpastian muncul, bukan sekadar sebagai reaksi emosional, melainkan sebagai gejala komunikasi antarbudaya yang kompleks.
Teori Kecemasan dan Ketidakpastian (Anxiety/Uncertainty Management Theory) yang dikemukakan oleh William B. Gudykunst membantu kita memahami bahwa setiap perjumpaan dengan “yang asing” selalu mengandung potensi kegelisahan. Kecemasan muncul ketika individu atau kelompok merasa posisinya terancam, sementara ketidakpastian hadir ketika makna dan nilai yang selama ini dianggap mapan menjadi goyah. Dalam konteks budaya Indonesia, budaya asing tidak hanya datang sebagai hiburan atau gaya hidup, tetapi juga sebagai sistem makna baru yang menantang cara kita memahami diri sendiri.
Budaya asing sering kali dipersepsikan sebagai sesuatu yang lebih modern, lebih bebas, dan lebih maju. Persepsi ini secara tidak langsung membentuk hierarki simbolik, di mana budaya lokal ditempatkan pada posisi yang dianggap tradisional, ketinggalan zaman, bahkan tidak relevan. Di sinilah kecemasan budaya bermula. Ketika masyarakat merasa identitasnya terancam oleh dominasi simbol budaya asing, muncul rasa takut akan kehilangan jati diri. Kekhawatiran terhadap lunturnya nilai gotong royong, sopan santun, atau kearifan lokal adalah bentuk konkret dari kecemasan tersebut.
Namun, kecemasan ini tidak berdiri sendiri. Ia selalu berdampingan dengan ketidakpastian. Ketidakpastian muncul ketika masyarakat dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan mendasar: nilai mana yang harus dipegang? Apakah keterbukaan berarti meninggalkan tradisi? Apakah menolak budaya asing berarti menutup diri dari dunia? Ketika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini tidak jelas, masyarakat cenderung mencari jalan pintas untuk mengurangi ketidakpastian, salah satunya melalui stereotip dan generalisasi.
Dalam banyak kasus, budaya asing direduksi menjadi simbol ancaman moral. Budaya Barat misalnya, sering diasosiasikan dengan kebebasan berlebihan, individualisme ekstrem, atau degradasi nilai agama. Reduksi ini sesungguhnya merupakan mekanisme psikologis untuk mengendalikan ketidakpastian. Dengan memberi label negatif, masyarakat merasa memiliki kepastian tentang “apa yang harus ditolak”. Sayangnya, strategi ini justru mempersempit ruang dialog dan memperkuat batas antara “kita” dan “mereka”.
Teori AUM menegaskan bahwa komunikasi antarbudaya yang efektif tidak menuntut penghapusan kecemasan dan ketidakpastian, melainkan pengelolaannya. Dalam konteks Indonesia, masalahnya bukan pada keberadaan budaya asing, tetapi pada ketidakmampuan sebagian masyarakat mengelola kegelisahan yang muncul dari perjumpaan tersebut. Ketika kecemasan terlalu tinggi, budaya asing ditolak secara total. Ketika ketidakpastian terlalu rendah, budaya asing diterima tanpa kritik, bahkan ditiru secara membabi buta.
Fenomena ini tampak jelas pada generasi muda. Di satu sisi, mereka menjadi kelompok yang paling terbuka terhadap budaya asing—mulai dari musik, fashion, hingga gaya komunikasi. Di sisi lain, keterbukaan ini sering menimbulkan tuduhan kehilangan identitas atau “tidak nasionalis”. Tuduhan tersebut sesungguhnya mencerminkan kecemasan generasi yang lebih tua, yang merasa kehilangan kontrol atas narasi budaya. Perbedaan respons antar generasi ini menunjukkan bahwa kecemasan dan ketidakpastian bersifat sosial, bukan semata-mata individual.
Menariknya, masyarakat Indonesia tidak sepenuhnya terjebak dalam konflik antara penerimaan dan penolakan. Dalam banyak kasus, yang terjadi justru adalah negosiasi dan hibriditas budaya. Budaya asing diadaptasi, dimodifikasi, dan disesuaikan dengan konteks lokal. Musik K-pop, misalnya, tidak serta-merta menggantikan musik lokal, tetapi memengaruhi gaya produksi, estetika visual, dan pola fandom yang kemudian diolah ulang dalam konteks Indonesia. Proses ini menunjukkan bahwa masyarakat mampu mengelola kecemasan dan ketidakpastian secara kreatif.
Dalam kerangka AUM, pengelolaan ini hanya mungkin terjadi ketika individu memiliki kesadaran diri budaya. Kesadaran ini mencakup pemahaman akan nilai-nilai lokal, sekaligus keterbukaan terhadap perbedaan. Masyarakat yang percaya diri dengan identitas budayanya tidak merasa terancam oleh kehadiran budaya asing. Sebaliknya, mereka melihat perjumpaan budaya sebagai ruang dialog dan pembelajaran.
Esai ini ingin menegaskan bahwa kecemasan terhadap budaya asing bukanlah tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa masyarakat sedang berada dalam proses negosiasi identitas. Yang menjadi persoalan adalah ketika kecemasan tersebut tidak dikelola, melainkan dipolitisasi atau dimanfaatkan untuk membangun ketakutan kolektif. Dalam situasi seperti ini, budaya asing tidak lagi dipahami sebagai “yang berbeda”, tetapi sebagai “yang berbahaya”.
Pada akhirnya, masuknya budaya asing ke Indonesia menantang kita untuk merefleksikan kembali cara kita berkomunikasi dengan dunia. Teori Kecemasan dan Ketidakpastian mengajarkan bahwa perjumpaan antarbudaya selalu mengandung risiko, tetapi juga peluang. Dengan mengelola kegelisahan dan ketidakpastian secara sadar, masyarakat Indonesia dapat menjadikan perjumpaan budaya bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai ruang pembentukan identitas yang dinamis dan reflektif.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
