Jangan Lupakan Palestina, Mereka Terus Sengsara
Agama | 2026-01-09 19:13:52
Kondisi Gaza semakin terpuruk. Sekitar 1,5 juta warga Palestina saat ini tinggal di tenda-tenda rapuh—sebagian besar hanya berupa kain atau plastik—yang tak mampu bertahan menghadapi angin kencang dan cuaca ekstrem (9/1/2026, spiritaqsa.or.id). Hujan lebat, banjir, kurangnya kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan, ditambah cuaca ekstrem semakin memperburuk kondisi Palestina.
Israel sengaja memblokade bantuan walaupun dalam situasi gencatan senjata. Mereka membiarkan warga Gaza berperang melawan cuaca ekstrem dan Mereka gugur satu persatu karena keterbatasan bantuan Mereka juga terus menyerang warga sipil, melemparkan serangan hampir setiap hari, dan menewaskan setidaknya 400 orang sejak gencatan senjata. Mereka terus mengkambing hitamkan Hamas dalam setiap serangannya padahal rakyat sipil yang terus menjadi korban.
Hegemoni Israel terhadap Palestina dengan dukungan Amerika sebagai sekutu terkuatnya terus mencengkram warga Gaza. Mereka ingin menguasai Palestina secara penuh bahkan dengan cara kekerasan dan membantai warga Gaza. Tapi ironisnya, dunia membiarkan kezdoliman ini berpuluh tahun lamanya. Negeri muslim hanya menjadi penonton dan tak mampu beri dukungan yang berarti.
Hingga detik ini, Palestina terus terjajah, warganya dibiarkan sengsara, menderita, dibantai, di depan jutaan mata dunia.
Beginilah nasib kaum muslim di dunia saat ini. Kita terjajah secara fisik dan pemikiran. Di negara tanpa konflik kita terjajah secara pemikiran dan mengikuti kebijakan dan arahan penjajah. Tunduk dan patuh pada perintah mereka. Sedangkan di wilayah konflik, penjajahan fisik terus diluncurkan.
Parahnya, kaum muslimin tidak sadar dalam kondisi terjajah. Kaum muslimin terpecah belah sejak kehancuran Khilafah Ustmani pada tahun 1924. Sejak saat itu negeri-negeri muslim berada diberi kemerdekaan semu oleh penjajah karena faktanya kaum muslimin terus tunduk dibawah hegemoni negara penjajah.
Kaum muslimin harus kembali bersatu untuk membebaskan Palestina dari penjajahan. Kaum muslimin harus menyatukan kepemimpinan, segala sumber daya yang dimiliki agar menjadi negara kuat yang independent terbebas dari hegemoni penjajah. Hal ini sebagaimana yang telah terjadi dalam sejarah saat kaum muslimin berada di era Kekhilafahan.
Rasulullah mewajibkan kaum muslimin berada dalam satu kepemimpinan. Diriwayatkan bahwa Abu Bakar Shiddiq berkata, "Sesungguhnya tidaklah halal kaum muslimin mempunyai dua orang pemimpin" (HR Al Baihaqi). Kaum muslimin haruslah mencontoh Rasulullah dalam bernegara, hanya terdapat satu kepemimpinan untuk seluruh kaum muslimin dunia. Dengan itu kaum muslimin kuat dan menjadi mercusuar peradaban. Hal ini terbukti jelas dalam sejarah peradaban Islam di era kekhilafahan.
Palestina membutuhkan seluruh kekuatan umat muslim. Tanpanya, Al-Quds akan terus terjajah karena kaum muslimin pasti kalah saat terbelah. Oleh karena itu, persatuan kaum muslimin dibawah naungan Khilafah yang perlu diwujudkan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan Khalifah setelahnya.
WaAllahu'alam
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
