Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Carlo renjiro

Curhat di TikTok dan Perubahan Cara Kita Berbagi Cerita

Curhat | 2026-01-09 16:15:14

Membuka TikTok hari ini sering terasa seperti masuk ke ruang curhat bersama. Dalam satu kali scroll, kita bisa menemukan cerita tentang hubungan yang gagal, kelelahan kerja, hingga rasa tidak dihargai oleh orang terdekat. Semua disampaikan secara singkat, jujur, dan emosional. Fenomena ini menunjukkan bahwa TikTok tidak lagi sekadar ruang hiburan, tetapi juga menjadi tempat orang meluapkan perasaan pribadi ke ruang publik.

Banyak orang memilih TikTok untuk bercerita karena ada rasa didengar yang sulit ditemukan di dunia nyata. Tidak semua orang punya teman yang siap mendengarkan tanpa menghakimi. Di TikTok, cerita yang diunggah bisa langsung mendapat respons. Komentar sederhana seperti “gue juga ngerasain” atau “kamu nggak sendirian” sering kali sudah cukup untuk memberi rasa lega. Dukungan ini datang dari orang asing, tetapi tetap terasa nyata karena berbasis pengalaman yang sama.

Dalam konteks komunikasi, perilaku berbagi cerita pribadi ini dikenal sebagai self-disclosure. Secara sederhana, self-disclosure adalah tindakan membuka perasaan atau pengalaman pribadi kepada orang lain. Jika biasanya hal ini dilakukan secara terbatas dan bertahap, di TikTok prosesnya berlangsung secara terbuka dan cepat. Jarak sosial dan anonimitas membuat orang merasa lebih aman untuk jujur. Mereka tidak berhadapan langsung dengan audiensnya, sehingga beban emosional terasa lebih ringan.

Penelitian tentang penggunaan TikTok menunjukkan bahwa keterbukaan diri di platform ini sering didorong oleh kebutuhan mengelola emosi. Saat seseorang merasa sedih, lelah, atau kecewa, bercerita menjadi cara untuk menenangkan diri. TikTok menyediakan ruang instan untuk itu. Rekam video, unggah, lalu tunggu respons. Banyak pengguna tidak sedang mencari solusi, melainkan pengakuan bahwa perasaan mereka wajar dan dialami juga oleh orang lain.

Hal ini terlihat jelas dari konten curhat yang kolom komentarnya dipenuhi pengakuan serupa. Salah satu contohnya adalah video dengan narasi tentang seseorang yang baru menyadari bahwa dirinya diperlakukan buruk saat sedang bercerita. Alih-alih menghakimi, kolom komentar justru dipenuhi kalimat seperti “can’t repost but I’m here” atau “kok sama banget”. Cerita personal satu orang berubah menjadi pengalaman kolektif. Di sinilah curhat tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi ruang berbagi emosi bersama.

Meski terlihat spontan, curhat di TikTok sebenarnya tidak lepas dari proses pengemasan. Durasi yang singkat membuat cerita harus dipadatkan. Emosi harus langsung terasa. Banyak pengguna memilih kalimat pembuka yang kuat agar penonton bertahan di detik awal. Artinya, self-disclosure di TikTok bukan hanya soal kejujuran, tetapi juga tentang bagaimana cerita ditampilkan agar mudah dipahami dan diterima audiens.

Selain itu, algoritma TikTok ikut membentuk cara orang mengekspresikan emosi. Konten dengan emosi yang jelas dan relatable cenderung mendapat respons lebih besar. Akhirnya, pengguna belajar menyesuaikan diri. Cerita diringkas, ekspresi diperjelas, bahkan kesedihan pun dikemas secara visual. Emosi menjadi bagian dari performa komunikasi digital.

Di satu sisi, fenomena ini memberi dampak positif. Banyak orang merasa tidak sendirian. Mereka menemukan dukungan sosial dari orang-orang yang tidak pernah ditemui secara langsung. TikTok memenuhi kebutuhan afektif, validasi diri, dan rasa memiliki. Namun di sisi lain, keterbukaan di ruang publik juga membawa risiko. Cerita pribadi yang sudah diunggah sulit dikendalikan. Video bisa disimpan, dibagikan ulang, atau ditafsirkan di luar konteks awal.

Fenomena curhat di TikTok menunjukkan perubahan besar dalam cara kita berkomunikasi. Media sosial kini menjadi ruang di mana emosi, identitas, dan pengalaman pribadi dinegosiasikan secara terbuka. Masalah pribadi berubah menjadi konsumsi publik bukan semata karena ingin diperhatikan, tetapi karena banyak orang ingin didengar dan dipahami. TikTok menyediakan ruang itu, dengan segala kelebihan dan konsekuensinya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image