Paradoks Budaya Ewuh Pakewuh Terhadap Identitas Diri Kita
Kultura | 2026-01-09 15:20:58Indonesia adalah suatu negara yang memiliki keragaman budaya yang sangat luas,dimana setiap daerah memiliki berbagai macam norma yang diyakini dan dipatuhi oleh masyarakat setempat. Salah satu budaya yang menonjol dari Indonesia adalah budaya ewuh pakewuh yang berasal dari Jawa. Budaya ini merujuk pada sifat sungkan,tidak enakkan dan keengganan untuk mengungkapkan pendapat/personal standpoint dikarenakan rasa takut jika nantinya pendapat tersebut akan menyinggung orang lain dan mengganggu keharmonisan sosial. Perasaan ini biasanya muncul pada hubungan antara generasi muda dan generasi yang lebih tua,hal ini umumnya terjadi karena adanya kesenjangan generasi dan konsep hirarkis yang sudah ditanamkan sejak lama sebagai bentuk kehormatan,kesopanan sebagai upaya untuk menjaga keharmonisan sosial
Namun ditengah perubahan sosial dan tuntutan komunikasi kearah yang lebih modern yang tentunya lebih menekankan keterbukaan terhadap opini dan identitas diri,budaya ewuh pakewuh dapat menjadi penghambat komunikasi yang mengakibatkan berbagai dampak psikologis bagi seorang individu. Salah satu dampak yang paling signifikan adalah bagaimana budaya ini dapat menghambat pembentukan dan mengekang ekspresi identitas diri yang autentik.
Untuk mengeksplor fenomena ini secara lebih mendalam, Face Negotiation Theory sangat relevan untuk digunakan karena menekankan bagaimana individu mengelola “face”(wajah) atau citra diri dalam suatu interaksi sosial. Terutama dalam konteks budaya kolektivistik yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Essay berikut bertujuan untuk menjelaskan bagaimana budaya ewuh pakewuh mempengaruhi individu memandang citra mereka sendiri dan dampaknya terhadap perkembangan identitas diri mereka.
Budaya ewuh pakewuh adalah salah satu budaya yang sudah mengakar kuat di Indonesia,terutama di wilayah Jawa. Budaya ini dipandang sebagai sikap kehati hatian dalam berbicara dan berinteraksi. Individu yang mengaplikasikan budaya ewuh pakewuh cenderung menghindari konfrontasi,menahan opini pribadi dengan tujuan mempertahankan harmoni sosial dan menjaga perasaan orang lain. Umumnya,ewuh pakewuh dipandang sebagai suatu nilai yang positif yang selaras dengan nilai harmoni yang menjadi landasan kehidupan masyarakat Indonesia.
Dalam konteks komunikasi,budaya ewuh pakewuh biasanya muncul karena adanya sistem hirarkis yang sudah tertanam secara turun temurun dan umum terjadi pada hubungan anak-orang tua,murid-guru,karyawan-pimpinan dan lain lain. Ketimpangan kekuasaan ini dapat membuat individu merasa terpojok dan tidak memiliki ruang aman untuk menyampaikan pendapat mereka yang sesungguhnya atau ketidaksetujuan mereka secara terbuka.
Identitas diri merupakan suatu konsep multidimensional yang mencakup bagaimana suatu individu memandang citra diri sendiri,bagaimana mereka ingin dipersepsikan oleh orang lain. Identitas bersifat sangat dinamis sehingga dapat dibentuk dan dinegosiasikan melalui interaksi sosial yang kita lakukan sehari hari. Dalam konteks komunikasi,identitas diri berkembang secara simbolik termasuk bahasa,perilaku dan sikap. Nah,ketika individu tidak dapat mengekspresikan pendapatnya secara jujur dikarenakan tekanan sosial,maka terjadi ketidaksesuaian antara identitas internal(siapa kita sebenarnya,apa yang membuat kita autentik) dan identitas eksternal(bagaimana persepsi orang lain terhadap kita).
Budaya ewuh pakewuh berpotensi memperlebar jarak antara dua aspek identitas. Individu mungkin merasa “aman” karena dirinya sudah mengikuti norma sosial tetapi mengorbankan keaslian diri. Dalam jangka panjang,ketidakseimbangan ini dapat menimbulkan kebingungan identitas dan merendahkan kepercayaan diri serta kesulitan untuk membuat keputusan yang bersifat pribadi.
KERANGKA TEORITIS TEORI FACE NEGOTIATION THEORY
Face Negotiation Theory dikembangkan oleh Stella Ting Toomey yang berangkat dari konsep “face” yang diperkenalkan oleh Erving Goffman(Hou, M. (2023). Face and Identity in Intercultural Conflict Management. Journal of Intercultural Communication, 23(2), 88–96.) Face merujuk pada citra diri sosial yang ingin dipertahankan individu dalam sebuah interaksi sosial. Menurut teori ini,setiap individu memiliki kebutuhan untuk menjaga wajah diri sendiri(Self face) dan wajah diri orang lain(other face). Ting Toomey membedakan budaya menjadi dua yaitu budaya Individualistik dan kolektivistik. Dengan budaya Individualistik yang menekankan Self face concern dan kolektivistik yang menekankan other face concern . Nah,Indonesia menganut budaya kolektivistik sehingga lebih mengedepankan other face concern yang lebih dominan dimana keharmonisan kelompok menjadi prioritas utama.
Teori ini juga menjelaskan bahwa cara individu menangani sebuah masalah juga tergantung pada budaya yang mereka anut. Individu dengan budaya kolektivistik biasanya menghindari masalah dan mengalah. Sementara itu,individu yang individualistik cenderung mengemukakan pendapatnya meskipun terkadang dapat menyinggung individu lain.
Saat dianalisis menggunakan perspektif Face Negotiation Theory,budaya ewuh pakewuh dapat dipahami sebagai bentuk dominasi other face concern yang sangat kuat. Individu lebih fokus untuk menjaga persepsi other face concern ketimbang menjaga wajah diri sendiri. Mereka cenderung menghindari konflik karena khawatir dapat melukai perasaan orang lain,hal ini dapat mengakibatkan identitas diri semakin terpojok atau bahkan memudar jika dibiarkan. Dalam jangka panjang,self face akan memudar karena terus menerus dikobarkan. Selain itu,budaya ewuh pakewuh menciptakan ketimpangan yang sangat antara self face dan other face. Meskipun pada awalnya tampak menjaga keharmonisan bersama,sebenarnya individu dengan karakteristik memendam banyak konflik internal. Akibatnya,konflik tidak akan terselesaikan dan justru berdampak buruk pada individu tersebut. Dalam jangka panjang, budaya ewuh pakewuh dapat berdampak destruktif pada psikologis individu tersebut dan memudarkan keautentikan karakter individu tersebut.
RELEVANSI BUDAYA EWUH PAKEWUH DI TENGAH MODERNISASI
Budaya ewuh pakewuh adalah budaya yang harus dihormati dan penting untuk dijalankan,mengingat kita memang tinggal di Indonesia. Namun,bagi saya identitas diri adalah satu hal yang tidak dapat dinegosiasikan karena identitas dirilah yang membuat kita berbeda,spesial dan yang yang paling penting: autentik. Sehingga,saya termasuk kelompok orang yang individualistik. Hal ini bukan berarti saya menentang semua norma yang berlaku,hanya saja bagi saya,ada batasan yang tidak dapat diubah untuk menjaga keotentikan diri saya. Menurut saya,dengan tetap menjadi diri yang autentik,anda dapat mengeksplor diri anda dengan lebih mendalam untuk menemukan keautentikan diri anda dan apa yang menjadi pembeda antara anda dan orang lain.
Budaya ini memberikan dampak yang sangat kompleks terhadap identitas diri kita masing masing. Di satu sisi,budaya ewuh pakewuh membantu kita untuk membangun pribadi yang sopan,menghargai orang lain dan empatik. Identitas ini biasanya diapresiasi di masyarakat Indonesia yang merupakan lingkungan kolektivistik. Namun,ewuh pakewuh juga dapat menghambat pembangunan diri yang autentik. Individu terbiasa menyesuaikan diri dengan ekspektasi sosial. Hal ini seringkali merebut keinginan pribadi kita dan memudarkan nilai nilai personal yang kita miliki dan jika terus dikikis,maka citra diri kita akan hilang sepenuhnya. Dalam perspektif Face Negotiation Theory, individu dapat mengalami kesenjangan antara menjaga keutuhan wajah sosial dan menegaskan ekspresi diri. Dampak lainnya adalah ketidakmampuan untuk menjadi asertif karena individu tersebut kesulitan untuk untuk menyatakan batasan diri/privasi,berkata tidak ataupun membangun kritik secara konstruktif. Hal ini nantinya berpengaruh signifikan pada identitas profesional dan juga kepercayaan diri.
Di era globalisasi dan digitalisasi dimana individu dituntut untuk bersikap lebih kritis dan terbuka,nilai ewuh pakewuh seringkali berbenturan dengan tuntutan tersebut terutama dalam dunia kerja dan media sosial. Namun,melalui Face Negotiation Theory,kita dapat belajar bagaimana cara menjaga keharmonisan sosial tanpa mengorbankan identitas diri. Pendidikan komunikasi memang sangat penting untuk menekankan kesadaran budaya dan kemampuan untuk menjadi asertif sehingga keseimbangan self face dan other face dapat tercapai.
Budaya ewuh pakewuh adalah merupakan nilai budaya yang memiliki peran penting untuk menjaga keharmonisan di masyarakat,namun jika tidak diseimbangkan, dapat berdampak negatif pada pembentukan diri dan menghambat kita untuk berekspresi secara natural. Oleh karena itu,diperlukan kesadaran budaya dan kemampuan negosiasi wajah yang adaptif sehingga individu dapat mempertahankan identitas diri dan tidak mengganggu keharmonisan sosial.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
