Ketika Ibu Sibuk, Gadget Mengasuh: Potret Pengasuhan Anak di Awal 2026
Parenting | 2026-01-08 23:15:43
Memasuki awal tahun 2026, kita sering berharap memulai tahun baru dengan semangat perubahan. Namun, ada fenomena yang justru semakin terasa kuat di tengah keluarga Idonsesia: peran gadget yang semakin dominan dalam proses pengasuhann anak. Banyak ibu kini menjadikan gadget sebagai "asisetan" bahkan "pengganti" komunikasi langsung dengan anak. Di satu sisi, teknologi memberi kemudahan. Tetapi di sisi lain, ada pertanyaan besar yang tak bisa diabaikan: apakah ini bentuk adaptasi komunikasi yang baik, atau justru tanda lemahnya kompetensi komunikasi dalam keluarga?
Dalam realistis sehari-hari, gadget sering dianggap solusi praktis. Anak rewel, diberikan HP. Anak bosan, diarahkan ke YouTube. Anak tidak mau diam, diberikannya game. Sementara ibu yang ideal hadir secara emosional, verbal, dan fisik sering terjebak pada kesibukan, tekanan ekonomi, tuntutan pekerjaan, hingga kelelahan mental. Gadget akhirnya menjadi “jalan pintas” dalam mendidik anak.
Masalahnya, komunikasi bukan sekedar anak diam dan ibu tidak terganggu. Komunikasi yang sehat menuntut iteraksi, empati, sentuhan emosional,dan kehadiran yang nyata. Saat gadget mengambil alih, yang hilang bukan hanya waktu, tetapi juga kedekatan, kehangatan, hingga nilai pendidikan yang seharusnya disampaikan orang tua secara langsung.
Berbagai temuan menunjukan bahwa anak-anak usia dini kini terbiasa mengakses internet bahkan sebelum benar-benar memahami realitas sosial. Banyak anak lebih mengenal karakter kartun, influencer cilik, atau konten viral dibandingkan mengenal nilai sopan santun, batasan emosi, dan etika sosial yang seharusnya dibentuk melaui komunikasi keluarga. Tidak sedikit pula kasus anak menjadi mudah marah, sulit focus, dan kehilangan kemampuan bersosialisasi karena tarlalu bergantung pada layar.
Disinilah kita melihat persoalan komunikasi yang sebenarnya. Ketika ibu menyerahkan fungsi pengasuhan sepenuhnya pada gadget, itu bukan lagi sekedar soal teknologi, tetapi soal kompetensi komunikasi. Pengasuhan yang seharusnya mengutamakan dialog berubah menjadi hubungan "anak – layar", bukan "anak – ibu". Anak memang mendapatkan hiburan, tetapi kehilangan pendidikan emosional. Anak mendapatkan tontonan, tetapi kehilangan tuntunan.
Awal tahun 2026 seharusnya menjadi momen refleksi. Kita tida bisa terus-menerus menormalisasi fenomena ini dengan alasan “zaman memang sudah digital”. Teknologi memang penting, tetapi bukan berarti boleh menggantikan peran ibu dalam membangun hubungan emosional dengan anak. Gadget seharusnya menjadi alat bantu, bukan menjadi orang tua kedua.
Yang perlu ditekankan adalah keseimbangan. Ibu yang memiliki kompetensi komunikasi akan mampu mengatur penggunaan gadget secara bijak: mendampingi anak saat mengakses konten, membatasi durasi, menjelaskan apa yang ditonton, dan tetap menghadirkan komunikasi hangat di dunia nyata. Sebaliknya, ketika gadget hanya di jadikannya alat untuk “menghilangkan repot”, maka yang terjadi adalah pengasuhan tanpa sentuhan manusia.
Pada akhirnya, kita tidak sedang menolak teknologi. Kita hanya ingin mengingatkan bahwa masa depan anak tidak dibentuk oleh layar, tetapi oleh figur orang tua yang hadir, berbicara, mendengarkan, dan memahami. Jika awal 2026 ingin menjadi tahun yang lebih baik, maka mari mulai dari rumah: kurangi ketergantungan, tingkatkan komunikasi, dan kembalikan peran ibu sebagai pendidik utama, bukan sekedar pengawas gadget.
Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
