Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Wuri Syaputri

Istilah Lokal dalam Komentator Sepak Bola

Sports | 2026-01-08 20:36:17

Oleh Wuri Syaputri

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Ilustrasi dibuat oleh AI

Dalam setiap pertandingan sepak bola yang disiarkan di televisi, suara komentator menjadi pengiring utama jalannya permainan. Ia hadir terus-menerus, mengikuti pergerakan bola, dan mengisi ruang antara momen penting. Namun, peran komentator tidak berhenti pada penyampaian fakta. Melalui bahasa, komentator membingkai pertandingan dan memberi makna pada setiap kejadian di lapangan.

Salah satu ciri khas bahasa komentator sepak bola di Indonesia adalah penggunaan istilah lokal yang berulang dan terasa akrab. Frasa seperti umpan matang, gol cantik, kerja keras, tampil ngotot, atau terus menekan hampir selalu muncul dalam berbagai pertandingan. Istilah-istilah ini tidak bersifat teknis dalam arti statistik, tetapi evaluatif. Komentator tidak hanya mengatakan apa yang terjadi, melainkan juga menilai kualitas kejadian tersebut.

Dalam kajian bahasa media, bahasa siaran memiliki register tersendiri. Ia berada di antara bahasa formal dan bahasa percakapan sehari-hari. David Crystal (2011) menjelaskan bahwa bahasa media, termasuk siaran olahraga, berkembang menjadi bentuk komunikasi yang harus informatif sekaligus menarik. Karena itu, pilihan kata tidak semata-mata ditujukan untuk akurasi, tetapi juga untuk menjaga keterlibatan penonton.

Istilah seperti gol cantik menunjukkan bagaimana bahasa bekerja secara evaluatif. Secara faktual, gol hanya menandai perubahan skor. Namun, dengan menyebutnya cantik, komentator mengarahkan penonton untuk mengapresiasi proses dan estetika permainan. Bahasa menambahkan lapisan makna yang tidak terdapat dalam peristiwa itu sendiri.

Hal serupa terjadi pada frasa kerja keras. Ungkapan ini sering digunakan untuk memuji pemain, bahkan ketika kontribusinya sulit diukur secara konkret. Dari sudut pandang linguistik, kerja keras berfungsi sebagai pujian aman. Ia jarang diperdebatkan dan hampir selalu diterima. Bahasa di sini berfungsi menjaga konsensus antara komentator dan penonton.

Pilihan istilah lokal juga berperan menciptakan kedekatan budaya. Bahasa yang digunakan komentator Indonesia berbeda dari bahasa komentator di negara lain yang cenderung lebih teknis atau statistik. Istilah sehari-hari membuat pertandingan terasa dekat dengan pengalaman penonton. Sepak bola tidak hanya diposisikan sebagai olahraga profesional, tetapi juga sebagai tontonan kolektif yang akrab.

Dalam analisis wacana, bahasa media dipahami sebagai praktik sosial. Teun A. van Dijk (1997) menegaskan bahwa teks media tidak pernah netral. Ia selalu membawa sudut pandang tertentu, termasuk dalam pemilihan kosakata. Dalam komentar sepak bola, istilah lokal membantu membangun narasi tertentu, misalnya tentang kerja keras, semangat, atau dominasi, meskipun tidak selalu didukung data teknis.

Istilah-istilah ini juga berfungsi sebagai pengisi jeda. Dalam pertandingan yang ritmenya naik turun, komentator perlu menjaga kesinambungan ujaran. Frasa seperti masih mencoba membangun serangan atau belum menemui sasaran menjaga alur cerita tetap berjalan ketika tidak ada momen krusial. Bahasa menjadi alat pengikat waktu.

Menariknya, istilah lokal dalam komentar sepak bola cenderung stabil dari waktu ke waktu. Komentator berbeda, pertandingan berbeda, tetapi kosakatanya relatif sama. Dari sudut pandang linguistik, hal ini menunjukkan proses konvensionalisasi. Kata-kata tertentu bertahan karena terus digunakan dan diterima oleh penonton sebagai bagian dari “bahasa sepak bola”.

Namun, konvensi ini juga menyederhanakan kompleksitas permainan. Gaya bermain yang berbeda bisa dinilai dengan istilah yang sama. Bahasa meratakan detail demi kemudahan pemahaman. Meski demikian, tujuan utama bahasa komentator bukanlah analisis mendalam, melainkan membangun pengalaman menonton yang hidup dan mudah diikuti.

Pada akhirnya, istilah lokal dalam komentar sepak bola memperlihatkan bahwa olahraga tidak hanya dimainkan dengan kaki, tetapi juga dengan bahasa. Melalui kata-kata, pertandingan diberi emosi, ritme, dan penilaian. Bahasa komentator ikut menentukan bagaimana sebuah laga dirasakan dan diingat oleh penonton.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image