Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Thaufan Arifuddin

Aksi Komunikasi Kontemporer: Obituari Jurgen Habermas

Kolom | 2026-03-17 16:15:48

Dunia intelektual global kehilangan salah satu pilar utamanya. Jürgen Habermas, sang raksasa teori kritis dari Mazhab Frankfurt, wafat pada Sabtu, 14 Maret, di usia 96 tahun.

Habermas adalah tokoh filsafat kritis yang mempengaruhi kajian komunikasi dan media. Sumber: Liputan6.com

Kepergiannya bukan sekadar hilangnya seorang pemikir, melainkan berakhirnya sebuah era di mana filsafat politik dan sosial digunakan sebagai instrumen emansipatif untuk membela demokrasi di tengah kepungan kapitalisme yang kian kompleks.

Sebagai pewaris utama tradisi pemikiran Adorno dan Horkheimer, Habermas tidak berhenti pada pesimisme. Melalui tiga karya monumentalnya, The Structural Transformation of the Public Sphere (1962), Knowledge and Human Interests (1968), dan The Theory of Communicative Action (1981), ia menawarkan peta jalan bagi masyarakat rasional untuk keluar dari belenggu dominasi melalui komunikasi yang jujur dan setara.

Dalam nalar Habermas, inti dari demokrasi adalah Ruang Publik (Public Sphere). Sejak bukunya yang terbit tahun 1962, ia membedah bagaimana individu-individu bebas berkumpul untuk mendiskusikan masalah publik secara rasional.

Ruang publik inilah yang menjadi rahim bagi nilai-nilai Pencerahan, di mana argumentasi terbaik menjadi satu-satunya otoritas yang sah, menggeser titah agama maupun politik yang otoriter.

Namun, Habermas juga memberikan peringatan dini yang sangat relevan dengan kondisi media hari ini: fenomena refeodalisasi ruang publik. Di era digital dan kontemporer, ruang publik sering kali mengalami pendangkalan akibat dominasi kepentingan ekonomi media dan manipulasi opini publik.

Apa yang kita lihat di media sosial hari ini sering kali bukan lagi diskusi sehat, melainkan panggung kebisingan yang dikendalikan oleh algoritma dan modal.

Relevansi Habermas semakin tajam ketika kita menelisik kaitan antara pengetahuan dan kepentingan (Knowledge and Human Interests). Ia menegaskan bahwa pengetahuan tidak pernah netral. Di balik ilmu alam ada kepentingan teknis, di balik humaniora ada kepentingan praktis, dan di balik teori kritis ada kepentingan emansipatoris, sebuah upaya untuk membebaskan manusia dari ilusi kolektif dan kekuasaan yang menindas.

Puncak kontribusi Habermas adalah tawarannya mengenai Aksi Komunikasi (Communicative Action). Ia melihat adanya pembelahan antara dunia-kehidupan (lifeworld), tempat kita berinteraksi secara tulus, dengan sistem yang digerakkan oleh uang dan kekuasaan.

Habermas mengkritik keras kolonisasi sistem terhadap dunia-kehidupan, di mana logika transaksi mulai merusak kehangatan komunikasi manusiawi.

Proyek besar Habermas adalah memulihkan rasionalitas komunikatif. Baginya, solusi atas krisis modernitas bukanlah kekerasan, melainkan aksi komunikasi di mana setiap peserta diskusi mencari konsensus berdasarkan kekuatan argumen, bukan paksaan. Inilah etika diskursus yang ia tawarkan sebagai fondasi masyarakat demokratis yang sehat.

Kejujuran intelektual adalah watak dasar Habermas. Meski mengkritik tajam para pendahulunya seperti Marx dan Weber, ia selalu mendudukkan argumen mereka dengan hormat sebelum memberikan antitesis.

Baginya, pemikiran adalah sebuah estafet peradaban yang harus disempurnakan dengan semangat kritik, bukan sekadar diruntuhkan tanpa solusi.

Komitmen anti-fasisme Habermas lahir dari trauma masa mudanya yang sempat dipaksa masuk ke dalam Hitler Youth pada 1939. Pengalaman hidup di bawah otoritarianisme Nazi menjadikannya pembela gigih demokrasi prosedural.

Ia percaya bahwa filsafat tidak boleh mengawang di menara gading; ia harus mampu berkomunikasi dengan publik secara jernih agar warga negara bisa memutuskan apa yang benar bagi mereka.

Bahkan di usia senja, ia tetap produktif. Melalui Also a History of Philosophy (2019), Habermas menunjukkan sisi pesimismenya terhadap manipulasi oligarki dan xenofobia yang kian menguat. Ia menyerukan perlunya senjata nalar yang lebih kuat untuk menghadapi tantangan kontemporer, membuktikan bahwa hingga nafas terakhirnya, ia tetap menjadi pengawal setia kewarasan publik.

Tentu, ia bukan tanpa cela. Sikapnya yang dianggap melunak terhadap kebijakan global tertentu misalnya protes terhadap genosida Israel di akhir hayatnya memicu perdebatan sengit di kalangan intelektual. Namun, kontroversi tersebut justru menegaskan posisi Habermas sebagai pemikir yang hidup dan terus diuji oleh realitas sejarah.

Kini, Jürgen Habermas telah tiada. Ia meninggalkan warisan berupa keyakinan bahwa dunia yang lebih baik bisa dibangun melalui dialog yang setara. Tugas kita sekarang adalah menjaga agar api komunikasi rasional tetap menyala di tengah kegelapan manipulasi informasi.

Selamat jalan, Habermas; suaramu akan terus bergema setiap kali manusia duduk bersama untuk mencari kebenaran melalui argumen yang kritis.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image