Mencari Jeda di Yogyakarta: Catatan Mahasiswa
Wisata | 2026-01-08 13:45:43Sebagai mahasiswa, perjalanan ke Yogyakarta bukan sekadar liburan, melainkan pelarian dari rutinitas kuliah yang padat. Dalam tujuh hari, saya menemukan keseimbangan antara ketenangan pantai dan keramaian Malioboro yang hangat. Artikel ini menceritakan pengalaman pribadi saya yang membuat Yogyakarta selalu ingin dikunjungi kembali.
Sebagai mahasiswa, perjalanan sering kali menjadi cara sederhana untuk melepas penat dari rutinitas kuliah yang melelahkan. Yogyakarta menjadi salah satu kota yang memberi pengalaman itu. Selama tujuh hari berada di sana, saya merasakan bahwa Yogyakarta bukan hanya soal destinasi wisata, tetapi juga tentang suasana yang tenang dan kehangatan yang terasa dekat.
Perjalanan saya dimulai dari pantai-pantai di Yogyakarta. Duduk menatap laut, mendengar suara ombak yang berirama, dan merasakan angin yang sejuk membuat pikiran terasa lebih ringan. Suasana alam yang masih asri, ditambah pepohonan rindang dan udara desa yang adem, menghadirkan ketenangan yang jarang saya temui di tengah padatnya kehidupan kota.
Setelah menikmati sisi alamnya, saya beralih ke pusat kota, tepatnya Malioboro. Kawasan ini selalu ramai, terutama saat malam hari. Aktivitas pedagang kaki lima, pejalan kaki yang berlalu-lalang, dan suasana kota yang hidup menciptakan pengalaman yang berbeda. Meski ramai, Malioboro tetap terasa akrab dan tidak membuat lelah—seperti teman lama yang selalu menyambut dengan hangat.
Bagi saya, Yogyakarta menawarkan keseimbangan yang jarang ditemukan. Pantai memberi ruang untuk menenangkan diri, sementara Malioboro menghadirkan dinamika kota yang hangat. Tujuh hari memang terasa singkat, tetapi cukup untuk meninggalkan kesan mendalam. Yogyakarta bukan sekadar tempat liburan, melainkan kota yang selalu membuat ingin kembali—sebagai mahasiswa yang rindu akan ketenangan dan kesederhanaan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
