Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Marta

Sastra dan Manusia Modern

Sastra | 2026-01-08 11:31:16

Kehidupan di zaman sekarang telah mengubah cara orang berpikir, dan berinteraksi. Perkembangan teknologi membawa berbagai kemudahan, namun juga menghadirkan tantangan baru. Berbagai informasi datang lebih cepat, dan orang-orang diharapkan tetap produktif. Dalam situasi ini, mahasiswa yang merupakan bagian dari generasi muda sering terjebak dalam kesibukan akademis dan sosial yang mengurangi waktu untuk berpikir secara mendalam. Dalam konteks ini, sastra sering kali dianggap tidak relevan pada zaman ini, karena dikenal sebagai sesuatu yang lambat, kompleks, dan tidak memberikan manfaat praktis secara langsung. Namun, di tengah kehidupan modern yang berjalan, peran sastra justru keberadaannya penting.

Sebagai pelajar, kita berada dalam budaya yang berkembang pesat, seringkali proses berpikir kritis dan merenungkan makna hidup terabaikan oleh tuntutan administrasi dan target-target jangka pendek. Sastra hadir sebagai pilihan alternatif yang memberikan kedalaman, bukan kecepatan, pemahaman, bukan sekadar hasil. Membaca sastra berarti meluangkan waktu untuk memahami kehidupan manusia secara umum sesuatu yang sering terlupakan dalam kehidupan modern.

Sastra mengajarkan mahasiswa untuk melihat kenyataan dengan cara yang lebih manusiawi. Melalui karakter-karakter nya, kita diajak untuk menggali konflik batin, kecemasan, dan harapan yang seringkali tidak dapat terucap dalam kehidupan sehari-hari. Isu-isu seperti keterasingan, kesepian di tengah keramaian, tekanan sosial, hingga krisis identitas menjadi tema yang sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa saat ini. Sastra tidak memberikan solusi yang cepat, tetapi memberi pemahaman bahwa kecemasan itu adalah bagian dari pengalaman manusia yang bersifat universal.

Di era modern, bahasa sering kali disederhanakan menjadi sarana komunikasi yang praktis dan efisien. Media sosial mendorong penggunaan bahasa yang ringkas, cepat, dan sering kali kurang mendalam. Dalam hal ini sastra berusaha melawan kecenderungan ini dengan menyajikan bahasa yang mendalam, simbolis, dan sarat makna. Melalui sastra, kita diajarkan untuk membaca di antara kata-kata, menginterpretasikan makna, dan mempertanyakan kenyataan. Keterampilan ini sangat penting dalam membangun sikap kritis terhadap berbagai argumen yang ada di masyarakat.

Namun, tak dapat dipungkiri bahwa posisi sastra di kalangan modern saat ini menghadapi berbagai tantangan serius. Minat baca yang rendah, budaya instan, serta fokus pendidikan yang lebih pada aspek teknis membuat sastra seringkali dianggap hanya sebagai pelengkap kurikulum. Sastra cenderung dibaca hanya untuk memenuhi tuntutan akademis, akibatnya sastra kehilangan potensi untuk berubah dan hanya menjadi teks yang tak hidup di ruang kelas.

Ironisnya, kehidupan saat ini yang dianggap mengancam keberadaan sastra justru memberikan kesempatan baru untuk perkembangannya. Platform digital memungkinkan untuk mendapatkan akses yang lebih mudah dan lebih luas terhadap karya sastra. Cerita pendek, puisi, dan esai sastra bisa ditemukan di berbagai media sosial lainnya. Banyak para sastrawan kini mulai menulis dan membagikan karya mereka secara bebas. Namun, kemudahan ini harus sejalan dengan pemahaman yang mendalam. Tanpa adanya pemikiran kritis, sastra bisa saja dipandang hanya sebagai hiburan atau tren sementara.

Sastra seharusnya dilihat sebagai elemen penting dalam proses pengembangan intelektual dan moral. Sastra dapat membantu meningkatkan kepekaan terhadap isu-isu sosial, menciptakan ruang untuk empati, dan meningkatkan pemahaman tentang kompleksitas kehidupan. Di dunia modern yang sering kali membiasakan ketidakadilan dan ketimpangan, sastra bisa berfungsi sebagai alat komunikasi untuk mempertanyakan dan menganalisis kenyataan tersebut. Banyak karya sastra muncul dari keresahan sosial dan menjadi saksi atas penderitaan yang dialami manusia.

Selain itu, karya sastra juga memiliki fungsi dalam menjaga harmoni antara pemikiran rasional dengan nilai kemanusiaan. Pendidikan zaman sekarang sering kali lebih fokus pada aspek kognitif dan keterampilan teknis, sementara nilai-nilai emosional dan etika kurang diperhatikan. Sastra mengisi kekurangan ini dengan menawarkan pengalaman estetis dan emosional yang memperkaya pemikiran pelajar. Melalui sastra, mahasiswa belajar bahwa pendidikan bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga melibatkan pemahaman dan perasaan.

Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi gangguan, sastra memberikan peluang untuk memperlambat tempo. Membaca karya sastra memerlukan kesabaran dan keterlibatan emosional, dua hal yang semakin sulit ditemukan di era digital ini. Namun, melalui proses tersebut, kita dapat menemukan kembali makna belajar sebagai perjalanan menuju kedewasaan, bukan sekadar pencapaian di bidang akademik.

Pada dasarnya, sastra tidak berlawanan dengan modernitas. Ia berperan sebagai partner yang kritis yang memperingatkan bahwa perkembangan teknologi dan ilmu harus sejalan dengan pertumbuhan kemanusiaan, sastra bukan hanya sekadar bahan bacaan, namun juga tempat berpikir yang membantu dalam memahami diri sendiri, komunitas, dan dunia. Dalam kehidupan modern yang begitu cepat dan penuh persaingan, sastra menjadi pengingat bahwa berpikir, merasakan, dan merenungkan adalah hal penting dalam proses menjadi manusia yang utuh.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image