Pascasatu Tahun Wacana Damai, Palestina Masih Dijajah
Politik | 2026-01-06 11:21:02
Setahun Penyelesaian Palestina: Penuh Konspirasi Jahat dan Jauh dari Harapan Pembebasan
Sudah setahun dunia internasional menggulirkan berbagai wacana “penyelesaian Palestina”. Namun alih-alih mendekatkan pada keadilan, realitas di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Penjajahan Israel semakin menguat, wilayah Palestina terus tergerus, sementara penderitaan rakyat Gaza dan Tepi Barat seolah dikeluarkan dari agenda utama dunia.
Situasi ini menegaskan satu hal penting: yang gagal bukan hanya kebijakan, tetapi paradigma global dalam memandang konflik Palestina.
Fakta Lapangan: Penjajahan Terus Berjalan di Balik Wacana Perdamaian
Di tengah narasi diplomasi dan gencatan senjata, Israel terus melakukan ekspansi wilayah secara sistematis. Sebanyak 19 pemukiman baru dibuka di Tepi Barat, menandai kelanjutan kebijakan aneksasi yang terang-terangan melanggar hukum internasional.
Sementara itu, Gaza masih menghadapi genosida, pelaparan massal, dan kehancuran infrastruktur sipil. Bahkan pasca gencatan senjata, serangan tetap terjadi dalam berbagai bentuk. Namun tragedi kemanusiaan ini kerap tenggelam dari sorotan global, digantikan konferensi dan pernyataan politik tanpa dampak nyata.
Berbagai skema seperti solusi dua negara, paket kebijakan ala “20 poin Trump”, hingga gencatan senjata, semakin tampak sebagai ilusi penyelesaian. Semua wacana tersebut gagal menghentikan penjajahan dan justru memberi ruang bagi Israel untuk mengokohkan penguasaan wilayah Palestina.
Analisis: Strategi Israel dan Mandulnya Tatanan Dunia
Pertama, Israel menunjukkan konsistensi strategi untuk menguasai seluruh Palestina, baik melalui kekuatan militer, tekanan politik, maupun manipulasi hukum internasional. Tidak ada indikasi bahwa Israel pernah berniat berhenti pada batas tertentu.
Kedua, Israel memperlihatkan arogansi geopolitik, bertindak seolah berada di atas hukum internasional. Dengan dukungan kekuatan besar dunia, Israel mampu melakukan kejahatan kemanusiaan tanpa konsekuensi yang sepadan.
Ketiga, permusuhan ideologis Zionisme terhadap Islam dan umat Islam bukan isu insidental. Palestina hanyalah episentrum dari proyek politik yang lebih luas, yang menjadikan dunia Islam sebagai objek dominasi dan tekanan.
Keempat, dunia internasional terbukti tidak memiliki kemampuan efektif untuk menghentikan kejahatan tersebut. Resolusi PBB, hukum humaniter internasional, dan kecaman moral berulang kali gagal menjadi alat perlindungan bagi rakyat Palestina. Gaza menjadi simbol runtuhnya klaim “tatanan dunia berbasis keadilan”.
Perspektif Islam: Membaca Palestina Melampaui Diplomasi Semu
Dalam pandangan Islam, kerusakan yang dilakukan oleh kekuatan zalim di muka bumi bukanlah fenomena baru. Al-Qur’an berulang kali mengingatkan tentang bahaya kesombongan kekuasaan dan kerusakan sistemik yang ditimbulkan oleh pihak yang melampaui batas.
Islam juga memberikan panduan tegas dalam soal loyalitas politik dan ideologis (wala’). Umat Islam diarahkan untuk tidak menggantungkan nasib dan masa depan mereka pada kekuatan yang secara nyata memusuhi dan menindas kaum muslimin. Prinsip ini merupakan bagian dari kemandirian politik umat, bukan seruan kebencian.
Sejarah Islam, khususnya dalam sirah Rasulullah ﷺ, menunjukkan bagaimana negara Islam bersikap tegas terhadap pihak yang memusuhi atau mengkhianati perjanjian. Ketegasan ini merupakan kebijakan kenegaraan untuk melindungi umat dan menjaga keadilan, bukan tindakan reaktif atau emosional.
Pembebasan Al-Quds oleh Shalahuddin al-Ayyubi juga menjadi bukti historis bahwa perubahan nasib Palestina selalu terkait dengan kekuatan politik umat, bukan sekadar diplomasi simbolik.
Kesimpulan: Palestina dan Kegagalan Solusi Global
Setahun wacana penyelesaian Palestina justru mengungkap kenyataan pahit: solusi yang ditawarkan dunia hari ini tidak dirancang untuk membebaskan Palestina, melainkan mengelola penjajahan agar tampak “beradab”.
Selama konflik Palestina didekati dengan paradigma yang sama—mengandalkan negosiasi tanpa kekuatan dan hukum tanpa penegakan—maka pembebasan akan terus menjauh. Palestina bukan hanya persoalan kemanusiaan, tetapi persoalan politik global dan arah kepemimpinan dunia.
Bagi umat Islam, Palestina adalah cermin besar tentang pentingnya kemandirian sikap, kejelasan posisi ideologis, dan keberanian mengkritisi sistem global yang gagal melindungi yang tertindas. Tanpa perubahan paradigma, penderitaan Palestina akan terus menjadi agenda yang ditunda, sementara penjajahan berjalan tanpa hambatan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
