Asia Timur dan Ujian Multilateralisme di Era Rivalitas Kekuatan Besar
Edukasi | 2026-01-05 13:24:24Asia Timur saat ini menempati posisi strategis dalam politik global modern karena letaknya yang berada di persimpangan kepentingan ekonomi dan militer dua kekuatan besar, Amerika Serikat dan Tiongkok. Dinamika hubungan internasional di kawasan ini sangat dipengaruhi oleh rivalitas strategis antarnegara besar, yang berdampak tidak hanya pada stabilitas keamanan regional, tetapi juga pada keberlangsungan institusi kerja sama multilateral yang telah lama dibangun oleh negara-negara di kawasan.
Multilateralisme hadir sebagai upaya kolektif untuk menghadapi ketidakpastian tersebut, meskipun efektivitasnya kerap dipertanyakan di tengah intensitas persaingan yang semakin meningkat di Asia Timur. Tertulis dalam jurnal yang diterbitkan oleh BIISS Journal (2015), struktur regional dan peran institusi kawasan merupakan faktor penting dalam memahami kontestasi ini, sebagaimana terlihat dalam pembentukan forum seperti ASEAN+3, East Asia Summit, dan mekanisme lain yang terus berinteraksi dengan dinamika perebutan pengaruh kekuasaan.
Rivalitas Kekuatan Besar dan Dampaknya terhadap Asia Timur
Persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok menjadi pusat dari kontestasi kekuatan besar di Asia Timur. Rivalitas ini tidak terbatas pada aspek militer, melainkan juga meluas ke ranah ekonomi, teknologi, serta perebutan pengaruh politik di kawasan. Sebagai contoh, inisiatif kerja sama perdagangan dan investasi yang dijalankan Tiongkok melalui ASEAN memperlihatkan pola pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan model hubungan yang ditawarkan Amerika Serikat. Sementara itu, negara-negara ASEAN kerap menerapkan strategi hedging untuk mempertahankan otonomi politik mereka, di tengah tekanan dari kedua negara adidaya yang berupaya membentuk tatanan regional sesuai dengan kepentingan masing-masing (Beeson, 2022).
Multilateralisme sebagai Instrumen Stabilitas Kawasan
Dalam studi hubungan internasional, multilateralisme dipahami sebagai bentuk kerja sama yang memungkinkan negara-negara mengelola konflik serta membangun kepercayaan melalui seperangkat aturan dan institusi bersama. Pendekatan liberalisme institusional menyoroti peran organisasi regional, seperti ASEAN+3 dan East Asia Summit, sebagai sarana untuk menurunkan ketegangan dan mendorong komunikasi antarnegara (BIISS Journal, 2015). Meskipun mekanisme tersebut tidak selalu memiliki kekuatan hukum yang mengikat, forum-forum regional tetap berfungsi sebagai wadah penting bagi negara-negara Asia Timur dalam mengelola persaingan antar kekuatan besar sekaligus menjaga kepentingan keamanan dan ekonomi secara kolektif.
Keterbatasan Multilateralisme Asia Timur
Meskipun multilateralisme sering dipandang sebagai pendekatan ideal untuk meredakan konflik regional, pengalaman Asia Timur memperlihatkan adanya banyak keterbatasan. Forum kawasan seperti ASEAN Regional Forum (ARF) maupun ASEAN+3 belum mampu memberikan pengaruh besar terhadap perilaku kekuatan utama di luar kepentingan mereka sendiri. Dalam praktiknya, negara-negara adidaya kerap membentuk aliansi atau forum alternatif untuk mendorong agenda masing-masing, sehingga lembaga multilateral di kawasan sering kehilangan relevansi dalam konteks strategi kekuatan besar. Situasi ini menunjukkan bahwa realpolitik tetap menjadi faktor dominan dalam hubungan antarnegara, meskipun terdapat upaya untuk memperkuat kerja sama multilateral.
Masa Depan Multilateralisme di Asia Timur
Masa depan multilateralisme di Asia Timur ditentukan oleh sejauh mana negara-negara di kawasan mampu membangun mekanisme kerja sama yang lebih inklusif dan efektif. Terdapat pula pandangan bahwa peran negara-negara menengah (middle powers) perlu ditingkatkan guna menjaga keseimbangan antara kekuatan besar sekaligus memperkuat kemandirian strategi regional. Dilansir dari East Asia Forum (2022), beberapa pakar hubungan internasional menilai bahwa langkah ini merupakan pendekatan yang paling realistis untuk memperkuat multilateralisme di tengah rivalitas yang semakin tajam antara Amerika Serikat dan Tiongkok.
Penutup
Multilateralisme tetap menjadi pilar penting dalam studi hubungan internasional dan masih relevan bagi Asia Timur, meskipun harus berhadapan dengan berbagai hambatan struktural yang muncul akibat rivalitas kekuatan besar. Keberlanjutan kerja sama multilateral di kawasan akan sangat bergantung pada komitmen negara-negara untuk memperkuat forum regional, meningkatkan kapasitas tawar bersama, serta menemukan titik kompromi antara kepentingan nasional dan kepentingan kolektif. Hal ini menegaskan bahwa stabilitas kawasan tidak semata ditentukan oleh dominasi satu negara adidaya, melainkan oleh kemampuan negara-negara Asia Timur untuk mengatur langkah secara strategis dalam sistem internasional yang penuh kompleksitas.
DAFTAR REFERENSI
BIISS Journal. (2015). ASEAN+3+3+2: Explaining Trends of US-CHINA Regional
Competition in the Asia-Pacific. BIISS Journal, Vol. 36, No. 4.
https://www.biiss.org/storage/uploads/pdfs/4feec819802b78361a5f3321e98146ce.pdf
[Diakses pada 29 Desember 2025]
Mark Beeson. (2022). Decentered? ASEAN's Struggle to Accommodate Great Power
Competition. Global Studies Quarterly, Vol. 2, Issue 1.
https://doi.org/10.1093/isagsq/ksab044 [Diakses pada 29 Desember 2025]
Shin-wha Lee. (2022). Middle power conundrum amid US–China rivalry.
https://eastasiaforum.org/2022/01/01/middle-power-conundrum-amid-us-china-rivalry/
[Diakses pada 29 Desember 2025]
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
